
Perasaan lega dan bahagia kini menyelimuti hati Angga, akhirnya pengorbanannya berbuah manis. Semanis wajah gadisnya. Mia baru saja kembali bersama tante Catherine. Wanita dewasa itu tersenyum geli melihat raut wajah Angga di depan apartement.
"Tante duluan ya Mia," ucap Catherine melangkah lebih dulu. Ia hanya mengangguk saat melewati Angga dengan sungkan.
Sungguh aneh rasanya akan memiliki keponakan yang seumuran dengan mu. Catherine mengusap bulu romanya yang merinding sendiri. Jodoh memang tidak bisa diprediksi.
"Om... kenapa di luar?" tanya Mia.
Angga tersenyum, setelah melihat Catherine memasuki Apartement ia mengajak Mia ke taman. Tangannya terus menggenggam jari jemari gadis itu, seolah tidak ingin lepas. Mereka berhenti di bangku taman di bawah pohon rindang, cuaca hari itu cerah dan hangat.
"Kita akan menikah 1 minggu lagi," jelas Angga. Mia yang mendengarnya sontak terkejut.
"Se-seminggu lagi? Secepat itu?"
"Ya, lebih cepat lebih baik. Kau tau, aku sudah tidak sabar untuk memilikimu." sambil mengecup tangan Mia lembut. Mia hanya bisa diam dengan rona merah di pipinya.
Angga merangkul Mia ke dalam dekapannya. "Besok aku pulang ke Jakarta, aku ingin menyiapkan pernikahan kita. Tapi kenapa rasanya berat sekali meninggalkanmu di sini..." suara Angga memelas membuat Mia terkekeh geli.
"Lebay!" Mia melepaskan diri, mendorong Angga hingga terjatuh dari bangku.
"Aduuuhhh," pekik Angga.
Tidak menyangka jika dorongannya membuat Angga terjatuh. Antara geli dan merasa bersalah, Mia menutup mulutnya agar tidak tertawa.
"Om, maaf! Ya ampun, harusnya aku pelan-pelan,"
Pria itu menganga lebar dengan wajah syoknya. Ia lupa jika Mia jago beladiri, hingga membuat dorongannya bertenaga.
"Ini namanya KDRT," keluh Angga sambil mengusap bokong yang ngilu.
Gadis itu malah tergelak, ada-ada saja Omnya satu ini. Bukannya KDRT hanya dilakukan oleh pria? Klo wanita yang melakukan kekerasan namanya beladiri.
Dengan diiringi senyum geli Mia meminta maaf. "Maafkan aku ya Om, beneran deh tadi itu aku kelepasan."
Angga mendengus lalu kembali duduk di samping Mia. "Jangan kasar-kasar sayang... klo di ranjang baru boleh main kasar," celetuknya tanpa malu.
"Dasar mesum!"
"Mesum sama kamu gak apa-apa."
"Yakin sama aku doank?" pancing Mia.
"Tentu saja," ujar Angga. Ia menyenderkan kepala di bahu Mia, gadis itu pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Mereka memandang hamparan rumput yang terawat rapi sambil bersenda gurau dan membicarakan hal tidak penting sama sekali. Seindah ini kah rasanya dapat bersama seseorang yang disayang. Angga memainkan jari Mia sambil sesekali mengecupnya. Mia hanya tersenyum dan mengusap kepala Angga yang kini dipangkunya dengan lembut.
"Sayang..." panggil Angga.
Mia mengalihkan pandangan ke arah Angga yang memanggilnya. "Ya?"
"Kau tidak bertanya kenapa aku tidak mengirim surat selama 2 bulan?"
"Hm, tadinya mau tanya. Tapi waktu lihat Om baik-baik saja, aku tidak ingin bertanya lagi," jelas Mia. Ia pikir itu semua tidak penting dibandingkan keadaan sang kekasih yang kembali dalam keadaan baik-baik saja.
Pemikiran Mia yang dewasa membuat Angga semakin memujanya, dia semakin tidak sabar untuk meminang belahan hatinya ini.
"Terima kasih atas kepercayaanmu padaku," Angga membelai pipi Mia.
"Sama-sama," sahut Mia dengan senyum andalannya.
Waktu berputar dengan cepat, tanpa terasa hari sudah sore. Angga mengeluhkan dirinya yanga harus segera pergi kembali ke Jakarta.
"Bagaimana kalau kau ikut pulang bersamaku hari ini," bujuk Angga.
"Aku belum minta ijin pada Daddy dan Mommy..."
