Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 64


__ADS_3

Seorang pria muda tampak terus memandang ke arah gadis yang asik menyantap makan siang sambil bersenda gurau dengan teman-teman sebangkunya. Pria itu tidak pernah jemu meski melihat gadis itu hanya terdiam, seperti ingin menyimpan di memory otaknya gambaran cantik gadis pujaan.


Helaan nafas lelah ia hembuskan, seperti ada bongkahan batu yang mengganjal di dada hingga membuat sesak. Ia merasa tidak pantas untuk gadis itu, namun hati seolah berontak mendorong diri agar tidak menyerah.


Saat lamunannya menerawang tanpa ia sadari sesuatu hal terjadi. Seorang pria dewasa menghampiri gadis itu. Pria itu adalah Erlangga Saputra, pria yang tidak akan pernah berhenti bila hal yang diinginkan belum tercapai. Seperti cintanya pada gadis gendut yang tidak lain adalah Mia.


Raut terkejut terlihat di wajah Mia, ia tidak pernah menyangka Angga akan mendatanginya hingga ke Sekolah.


"Mia, kita harus bicara!" Angga berdiri tepat di depan meja Mia. Gadis itu memandang datar pada Angga dan segera beranjak pergi meninggalkannya.


Bersamaan dengan itu, Farel juga beranjak dari kursinya. Kebetulan ia duduk bersebelahan dengan pintu masuk Kantin. Angga yang diabaikan memilih mengikuti Mia sambil terus memanggil namanya.


"Mia, tunggu!"


Gadis itu tidak bergeming, ia melangkah dengan mantap ke depan. Saat maniknya menangkap sosok Farel, gadis itu malah menghampiri pria itu. Tepat ketika mereka saling berhadapan, Mia menarik kerah baju Farel hingga membuat pria itu agak menunduk.


Mata ke-2 pria itu melebar secara bersamaan melihat apa yang Mia perbuat. Bibir merah pucat itu menempel pada bibir agak tebal milik Farel. Mia mencium Farel di hadapan Angga membuat hatinya bagai tercabik-cabik, amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Sedangkan Farel membeku dengan serangan tiba-tiba Mia.


"What are you f*cking doing this?!" Angga berteriak sambil menarik Mia menjauh dari Farel. Matanya memerah menahan kesal.


Tanpa rasa bersalah Mia tersenyum tipis. "Apa yang salah? Setidaknya aku melakukannya langsung di hadapan mu. Jadi, tidak akan ada yang namanya kebohongan!"


Ucapan Mia bagai belati yang langsung menusuk jantung Angga. Menyisakan nyeri yang amat sangat. Angga sungguh tidak tau harus melakukan apa agar Mia tau jika ia benar-benar menyesal. Amarah yang tadinya memuncak tiba-tiba surut, seolah perkataan Mia adalah air bah yang menggulung api hingga hilang tidak tersisa.


"Mia-"


"Aku tidak ingin dengar apapun! Stay away from me!" Mia menutup telinganya sambil menggelengkan kepala.


Farel melihat itu merasa terusik, Ia tidak bisa membiarkan Mia yang terlihat tidak nyaman itu dipaksa terus menerus. Farel melangkah mendekat dan menghalau Angga untuk menjaga jarak pada Mia.


"Om sepertinya tidak tuli, anda dengar sendiri Mia ingin anda menjauh!"


Emosi Angga kembali memuncak saat tangan Farel merangkul bahu gadisnya. Ia menepis kasar tangan pria muda itu.

__ADS_1


"Jaga tangan mu!" Angga menggeram.


"Harusnya anda yang jaga sikap!" Farel ikut terpancing, menatap Angga dengan tajam.


"Stop, Om aku bilang pergi!" Mia mulai kehabisan akal mengusir Om gantengnya yang keras kepala.


"Nope!" Sambil menggelengkan kepala.


"Jangan paksa aku melakukan hal yang akan melukai mu Om!" Ancam Mia.


"Heh? Kamu tidak akan bisa!" Angga berdecih meremehkan.


"Aku tidak akan menahannya."


