
Sastroadji Group
Sebagai seorang anak buah sudah seharusnya untuk selalu mematuhi perintah atasan, namun ada beberapa point yang bisa menjadi pengecualian contoh, menyuruh untuk terjun payung atau menyuruh lompat ke tebing.
Keduanya menghasilkan hal yang sama, yaitu menyakiti diri sendiri. Sukur-sukur hanya patah tulang, hal yang paling fatal adalah menghadap sang Ilahi.
Dilema itu kini dihadapi oleh Bara, baru saja Angga memberikan titah seolah memberikan hukuman mati. Meminta Bara untuk menjadikan Pak Tarjo sebagai sekretaris. Posisi yang kebetulan sudah lama kosong dikarenakan karyawatinya sakit keras.
Ini tidak lebih baik dari dua option yang telah dijabarkan, karena berhubungan dengan pria tua itu sama dengan mengkonsumsi nikotin selama 50 tahun. Dapat menyebabkan hipertensi, serangan jantung dan stroke.
Kemarin saat ia mengantar Pak Tarjo pulang, tanpa sengaja melihat Yanti sedang di bonceng oleh seorang pria. Gadis itu pun hanya tersenyum kecil ketika matanya bertabrakan dengan manik Bara yang hitam bagai gelapnya malam.
Hati pria itu merasakan perasaan tidak nyaman, ternyata gadis yang selama ini digadang-gadangkan akan menjadi calon istri malah berboncengan dengan pria lain. Pak Tarjo tidak mengetahui itu, beliau hanya merasa heran akan sikap Bara yang tiba-tiba dingin. Bara langsung pamit pulang setelah memberikan Pak Tarjo ponsel, bahkan pria tua itu belum sempat mengucapkan terima kasih.
Seolah semesta tidak membiarkan pria itu memutus hubungan dengan Pak Tarjo, tanpa disengaja Angga malah menyuruhnya untuk menjadikan Pak Tarjo sebagai sekretaris. Bukankah seharusnya, seorang sekretaris itu adalah wanita cantik penuh talenta hingga dapat membuat pandangan mata menjadi segar. Tapi sebaliknya, Bara mendapatkan Pak Tarjo. Seorang Bapak tua dengan berjuta kelihaian dalam bermain kata.
Dengan berat hati pria itu menekan nomor pada ponselnya untuk menghubungi seseorang. Lama panggilan itu tidak kunjung dijawab membuat Bara mengeratkan rahang karena kesal. Menekan tombol merah dan segera bangkit dari kursi, ia bermaksud untuk pergi menuju suatu tempat. Sudah bisa reader tebak donk kemana. Tentu saja ke rumah Pak Tarjo.
🌷🌷🌷
Kediaman Pak Tarjo.
Terlihat kepulan asap dari kopi hitam yang baru saja diseduh. Pak Tarjo meniupnya pelan kemudian menyeruputnya dengan mantap. Nikmatnya minum kopi ditemani kudapan sebagai pelengkap. Terdengar suara memanggil-manggil dari dalam rumah, mengusik keasyikan Pak Tarjo yang sedang mengunyah pisang goreng penuh minyak.
"Bapak! Bapak!" Bu Ani selaku istri Pak Tarjo tampak berjalan terpogoh-pogoh.
"Ada apa, Bu?"
"Ini, telponnya bunyi! Ibu lagi cuci piring tadi," Bu Ani menyodorkan ponsel dengan tangannya yang masih basah, Pak Tarjo melotot ngeri.
"Aduh Bu, tangannya di lap dulu. Klo rusak gimana? HP dari mantuku neh!" Sungut Pak Tarjo.
Bu Ani mencebik, heran dengan suaminya yang ngotot bilang jika Bara calon menantunya. "Pak, jangan suka mimpi di siang bolong! Mana mau pria seperti Nak Bara jadi mantu kita? Terus juga ya, mau dikemanain tuh pacarnya Yanti?"
"Dibuang ke kali Ciliwung!" Serunya asal.
__ADS_1
Yanti yang baru saja pulang dari kerja paruh waktu sebagai kasir di mini market merasa terusik dengan perkataan Bapaknya.
"Apaan seh Pak, Yanti udah punya pacar. Kenapa juga Bapak kayak benci banget sama Kak Randi?" Gadis ayu dengan kulit yang tan menambah kesan seksi pada dirinya. Yanti menaruh bokong di kursi tepat di samping Pak Tarjo.
Pak Tarjo menarik nafas dalam, sudah malas sebenarnya membahas pria yang sangat ia benci. "Kamu tuh kalo dikasih tau orang tua, ya nurut! Kamu gak tau aja, pria yang kamu sebut pacar itu Playboy. Banyak pacarnya!"
"Gak boleh asal nuduh, Pak," Yanti menjawab datar, ia mengambil pisang goreng dan memakannya. Minyak yang tersisa di bibir jadi terlihat seperti lip gloss.
"Bapak liat tempo hari, dia berduaan sama perempuan!"
"Itu saudaranya, Pak."
"Mosok sampe gelendotan? Kayak Bapak gelendotan sama Ibu, Itu keliatan saudara gitu?" Nada Pak Tarjo mengejek.
"Aku percaya Kak Randi, Pak! Dia itu cinta pertama aku, aku juga cinta pertama dia. Gak mungkin Kak Randi tega sampe begitu."
