Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 42


__ADS_3

Cafe***


“Siapa yang pilih Cafe ini seh?” Mia menggerutu.


Laras mengacungkan tangannya. “Gue! bukannya ini tempat kesukaan loe?”


“Not Anymore!” ketus Mia bersidekap menaruh tangannya di bawah dada.


Haris melotot ke arah Laras, Laras mengedikan bahunya acuh. Selang beberapa menit Farel baru kembali dari toilet, ia mengerutkan kening melihat Mia yang cemberut. Sungguh menggemaskan!


Bila tidak ada Haris dan Laras mungkin Farel sudah mengecupnya. Itu hanya khayalan, karena kenyataannya dia tidak cukup berani untuk itu. (Poor Farel).


“Well, whatever! Karena udah disini kita nikmati traktiran Haris.” Mia tiba-tiba tersenyum membuat suasana kembali ceria.


“Ok, mau pada pesen apa?” Kembali, Laras berperan menjadi kasir Mcdonald.


Bibir Farel berkedut menahan senyum melihat Mia Bersama teman-temannya. Interaksi mereka membuat Farel nyaman tidak seperti saat ia bersama teman gengnya.


“Jangan yang mahal-mahal!” Haris mendelik pada Laras yang menyeringai.

__ADS_1


“Easy boy!” Farel menengahi. “Gue masih punya Black Card,” Dengan sombong memamerkan kartu dari dompet.


“Mia punya kartu itu 5 biji asal lo tau,” celetuk Laras hingga Mia menyikut tangannya.


Dua pria muda itu hanya bisa menganga lebar, terlihat gurat merah di pipi mereka menandakan malu. Farel menyombongkan diri tidak pada tempatnya. Semua orang seolah lupa siapa Mia karena pribadinya yang tidak mau mencolok.


Dia selalu membawa uang cash mengetahui tidak semua tempat menerima kartunya. Sekaligus menekan respon orang lain pada dirinya jika ia mengeluarkan kartu tersebut. (Banyak penjilat, watak asli seseorang kadang keluar saat melihat uang).


“It’s Ok, kita disini mau makan! Bukan buat pamer berapa kartu yang kita punya,” Mia berusaha merubah suasana akward ini.


Para pria hanya mengangguk tanpa berani mangangkat suara. Masih setia pada mode malu mereka. (malu-maluin).


Tidak lama Laras pun kembali dan duduk di samping Mia dengan bergelayut manja, membuat 2 pria di depannya tersenyum kecut karena iri.


Mia terlihat gelisah, ia menatap temannya bergantian satu persatu membuat Laras, Haris dan Farel bertanya-tanya.


“Lo kenapa? Kayak gak enak gitu,” Laras akhirnya bersuara sambil menumpu siku di meja.


Sambil menjalin jari-jari tangannya, Mia menundukkan wajah sebelum akhirnya mendongak setelah menghela nafas pelan. “Kenaikan kelas ini, gue bakal pindah sekolah,”

__ADS_1


Hening, tidak ada yang bersuara. Masih belum mencerna atau lebih tepatnya tidak percaya dengan apa yang Mia katakan. Mungkin mereka salah dengar.


“Ap-“ Farel berusaha mengoreksi.


“Minggu besok gue pindah, ke Swiss,” Mia berkata dengan lirih. Berat untuknya meninggalkan tanah air, terlebih pada sahabatnya Laras. Haris yang biasanya selalu berceloteh sampai diam membisu.


"Apaan?!” Laras memekik, dia memandang tidak percaya. Pindah? Swiss? Laras sampai berdiri dari duduknya mendengar berita mengejutkan itu.


Dengan lembut Mia mengusap punggung tangan Laras yang mengepal, menarik kembali untuk duduk. “Bisa dengerin dulu sampe selesai? Ini gak mudah buat gue… lo pasti tau itu.”


Genangan air terlihat di pelupuk mata Laras, dia tidak menyangka akan berpisah dengan sahabatnya dengan begitu cepat. Waktu mereka bahkan hanya seminggu lagi. “Apa ini berhubungan dengan Om sialan itu?” suaranya tercekat.


Om sialan? Fu*k! Haris mengumpat dalam hati.


"Laras please… lo tau gue. Ini berat…” suara Mia parau hingga tubuhnya bergetar.


“Oh Mia, Don’t…” Laras tidak bisa berkata-kata saat isak tangis Mia lolos. Laras segera merangkulnya dalam pelukan simpati. Menyalurkan semangat dalam setiap usapan lembut ditubuh gadis itu, memberitahunya bahwa ia merasakan apa yang Mia rasakan.


Please rate, vote dan likenya yach!!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2