Dengan kecepatan kilat Mia memiting tangan Angga ke belakang dan memukul tengkuknya dengan keras. Angga tidak sadarkan diri saat itu juga.


BUG


"Apa dia masih hidup?" Farel memandang ngeri tubuh Angga yang tidak bergerak.


Mia memutar matanya, ia merogoh kantong jas Angga dan mengambil ponsel pria itu. Ponsel itu diberikannya pada Farel.


"Lo hubungi asistennya, suruh dia jemput kesini!"


"Lo mau kemana?"


"Gue mau pulang!" Langkah Mia terhenti dan berbalik memandang Farel. "Maaf, gue tadi cium lo tanpa ijin. Gue-"


"Gak pa-pa, gue suka!" sela Farel.


"Hah?" Mia seolah salah dengar.


"Hmm... Mak-maksudnya ya nggak apa-apa!" ucap pria itu terbata-bata. Wajahnya merah hingga ketelinga. Farel malu karena tanpa sadar mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya.

__ADS_1


Mia tersenyum lucu menanggapi tingkah pria muda di hadapannya itu.


Laras dan Haris datang menghampiri Mia dan Farel bersama Angga yang masih pingsan di lantai. Laras menutup mulutnya tidak percaya Mia sampai membuat Om pujaannya pingsan.


"Gue gak nyangka lo sampai harus sejauh ini," ucap Laras lirih.


"Terpaksa, Om gak akan pernah berhenti. Gue tau itu." Matanya menyiratkan kesedihan.


Mereka bertiga pun pergi meninggalkan Kantin, sedangkan Farel masih disana menunggu asisten Angga datang menjemput pria itu. Bara beserta beberapa Bodyguard hanya bisa bergidik ngeri saat sampai ke lokasi melihat Tuannya yang terkapar tidak sadarkan diri.


Farel menyuruh mereka untuk segera mengangkut tubuh Tuannya. "Segera bawa Tuan kalian, jangan biarkan ia membuat onar lagi disini!" Farel berkata dengan ketus.


Bara tidak bergeming, ia dan para Bodyguard memilih pergi dari sana dibanding meladeni bocah sekolahan. Tidak level pikirnya.


🌷🌷🌷


Bel pulang berbunyi, membuat siswa siswi senang bukan kepalang. Karena mereka bisa terbebas dari mata pelajaran Matematika. Mereka merutuki pihak sekolah yang menjadwalkan pelajaran itu di jam terakhir kelas.


Mia mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, melihat wajah teman-temannya satu persatu. Ada rasa sesak terselip di relung hatinya. Guru meminta Mia maju ke depan, ia akan menyampaikan salam perpisahan hari ini.


"Maaf membuat waktu pulang kalian tertunda, aku hanya ingin menyampaikan sepatah kata sebelum aku pergi meninggalkan sekolah dan kalian." Mia menundukkan kepala sebelum mendongak dan tersenyum manis. Mia menarik nafas pelan dan kembali berkata.


"Berawal dari tidak saling kenal hingga kini aku tau nama kalian semua. Berawal dari senyum hingga canda tawa yang selalu terdengar menghiasi telinga. Kalian berarti untuk ku, sejauh apapun langkah ku di belahan dunia lain tidak akan menghapus jejak kaki kita bersama di koridor Sekolah ini. Aku Mia Shopia Adinata pergi untuk kembali, saat itu tiba aku harap kalian masih mengenalku."


Tidak ada kata yang terdengar, hanya isak tangis yang memenuhi isi ruangan. Mereka semua tidak menyangka Mia akan pergi. Laras sudah tidak sanggup menahan air matanya sambil berlari ia memeluk Mia dengan tubuh bergetar. Siapa yang rela kehilangan seorang sahabat?


Satu persatu siswa yang lain maju ke depan, mereka pun ikut memeluk Mia. Berharap hanya kesan manis yang tertinggal hingga nanti Mia kembali. Suasana haru menyelimuti mereka semua, tidak terkecuali pria muda yang berdiri mematung di dekat pintu kelas. Menyeka sudut matanya yang basah, Farel memilih pergi meninggalkan tempat itu.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_1


__ADS_2