Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 10


__ADS_3

Gue paling suka liat loe makan deh, lahap, cepet tapi ga berantakan." Celetuk Laras sebelum menyuap bakso ke dalan mulutnya.


"Hm?" Mia menelan dulu makanannya. "Maksud loe?" Sambil menutup mulut dengan punggung tangannya.


"See... baru gue ngomong lo udah ngeliatin bedanya cara makan lo sama gue." Laras berkata sambil makan.


"Jelas beda lah, dia tau klo makan tuh ga boleh ngomong. Makan dulu sampe habis biar ga ke selek." Haris sudah selesai dengan makanannya.


"Gue ga tanya lo!" Laras emosi, kenapa Haris senang sekali menyela dirinya.


Mia menaruh sendok dengan posisi menelungkup sehabis makan. Kemudian mengusap bibirnya dengan tisu baru setelah itu dia menyeruput es teh manis dengan hikmat hingga tandas. Laras dan Haris sampai terdiam menatap Mia dengan tatapan sulit diartikan.


"Kok pada diem?" Mia memandang heran 2 temannya itu.


"Ajarin gue makan kaya loe!" Laras masih mengunyah baksonya.


Dengan senyum manis bikin diabetes Mia mengangguk "Iya, nanti gue ajarin. Tapi sebelum itu lo abisin dulu tuh bakso!" Mia menunjuk bakso yang masih banyak di mangkuk Laras.


Laras nyegir jenaka, terlalu fokus melihat Mia membuat dia mengabaikan makanannya sendiri.


Haris menatap Mia lembut, Mia tidak berubah menurutnya. Sejak Sekolah Dasar Haris sudah menyukai Mia, saat itu tubuh Mia masih kurus. Haris belum lupa cantiknya Mia saat itu, memasuki SMP mereka beda sekolah. Tanpa diduga saat SMA dia bisa bertemu dengan gadisnya, bahkan sekelas.

__ADS_1


Waktu bertemu pertama kali Haris hampir tidak mengenali Mia dengan tubuh yang gemuk. Tapi senyuman Mia membuat ia teringat, sampai sekarang Haris tidak tau bagaimana Mia bisa se gemuk ini dan alasan mengapa Mia tidak mau diet.


Bukan kah semua gadis ingin tubuh ideal?, bahkan rela melakukan operasi untuk mencapai itu semua. Latar belakang keluarga Mia sebagai penerus Adinata Group memudahkan Mia melakukan apapun jika ia mau. Tapi tidak, seolah nyaman dengan apa yang ia miliki saat ini. Atau memang dia mensyukurinya.


"Kenapa lo gak diet?" Haris akhirnya menanyakan hal yang selalu membuatnya penasaran.


"Hah?" Mia mengerjapkan mata mendengar pertanyaan Haris.


"Iya, kenapa lo ga diet? Bukannya semua cewe pengennya punya badan langsing, sexy?"


"Apa lo terganggu dengan keadaan gue sekarang?" Pancing Mia.


"Gak sama sekali, loe tetep cantik meski gemuk." Malah ngegemesin asal lo tau. Haris keceplosan, Laras sampai melongo mendengar penuturan Haris.


"Ng-nggak, gue cuma bilang kenyataan."


"Jadi lo gak suka Mia?"


"Siapa bilang?"


"Jadi?" Laras senang sekali melihat ekspresi gugup dengan rona merah di wajah Haris.

__ADS_1


Bel berbunyi, memberikan kesempatan untuk Haris pergi meninggalkan pertanyaan menjebak Laras.


"Udah masuk, gue duluan ke kelas." Haris segera beranjak dari sana dan melesat pergi meninggalkan Mia dan Laras yang cekikikan.


"Ketu suka sama lo! Gue udah tau dari pertama kita sekelas, dia selalu natap lo lembut." Seloroh Laras sambil berjalan ke arah kelas


"Apaan seh, gak lah. Gak ada yang suka sama cewe gendut kaya gue. Gue juga udah nyerah sama si Om, gue cuma mau liat dia sekarang kaya apa. Itu aja!"


"Kok lo ngomongnya gitu? Lo minder sekarang?"


Mia menggedikkan bahu. "Gak tau, mungkin."


"Jangan dengerin orang yang iri sama lo, jadiin kekurangan lo jadi kelebihan. Bukannya itu yang sering lo bilang ke gue. Kenapa lo sekarang begini?"


Mia hanya tersenyum, ia bahagia mempunyai Laras sebagai sahabatnya.


"Gue tau, mungkin ini effect loe kebanyakan belajar. Makanya hari ini kita harus refreshing ke Mall, Ok!" Laras merangkul membujuk Mia agar tidak murung.


"Ok, gue mau borong coklat lagi." Mia langsung berbinar ketika ingat coklat.


"Gitu donk... Jangan melow lagi, gak cocok sama lo." Ledek Laras.

__ADS_1


Please vote, rate and likenya yach!


Tinggalkan jejakmu dengan komentar agar aku lebih baik lagi, enjoy!


__ADS_2