
Kediaman Sastroadji.
Tampak 3 orang pria sedang membicarakan hal serius diruang keluarga. Nyonya Anggun tidak tampak batang hidungnya karena sedang menghadiri acara amal yang ia ikuti selama sebulan ini.
"Jadi begini, saya minta Pak Tarjo dan kamu Bara untuk memata-matai Jack Adinata mulai besok! Ia pasti akan menyusul ke Swiss, saat itu terjadi saya harap kalian bisa mengikutinya hingga mendapatkan alamat tempat ia tinggal." Ucap Angga serius.
Pak Tarjo terperangah, dirinya harus ke Swiss. Dimana pula itu? Bara tidak kalah terkejut karena mendapatkan tugas yang mengharuskan ia jauh dari Tuannya. Ibarat binatang, Bara itu seperti anak ayam dan Angga induknya. Selalu bersama.
"Sa-Saya ke Swiss Bos? Jauh gak Bos? Klo naik Bis berapa kali transit?" Seloroh Pak Tarjo membuat Angga mau tidak mau tergelak. Bara hanya memutar bola mata malas.
Dasar norak!
"Tidak naik Bis Pak, tidak akan sampai karena kita melewati Lautan!" Angga mengatur nafas akibat tawanya. "Hm, kita naik pesawat Pak," Jelas Angga.
Pak Tarjo membulatkan matanya, naik pesawat? Seumur hidup, ia tidak pernah menaikinya. Bahkan melihatnya hanya saat pesawat itu melewati rumahnya. Berapa ongkosnya? Dia benar-benar tidak mempunyai uang untuk naik pesawat.
"Ma-maaf Bos, ongkosnya saya tidak punya." Ucap Pak Tarjo lirih, ia menunduk merasa menyesal.
"Pak Tarjo tidak usah memikirkan apapun! Semua sudah disiapkan. Tinggal Bapak melaksanakan tugas. Bapak tidak perlu ngojek lagi, karena saya akan membayar sesuai kinerja Bapak." Ucapan Angga membuat Pak Tarjo berkaca-kaca. Mimpi apa semalam hingga bisa bertemu dengan Pria di depannya ini. Sudah dibayar mahal, dipekerjakan juga.
Pria itu tampak mengusap sudut matanya yang basah karena terharu. "Terima Kasih Bos!"
"Jangan panggil Bos, panggil Tuan!" Bara menginterupsi, Angga melotot pada Bara yang acuh.
"Aku harap kamu bisa memperbaiki sikap mu, Bara! Karena ke depannya kamu akan terus bekerja sama dengan Pak Tarjo." Bara menoleh dengan raut wajah tak suka.
"Bisa ganti saya Tuan, yang lain bisa menemaninya!" Sanggah Bara.
"Kamu orang kepercayaan ku, apa kamu tidak mau menolong ku?" Bara mengatupkan bibirnya rapat. Tentu saja ia ingin membantu Tuannya. Apapun itu. "Dan Pak Tarjo, saya mempercayai Bapak bisa mengemban tugas ini." Angga tersenyum pada Pak Tarjo.
Bapak Tarjo mengangguk mantap namun kemudian ia mengerutkan kening. "Ngomong-ngomong kita ke Swiss ngapain? Dan siapa Jack Adinata Bo-eh Tuan?"
Ternyata, selama 2 jam membicarakan rencana Pak Tarjo belum tau tujuan mereka ke Swiss. Bara menepuk dahinya frustasi, Angga meminta Bara mengambil sesuatu di laci ruang kerjanya.
__ADS_1
Bara kembali membawa 2 majalah di tangannya. Batinnya berkecamuk, ternyata Tuannya selalu memantau Tuan Jack Adinata. Angga mengambil majalah itu dan menyodorkannya pada Pak Tarjo.
"Ini yang namanya Jack Adinata, seorang CEO di Adinata Group. Perusahaannya bergerak dibidang real estate, dan sudah merambah sampai luar negeri." Tunjuknya pada cover majalah bisnis.
Mata Pak Tarjo berbinar, orang yang ia pandang dalam majalah bukan orang sembarangan. Sungguh lingkup Tuannya luar biasa.
"Dia adalah ayah dari gadis yang aku kejar tadi! Mia Sophia Adinata." Angga tidak memberi gambar Mia, karena ia tidak mau Pak Tarjo melihat Mia dalam keadaan sexy menurutnya. Foto satu-satunya yang Angga punya.
Tampak Pak Tarjo mangut-mangut mengerti, lalu ia bertanya. "Foto Nona Mianya mana?"
Ekspresi Angga menegang karena diminta untuk memperlihatkan foto Mia pada Pak Tarjo. "Ekhem! Nanti liat langsung aja pak." Angga berdehem membuat Bara terkikik geli.
Mata Angga mendelik kesal pada Bara yang menahan tawa. "Maaf Tuan!" Bara menunduk namun bibirnya masih mengulas senyum tipis.
Angga berdiri sambil menepuk pahanya. "Baik, sudah mengerti tugas kalian?" Tanya Angga pada Bara dan Pak Tarjo yang mengangguk.
