
SMA ***
Waktu istirahat kali ini membuat Laras enggan ke kantin. Mia yang selalu masuk sekolah tanpa ijin sehari pun, membuat Laras lesu karena tidak ada yang menemaninya makan.
"Lo gak ke kantin?"
Laras mendongakkan kepalanya melihat siapa yang berbicara. Ternyata orang itu Farel. Mau apa orang itu ke kelasnya? Jika bukan karena Mia waktu itu. Laras sampai saat ini tidak akan sudi menerima maafnya.
Karena sikap Farel yang sudah kelewatan. Salahkan Mia yang terlalu baik dan tidak mau pusing, memilih memaafkan orang yang selama ini membullynya.
"Eh lo, ngapain kesini?" Laras kembali meletakkan kepala di atas meja. Benar-benar muram harinya tanpa Mia.
"Hm, mau main aja." Farel mengedarkan pandangan mencari seseorang. Tapi nihil. Laras melihat gelagat aneh padanya kemudian menegur.
"Cari siapa lo?"
Dengan wajah kikuk Farel mengusap tengkuk menahan rasa malunya. "Mia, gak keliatan."
Laras berdecih melihat sikap malu-malu Farel yang membuatnya ingin muntah. "Ngapain lo nyariin Mia? Mau lo bully lagi?"
__ADS_1
Raut wajah Farel berubah dingin, ia mengetatkan rahangnya menahan emosi. "Kenapa lo ngomong gitu? Semua kata maaf gue sama sekali gak berarti ya?"
Laras melihat raut wajah Farel yang lain dari biasanya. Tapi seolah tidak perduli, Laras mengabaikan ucapan Farel. "Gak tau ya, klo gue jadi Mia. Gue gak akan pernah maafin lo. Karena lo udah di luar batas!"
Berusaha tenang, sambil menghembuskan nafas perlahan. Bukan hal baik jika ia meladeni Laras yang memberi sinyal permusuhan. Farel memilih mengalah untuk tidak memperpanjang masalah.
"Terserah, hak lo gak percaya. Gue gak akan maksa." Farel berbalik untuk pergi meninggalkan Laras.
Ada rasa tidak enak, Laras melihat perubahan sikap Farel yang menjadi lebih baik dan tidak cepat emosi.
Langkah Farel terhenti oleh ajakan Laras. "Gue mau ke rumah Mia pas pulang sekolah, lo boleh ikut kalo mau."
Laras tidak tau benar atau tidak mengajak Farel ke rumah Mia bersamanya. Supaya tidak membawa dampak buruk nantinya.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
Semilir angin mengurai rambut panjang Hani yang cantik. Rambut hitamnya tampak mengikuti arah angin melambai-lambai mengajak orang yang melihat untuk mengusapnya lembut.
__ADS_1
Senyuman indah diberikan Hani pada Angga yang mendekatinya. "Kau sudah baikan?"
Angga menatap Hani kemudian berpaling memandang ke luar balkon kamarnya. "Ya, aku baik-baik saja," Angga berusaha mengurangi interaksi bersama Hani. Ia sudah memutuskan apa yang akan dipilihnya.
Senyuman indah itu berubah menjadi miris. Ingin rasanya Hani menangis tapi tidak bisa. Hatinya yang sekeras batu membuatnya tidak tersentuh oleh apapun, kecuali rasa cintanya pada Angga.
"Jangan memaksakan diri... Karena aku tidak akan menyerah sayang!" Hani berkata tanpa menatap Angga di sampingnya. "Kamu hanya milik aku, Angga."
Merasakan ada yang tidak beres membuat Angga mau tidak mau menatap Hani heran. "Hani, aku tidak ingin kau sakit hati lagi. Tolong mengerti kalau kita sudah tidak bisa-"
"Aku mencintaimu, apa kau tidak lihat itu?" Hani menatap Angga sambil membuka kimono yang ia pakai hingga jatuh ke lantai. Angga terkesiap saat tau Hani tidak memakai sehelai benang pun di balik kimono.
Tubuh indah Hani terpampang jelas di depannya tanpa penghalang. Selama ini mereka sering tidur bersama, tapi hanya tidur saja tidak melakukan apa-apa.
"Ha-Hani, pakai baju mu!" hardik Angga.
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1