
Kediaman Jack Adinata
Hari ini Mia tidak masuk sekolah. Tidak ada semangat untuk mengangkat tubuhnya dari ranjang. Dia bergelung dalam selimut sambil mendengarkan lagu patah hati. Ia tertawa dalam tangisan, menertawai kebodohannya memuja pria yang tidak menganggapnya. Kini pria itu akan menikah dengan wanita lain.
"Dasar Om kejam, kamu kejam sekali, aku benci. Aku membenci mu!" Mia memukul-mukul bantal seolah itu Angga.
Sesudah itu Mia kembali menangis sesegukan sambil bernyanyi mengikuti lagu yang ia putar lewat ponselnya.
🎶 Kau hancurkan hatiku
Hancurkan lagi
kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
🎶 Kau sinari jiwaku
Remukkan lagi
Kau hancurkan hatiku tuk melihatmu
Maya yang hendak mengetuk pintu kamar Mia mengurungkan niatnya. Dia hanya bisa menghela nafas panjang dan pergi kembali ke kamarnya.
"Mommy..." Panggil Jack saat melihat sang istri sedang menundukkan kepala di sisi ranjang.
"Ada apa?" Jack berjongkok merengkuh tubuh Maya kedalam pelukannya.
__ADS_1
Maya hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak. Harus dari mana ia memulainya?
Maya mendongakkan kepala. "Daddy harus janji dulu, jangan marah!"
Jack mengangkat sebelah alisnya. Tidak ingin ambil pusing, akhirnya ia menganggukkan kepala. Maya mulai menceritakan semuanya, dari awal Angga yang meminta Mia tumbuh hingga kejadian kemarin malam.
Setelah selesai Maya menatap suaminya sedikit takut. Ia melirik Jack yang tidak berkomentar apa-apa sedari tadi. Raut wajahnya tidak terbaca, membuat Maya bingung marah atau tidak suaminya itu.
"Selesai kenaikan kelas, aku akan membawa Mia ke Swiss."
Maya membulatkan matanya, terkejut dengan apa yang baru saja Jack katakan. "Daddy... Maksudnya? Kenapa harus membawa Mia pergi? Ke Swiss... Itu jauh sekali. Kamu mau memisahkan aku dari Mia?" Maya histeris. Bukan ini yang ia mau.
"Stss... Tidak, aku tidak mungkin memisahkan kamu dengan Mia, aku lakukan ini demi dia. Sebaiknya Mia melupakan semua kenangan yang ada disini. Kita akan pindah kesana, kita semua!"
🌷🌷🌷
"Big girl gak masuk, dari kemarin malem WA gue gak di bales. Di read juga nggak. Kenapa ya?" Keluh Laras, teman sebangkunya tidak masuk. Tidak ada yang bisa ia peluk.
Haris bertanya-tanya apa yang terjadi padanya. Apa berhubungan dengan pria dewasa yang kemarin ditemuinya di Cafe?
"Kemarin sebelum pulang sekolah gue diajak makan di Cafe langganan Mia." (Bukan di ajak seh, kan lo todong Mianya 😑).
Laras bangkit dari kursinya, kemudian menyeret kursi ke samping Haris. "Kok gak ajak-ajak gue?" Laras protes.
"Ah lo, gue kan mau berduaan sama Mia." Celetuk Haris kemudian membekap mulutnya sendiri.
__ADS_1
Laras menyipitkan mata sambil berdecih. "Hadeuh, yang pedekate. Gak modal lo, masa Mia yang traktir lo?!" Laras menoyor kepala Haris.
"Songong lu! bayar fitrah sini sama gue!"
Laras melempar uang kertas berwarna merah ke muka Haris. "Tuh gue bayar!"
"Bener- bener ni orang, awas lo ya. Gue ga jadi cerita!" Ancam Haris sambil memasukkan uang kertas itu ke kantongnya.
"Ngancem-ngancem tapi di embat juga tuh duit. Ada apaan emang?" Laras sewot.
Haris nyengir kuda membuang rasa malunya. Laras sudah diambang batas jika tidak mau mendengar ceritanya mungkin Haris sudah dilemparnya dari lantai 2 sekolah.
"Kemarin gue sama Mia ketemu lelaki dewasa. Kisaran umur 30an kayaknya. Ganteng seh, gue ngaku kalah klo masalah itu." Haris merengut sendiri mengingat bagaimana berkarismanya Angga. Jangan Meremehkan pesona Pria dewasa. (Author suka yang dewasa2 ðŸ¤).
"Terus." Sahut Laras mulai serius.
"Mia seperti kenal, manggil orang itu dengan sebutan Om, intinya kayak Om itu bikin salah sama Mia. Sampe bikin Mia nangis."
"Serius? Mia nangis? Terus"
"Iya Mia nangis, yang bikin gue tambah kaget pas Mia bilang klo doi nungguin tuh Om selama 8th."
"Jadi Mia ketemu lagi sama tuh Om rese." Laras meremas buku Haris yang ada di atas meja.
Haris yang menyadari bukunya di remas sontak menegur Laras. "Woi, buku gue rusak!"
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!