
Kediaman Sastroadji
Keesokan harinya Mia bangun kesiangan, ia mencari keberadaan Angga namun tidak ada. Ternyata pria itu sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Mia merutuki diri yang tidak bisa bangun pagi, entah mungkin akibat pergulatannya kemarin malam menguras energinya hingga membuat tubuhnya lemas.
Gadis itu menunduk di meja makan, Nyonya Anggun menghampiri menantunya.
"Pengantin baru kok melamun?" goda Nyonya Anggun.
"Eh, Tante," Mia mendongak malu-malu.
"Jangan panggil Tante donk, panggil Mama ya," pinta Nyonya Anggun.
Mia mengangguk sambil tersenyum. "Iya, Mama."
Mata wanita paruh baya itu berbinar, gadis itu memang memiliki senyuman yang manis. Pantas anaknya tergila-gila pada Mia. "Kamu sudah sarapan?"
"Belum,"
"Ya ampun, kemana Bik Surti? Masa kamu belum makan?" pekik wanita itu setengah histeris.
Mia melihat respon berlebihan mertuanya menjadi tidak enak. "Ah, gak apa-apa Ma. Tadi Bik Surti ijin ke pasar beli persediaan di kulkas yang udah mau habis," jelas Mia agar mama mertuanya tenang.
"Oh gitu, coba Mama cek ada apa di kulkas," wanita itu beranjak pergi untuk membuka kulkas. Ada beberapa bahan seperti telur, susu dan beberapa sayuran. "Mia, kamu suka masak?"
"Sedikit Ma, aku suka ikut rusuhin Mommy di dapur," ucapnya membuat Nyonya Anggun terkekeh.
"Baik, kita bikin omelete telur aja. Mama gak mau menantu Mama pingsan karena gak sarapan," candanya.
Mia senang, dirinya diterima oleh Nyonya Anggun selaku ibu dari suaminya. Pasalnya, sebelum menjalin hubungan dengannya Angga telah dijodohkan dengan Hani. Wanita pilihan Nyonya Anggun.
🌷🌷🌷
Sastroadji Group
Bara memandang heran pada Tuannya, seharusnya pria itu cuti pasca menikah. Mengapa malah ada di kantor pagi-pagi buta, Bara hampir berteriak saat melihat Angga duduk manis di kursi kebesarannya.
"Tuan, kenapa hari ini masuk? Bukannya Tuan sudah mengajukan cuti selama 1 minggu?" tanya Bara.
"Sebaiknya tidak usah, aku harus bekerja lebih giat agar perusahaan semakin maju berkembang," jawab Angga asal.
Bara tau semua yang dikatakan Tuannya tidaklah benar. Jika memang demikian, mengapa pria itu bisa meninggalkan perusahaan selama 1 tahun hanya untuk mengejar gadis punjaan. Bara melihat gelagat aneh itu, memilih bertanya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi Tuan? Barangkali saya bisa bantu,"
"Tidak ada apa-apa Bara, hm bisa tolong berikan aku jadwal meeting hari ini?" kilah Angga. Pria itu tidak mau merepotkan Bara dengan masalah rumah tangganya yang baru 2 hari itu.
__ADS_1
Bara menghela nafas, ia memilih diam dan melaksanakan semua perintah Tuannya. Pria itu keluar ruangan Angga menuju meja Yanti.
"Selamat pagi Tuan Bara," panggil Yanti sambil tersenyum manis. Gadis itu selalu ingin menggoda tunangannya yang semakin hari semakin menggemaskan.
Kok jadi genit gini seh aku? batin Yanti.
"Selamat pagi, bisa kamu berikan saya jadwal meeting untuk Tuan Angga?"
"Ok siap, Tuan. Eh? Tuan Angga masuk kerja Mas?" Yanti keceplosan memanggil Bara Mas saat di kantor. Pria itu mengulum senyum, tidak apa jika hanya sedang berdua.
Gadis itu menutup mulutnya sungkan. "Eh maaf, Maksudnya Bos Angga masuk kerja Tuan?"
Bukannya menjawab, Bara malah menyelipkan rambut Yanti ke telinganya membuat gadis itu bersorak dalam hati.