"Nih anak ngeyelnya minta ampun, emang Bapak gak bisa bedain? Bapak sama dia itu sama-sama lelaki, Bapak lebih tau karakter orang yang emang tulus atau cuma pura-pura!" Nada bicara Pak Tarjo mulai meninggi. Ia bingung bagaimana meyakinkan anaknya yang keras seperti batu. (Turunan ngeyel, wkwkwkwkwk)
Gadis itu memilih beranjak pergi meninggalkan arena pertikaian dibanding menunggu jatuhnya korban. Dengan langkah lebar Yanti memasuki rumah kemudian menuju kamar, tidak lupa mengunci pintu menghindari kemungkinan Pak Tarjo merangsek masuk untuk melanjutkan perdebatan.
"Anakmu juga, Pak! Yang ngegarap emang siapa? Genderuwo?" Bu Ani melengos kesal, Pak Tarjo melongo disebut Genderuwo oleh istrinya.
🌷🌷🌷
Suara bisik-bisik terdengar samar ketika Bara berjalan memasuki gang ka arah rumah Pak Tarjo. Ya, rumah pria tua itu ada di dalam perkampungan dengan banyaknya gang senggol. Kawasan yang padat penghuni itu terlihat semakin sesak saat para ibu-ibu bergerombol di setiap tikungan, kegiatan sebelum tidur siang yaitu menggosipkan satu sama lain.
Bara harus berjalan cukup jauh dari tempatnya memarkirkan mobil, karena memang gangnya hanya bisa di masuki oleh 2 sepeda motor. Terlihat peluh keringat di keningnya, menambah penampilan maskulinnya semakin terasa. Bahkan wangi parfum mahal menguar memenuhi sepanjang gang yang ia lewati.
Ada seorang wanita penuh binar keluar dari rumah, kaca jendela kamar yang terletak di pinggir jalan memudahkannya melihat siapa saja yang melintas. Dengan sedikit tergesa ia mengikuti Bara dari belakang. Tampilan pria dengan jas mahal tentu saja menarik para kaum hawa. Tanpa tahu malu wanita itu menghadang langkah Bara, sedangkan pria itu terhenyak kaget karena keberadaan wanita asing secara tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Situ Mas Bara kan?"
Bara terdiam, ia hanya menatap heran wanita dengan bedak tebal di wajahnya. Bara bahkan bisa menebak berapa senti bedak yang ia pakai untuk memoles wajahnya.
"Kok diem seh Mas? Saya temennya Pak Tarjo lho. Mas mau ke rumah Pak Tarjo kan?! Biar Saroh anter, yuk!" Ajak wanita itu yang tidak lain adalah Saroh.
__ADS_1
"Tidak usah, terima kasih. Saya bisa sendiri." Bara menolak dengan nada halus, ia memilih kembali melangkahkan kakinya menuju rumah Pak Tarjo.
Saroh yang baru pertama kali mendengar suara Bara langsung kehilangan kata, ia terkesima. "Ya ampun, suaranya aja bikin gue basah!"
Pria itu melangkah lebar agar cepat sampai, gak lucu kan klo perjaka ganteng ini diculik Janda TKI.
Pak Tarjo melihat sosok yang sempat di perdebatkan, ia menghampiri Bara dengan wajah sumringah. "Nak Bara, kesini lagi. Apa ada yang tertinggal, Nak?"
"Saya dapat amanat dari Tuan Angga, Bapak dipekerjakan sebagai sekretaris di Sastroadji Group. Besok pagi saya harap Bapak bisa datang tepat waktu." Ucap Bara to the point.
Pak Tarjo yang di beri kabar tersebut tersenyum senang, padahal kemarin ia sempat bingung bagaimana caranya untuk mendekatkan Bara dengan anaknya. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ini yang dinamakan berjodoh. Pak Tarjo mengajak Bara untuk memasuki rumahnya.
"Ayo masuk dulu, Nak! Di luar panas. Biar saya buatkan kopi sambil ngobrol-ngobrol."
"Tidak usah Pak, saya lebih baik langsung kembali ke kantor."
Pak Tarjo menangkap sikap Bara yang berbeda. Tidak seperti saat dirinya pergi ke Swiss bersama, Bara kali ini seolah menjaga jarak dengannya. "Nak, apa saya buat salah? Nak Bara seperti kesal pada saya,"
Bara menghela nafas, tidak seharusnya ia bersikap ketus. Bagaimana pun juga Pak Tarjo orang yang lebih tua yang harus dihormati. "Maaf Pak, Bapak tidak salah. Saya hanya ingin cepat kembali ke kantor,"
"Jangan bohongi saya, Nak! Saya tau ada sesuatu yang Nak Bara sembunyikan,"
Bara pun memilih jujur, bukannya ia berharap untuk menjadi menantu Pak Tarjo. Hanya saja, dijodohnya dengan gadis yang sudah mempunyai pacar sedikit melukai harga dirinya. Seolah ia tidak laku saja.
"Sebaiknya, Bapak jangan menjodohkan seseorang yang sudah ada pemiliknya. Saya masih bisa mencari calon istri sendiri, Pak!"
Pak Tarjo baru mengerti mengapa Bara menjadi bersikap dingin padanya. "Saya minta maaf, Nak Bara! Tapi tolong, jangan mencari calon istri lain selain anak Bapak. Saya punya alasan kenapa seperti ini." Pria tua itu mengiba dengan wajah memelas.
Bara tidak bisa berkutik, ia paling tidak tega melihat orang yang memohon. Atau memang acting Pak Tarjo saja yang sangat profesional.
Lagi, Bara terjerat jebakan Pak Tarjo.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Part ini khusus Pak Tarjo dan Bara yaa...! Mia sama si Om lagi pedekatean. Hihihi.