Melihat tingkah Om ganteng yang berubah layaknya anak remaja yang sedang kasmaran membuat gadis itu mau tidak mau menggelengkan kepala. Bukankah mereka akan segera menikah, dan itu seminggu lagi. Sikap Angga terlalu berlebihan menurutnya.
"Besok aku menyusul kok, Om."
"Kenapa harus besok? Kenapa gak hari ini?"
"Banyak yang harus aku beresin dulu Om, masa aku pergi gitu aja?"
"Biar orangku yang urus itu, kamu pulang sekarang sama aku ya... sayang... please," Angga menangkupkan kedua tangannya memohon dengan wajah memelas.
Helaan nafas Mia hembuskan, menghadapi rengekan Angga ternyata lebih merepotkan dibanding Cristhoper adiknya. Mia mencoba bersabar, ia meraih tangan Angga dan ngusapnya. Sikap Mia seperti ibu yang menenangkan anaknya, sebenarnya siapa yang lebih tua disini?
"Om... lebih baik pulang duluan, bukannya Om mau siapin pernikahan kita? Buat aku terkagum-kagum dengan segala persiapan yang Om buat untuk acara kita... gimana?"
Pria itu tampak berfikir sejenak, betul juga. Selama ini dia belum pernah memberikan apapun pada gadis itu. Harusnya, waktu mempersiapkan pernikahannya ia manfaatkan untuk memberikan yang terbaik sebagai tanda cinta pada Mia. Ia akan menjadikan pernikahan mereka moment paling sakral dan bersejarah dalam hidup mereka berdua.
"Baiklah, akan ku buat kau terpesona dengan acara kita nanti," ucap Angga antusias.
"Aku menantikan itu, Om!" jawab Mia senang. Batinnya bersorak karena akhirnya ia berhasil membujuk Om ganteng agar tidak memaksanya pulang hari ini.
__ADS_1
"Sebelum itu, berikan aku ciuman semangat!" Kembali Angga dengan mode mesumnya.
Mia terhenyak, bagaimana bisa Om ganteng memintanya untuk mencium di taman. Banyak orang di sana, Mia tampak kikuk menanggapi Angga.
"Banyak... banyak orang di sini Om," sanggahnya.
Angga menarik Mia ke belakang pohon rindang di dekat bangku taman. Mia sampai membulatkan matanya karena terkejut. "Di sini tidak ada orang," Angga mengusap pipi chabi Mia dan segera ia membungkam bibir merah pucat itu.
Mencumbu gadis pujaan dengan penuh perasaan, Mia pun ikut terhanyut. Pangutan yang lembut kini menjadi menuntut, tangan Angga meremas bokong Mia hingga yang bersangkutan memekik tertahan.
"Om..."
"Kamu ngegemesin!"
Angga mengecup leher Mia yang menguarkan aroma Cherry, manis dan legit. Pria itu terus sibuk membuat Mia menggeliat karena geli. Ia pun berusaha melepaskan diri. "Om... geli,"
"Tapi enakkan?"
Pertanyaan macam apa itu, bukannya menjawab Mia malah memalingkan wajah karena malu. Angga tersenyum simpul, ia meraih dagu Mia agar gadis itu menatapnya.
"Jangan malu, kamu pasti akan terbiasa nanti," jelas Angga dengan tatapan dalam.
Kembali Angga mencium Mia, menyalurkan rindunya yang tertahan selama ini. Cukup lama hingga Mia kehabisan nafas, Angga baru melepas pangutan yang membuat bibir gadis itu membengkak. Sialnya malah terlihat semakin sexy, memancing sesuatu di bawah sana menjadi mengeras seolah berontak ingin di keluarkan.
Sebaiknya dihentikan saat ini juga, sebelum Angga semakin tidak terkontrol.
"Aku sebaiknya pergi sekarang," jelas Angga masih mengusap bibir Mia.
"Ah... i-iya," jawab Mia gugup.
"Aku akan merindukan 12 jam ke depan tanpa dirimu," seloroh Angga membuat Mia tergelak.
"Raja lebay!" ejek Mia.
Tangan mereka masih terjalin, Angga melangkah mundur menjauhi Mia dan jalinan itu pun terlepas. Pandangan Angga masih tertuju pada gadis itu, hingga akhirnya sosoknya tidak terlihat lagi.
Mia mengelengkan kepala sebelum kemudian ia beranjak pergi meninggalkan taman menuju Apartement Daddynya. Senyuman tidak lepas dari wajahnya, sepanjang jalan terus terbayang segala sikap Angga hari ini.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan Comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1