Duh gusti, gimana gak mau nyium neh cowok coba. Sikapnya bikin dag dig dug.
"Antar berkasnya ke ruangan ya, saya tunggu." Bara melenggang pergi setelah membuat jantung Yanti melompat tidak karuan.
🌷🌷🌷
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu mengalihkan atensi Angga pada laptopnya. "Masuk!" ucapnya agak keras.
"Kapan kalian menikah?" tanya Angga tanpa basa basi.
Yanti yang mendapat pertanyaan itu mendadak kikuk, matanya menatap Bara seolah meminta bantuan untuk menjawab.
"Secepatnya Tuan," sahut Bara.
"Menikahlah seminggu lagi, aku yang akan mengurus pernikahan kalian." Pinta Angga.
Bara merasa tidak enak, ia masih sanggup mengurus pernikahannya sendiri. Dia pun tidak ingin merepotkan Tuannya.
"Tap-"
"Ini perintah, sepulang dari kantor hari ini sebaiknya kamu melamar Yanti beserta orang tuamu," sela Angga. Bara hanya bisa menurut, percuma jika harus berdebat dengan pria pemaksa macam Angga. Tidak akan menang.
Sedangkan Yanti, ia bahagia bukan main. Akhirnya penantian panjangnya selama 1 tahun akan terbayar sudah. Bara akan menjadi suaminya, berbagai pikiran nakal mengisi kepalanya.
Bara merinding melihat Yanti yang senyum-senyum sendiri seusai menyerahkan berkas, gadis itu sempat mengerlingkan mata padanya sebelum kembali ke mejanya.
"Untung cinta," gumam Bara.
🌷🌷🌷
__ADS_1
Kediaman Sastroadji
Malam itu Mia berdiri di balkon kamarnya, menunggu sang suami pulang dari kantor. Ada sesuatu yang mengganjal hatinya, namun ia tidak tau apa itu.
Selang beberapa lama lengan kekar melingkar di perutnya, hembusan nafas menerpa bahu Mia disertai kecupan di sana. Mia sempat terhenyak sesaat sebelum tau siapa pelaku yang memeluknya dari belakang.
"Kenapa belum tidur? Sudah malam," Angga menaruh kepalanya pada ceruk leher Mia hingga membuat gadis itu kegelian.
"Sengaja nungguin orang yang ninggalin aku pagi-pagi," sarkas Mia. Ia menahan geli agar tawanya tidak lolos.
Angga membalik tubuh Mia menghadapnya. "Maaf, tadi ada kerjaan yang gak bisa ditunda," bohongnya.
"Sepagi itu?" tanya Mia penuh selidik.
Angga hanya bisa mengangguk, ia belum bisa menjelaskan semuanya. Pria itu sedang dalam kegamangan hati.
Mia menghela nafas, ia tidak bisa marah. Entah mengapa selalu luluh melihat raut wajah nelangsa suaminya itu. Gadis itu mengusap wajah prianya yang dinikmati Angga sambil memejamkan mata.
"Kalo ada apa-apa cerita, dalam sebuah hubungan harus ada kepercayaan. Aku yakin kamu lebih tau itu," ucap Mia serius.
"Kamu?" kekeh Angga.
"Habis panggil apa donk?" rajuk Mia menahan malu. "Dipanggil Om, gak mau."
"Terserah kamu mau manggil apa, selain Om,"
"Angga," ucap Mia pelan.
Angga merapatkan tubuhnya, meraba bongkahan sekal bokong istrinya. "Aku paling gak tahan kalo kamu manggil nama aku," ia meremas sambil mengecupi rahang Mia.
Mata Mia membulat, ia merasakan sesuatu yang mengganjal didepan pusat tubuhnya.
"Bikin aku pengen nidurin kamu," tambah Angga. Kata vulgar yang Angga lontarkan membuat wajah gadis itu merah padam. Ia pun merasakan sesuatu yang basah di bawah sana.
"Masih sakit?" tanya Angga dengan tatapan penuh gairah.
Mia menggeleng. Senyuman Angga mengembang kala mengetahui hal itu. Ia membawa istrinya ke dalam kamar dan merebahkan Mia di atas ranjang.
"Aku bikin kamu gak bisa jalan besok," ucapnya dengan seringai.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1