"Sebaiknya Bapak pulang ke rumah untuk meminta ijin dinas selama seminggu pada istri Bapak." Pria itu memasukkan tangan pada saku celananya dan menoleh pada Bara. "Antarkan Pak Tarjo pulang! Agar istrinya percaya." Jelas Angga. Mau tidak mau Bara melaksanakan titah Tuannya dengan berat hati.
Mereka berdua pun pamit pada Tuannya sebelum meninggalkan kediaman Angga.
🌷🌷🌷
Pak Tarjo asli orang Jawa meski tidak pernah pulang kampung karena tertahan biaya ongkos. Ongkos ke Jawa 3x lipat dari pada ke kampung istrinya, ia harus berpikir 10x jika ingin ke sana. Dibanding untuk ongkos, lebih baik untuk biaya anak perawannya yang masih kuliah.
Pak Tarjo tampak mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam yang sedikit ketat. Bagaimana tidak? Ia memakai baju anak gadisnya karena tidak mempunyai pakaian yang layak untuk bepergian. Ia tidak mau membuat malu Tuannya, di tangannya terdapat tas lusuh berisi beberapa potong pakaian ganti.
Bara yang melihat penampakan Pak Tarjo menyipitkan mata. "Bapak nyaman mengenakan itu?" Tanya Bara.
Pak Tarjo tampak tersenyum malu-malu, mengusap tengkuknya yang tidak gatal sambil menunduk. "Ini pakaian terbaik saya, Tuan Bara." Jawabnya.
"Panggil saya Bara saja, saya bukan Tuan Bapak!" Ucapnya ketus. Pak Tarjo sama sekali tidak tersinggung, ia tau jika Bara orang baik. Terbukti saat mengantar pulang kemarin, Bara mengajak Pak Tarjo untuk makan malam terlebih dahulu.
Pak Tarjo hanya harus lebih bersabar menghadapi Bara yang bersikap dingin padanya.
__ADS_1
Bara melihat arloji mahal yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. "Bapak ikut saya! Kita masih sempat untuk merubah penampilan Bapak!"
Ia meninggalkan Pak Tarjo yang masih belum mengerti maksud Bara. "Bapak jangan bengong! Ayo ikut saya!" Bara gemas sendiri. Seperti mengajarkan training pada anak baru saja pikirnya.
Pak Tarjo tergopoh-gopoh mengikuti Bara, karena langkah lebar pria itu membuat Pak Tarjo setengah berlari.
🌷🌷🌷
"Ah, lo Bar! Gak bisa siangan dikit apa?" Ucap pria genit pemilik Butik yang Bara datangi, ia menguap karena rasa kantuk. Pria gemulai itu masih tidur saat Bara menggedor Butiknya.
"Bangun tuh pagi, biar rezeki gak dipatok ayam!" Ucap Bara asal. Pria gemulai itu memutar mata malas.
Bara menunjuk Pak Tarjo yang sedari tadi terdiam karena terkesima melihat banyaknya Jas mewah. Banyak hal baru yang Pak Tarjo lihat sejak bekerja dengan Angga. "Kasih baju yang cocok buat Bapak ini! Kita mau dinas ke LN."
Mata pria gemulai itu berbinar, pagi-pagi sudah dapat rezeki nomplok. Dengan gesit ia mengambil beberapa setelan Jas dan mantel. Ia mengira-ngira ukuran Pak Tarjo dari jauh.
30 menit kemudian, keluar lah 5 setelan Jas dan 3 mantel untuk Pak Tarjo. Pak Tarjo menolak dengan mantap saat diberikan semua itu, ia malu dan merasa terlalu merepotkan Bara dan Tuannya.
"Tidak usah Nak Bara, baju ini masih layak dipakai kok," Sanggah Pak Tarjo membuat Bara mendelik.
"Sebaiknya Bapak berkaca, apa pakaian Bapak pantas untuk bepergian. Dari jauh pun terlihat kalau itu setelan untuk wanita," Seloroh Bara gemas. Pak Tarjo pun melirik pada kaca besar disana, meniti penampilannya yang seperti Bara katakan.
"Tenang saja Pak, ini semua dipotong dari gaji Bapak nanti!" Seringai Bara membuat Pak Tarjo bergidik ngeri. Pasalnya jumlah semua pakaian itu mencapai 30jt.
Berapa memangnya gaji saya hingga bisa di potong sebegitu besar? Batin Pak Tarjo.
Hingga kembali ke kediaman Angga Pak Tarjo masih tidak habis pikir.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment agar aku lebih baik lagi!
Sekilas info neh para reader dan para author ku sayang, hari ini aku meriang. Maaf kalo nanti aq telat mampir di lapak kalian, karena tanggung jawab aku berusaha bisa up, meski dengan kepala pening mau pecah. Semoga tidak mengecewakan karena pembuatannya sambil dibawa tidur. Salam sayang dari q... 😘😘😘😘
__ADS_1
Om ganteng mengalihkan rasa sakit q... 😂😂😂