Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 86


__ADS_3

Erlangga Saputra, pria rupawan dengan segala kesempurnaannya. Namun satu kelemahan pada dirinya, ia tidak bisa menahan diri jika sudah berada dekat Mia. Gadis yang telah berhasil membuatnya gila sampai ia rela melakukan apa saja asal bisa di dekatnya.


Matanya masih setia meniti paras manis itu sambil menunggu jawaban. Mia mengatur nafasnya yang sempat terhenti karena serangan Angga, namun kemudian raut wajahnya berubah. Ia mendorong pria itu menjauh darinya, Angga mengeryit bingung. Mia bangkit, dan duduk di sisi ranjang.


"Bukannya Om ada kencan dengan Samantha, masih bisa merayu ku? Om benar-benar hebat!" Mia memalingkan wajahnya. Tiba-tiba rasa sesak menghampiri.


"Kencan? Samantha?"


"Dasar Playboy! Kenapa gak sekalian Om menikah dengan wanita itu? Kenapa harus ke sini dan kembali nengacaukan hatiku?" Suara gadis itu bergetar. Masih tidak mengerti apa maunya Omnya ini.


Angga membawa Mia menghadapnya, tangannya memegang erat kedua bahu gadis itu. "Lihat aku, Mia!"


Dengan perlahan Mia menoleh ke arah Angga, matanya merah menahan tangis yang siap meluncur kapan saja.


"Aku tidak menikahi Hani karena aku tidak mencintainya, aku ke Swiss dan menjadi guru di sini untuk mengejarmu! Meminta maaf atas segala kesalahanku, tidak kah kau lihat usaha ku? Tidak kah kau tau betapa aku mencintaimu?" Angga membawa tangan Mia dan menempelkan telapak tangannya ke dada. "Di sini yang ada dirimu,"


Mia membekap mulut karena isak dengan tangannya yang lain, air matanya mengalir tak tertahankan karena pengakuan Angga yang begitu menyentuh hati. Angga mendekap gadis itu dalam pelukannya. Ia berbisik merapalkan maaf berulang-ulang.


"Mau kah kau memaafkan ku, Mia?"


Mia mengangguk, membuat Angga merasa lega bukan main. Ia mengecupi puncak kepala gadis pujaan dengan bahagia.


"Jadi, sekarang kita pacaran? Tidak, aku akan mengikatmu. Kita tunangan!" Ucap Angga antusias.


Mia mendongakan kepala, memandang Angga dengan mata yang basah. "Siapa bilang aku mau tunangan sama Om? Om sudah selingkuh karena akan kencan dengan Samantha,"


Pria itu menyunggingkan senyum jahil. "Kamu cemburu?"


"Tidak!"


Angga menarik Mia ke atas pangkuannya, gadis itu memekik karena perlakuan Angga yang berhasil membuat jantungnya berolah raga.


"Kau selalu berprasangka buruk, Nona!" Angga mengecup setiap jari Mia. Jangan di tanya bagaimana ekspresi Mia saat ini, merah padam seperti dalam sauna.


"Perlu diketahui jika aku tidak kencan dengan siapa pun, Samantha yang kau sebut itu memintaku mengajarkan sejarah di luar jam pelajaran, yaitu saat makan siang."


Mia merutuki segala pikiran buruk yang selalu menghantuinya. Kini ia hanya bisa menunduk karena menahan malu atas prasangkanya sendiri.


"Maaf..." Mia berkata lirih.


"Tidak semudah itu, aku minta konpensasi."


Mia membulatkan mata tidak percaya. "Ya ampun, dasar pengusaha. Tidak mau rugi!"

__ADS_1


"Tentu saja! Aku tidak boleh rugi," Seringai pria itu membuat Mia merinding.


"Apa konpensasinya?" Mia malas berdebat.


"Tidur denganku!" Mia terperangah, ia sampai menganga mendengar perkataan Omnya.


"Om mesum!"


Angga membawa Mia ke ranjang bersama dirinya, memeluk gadis itu dari belakang. Mia yang sempat terkejut ingin memberontak namun terhenti kala Angga melontarkan kata.


"Aku tidak akan memakanmu sampai waktunya tiba, temani aku tidur karena sudah seminggu aku sulit untuk sekedar memejamkan mata."


Tidak lama dengkuran halus pun terdengar, Mia tersenyum mengetahui Omnya telah tertidur pulas. Ia mengusap tangan kekar yang melingkar di perutnya, menoleh ke belakang memandang wajah damai Angga.


"Jangan pernah kecewakan aku lagi, Om." Gadis itu memilih ikut menyusul Angga ke dunia mimpi.


🌷🌷🌷


Kantin


Keadaan kantin legang karena memang hari sudah menjelang malam, Louis sedang duduk termenung memikirkan siapa yang diberikan bubur oleh Mia. Mengaduk mased potato yang sedang dimakannya dengan malas, rasa penasaran mengalahkan rasa lapar. Dihempasnya sendok makan, ia beranjak ke luar kantin hendak menyalakan rokok.


Maniknya menangkap sosok gadis pirang yang sedang berjalan sendiri menuju aula.


Yang di panggil pun menoleh. "Hai Louis!" Gadis itu terlihat salah tingkah, dipanggil oleh salah satu pria most wanted di sekolahnya ini.


"What are you doing here?" (Sedang apa kau di sini?)


"Hm, I'm looking for Mia." (Hm, aku mencari Mia)


"Mia? What's wrong with her?" (Mia? Kenapa dia?)


"She hasn't returned to the room since the last lesson was over, I'm a little worried." (Dia belum kembali ke kamar sejak pejaran terakhir selesai, aku sedikit khawatir)


Louis terkejut saat tau Mia belum kembali ke kamarnya, bukankah ia ke sana setelah selesai membuat bubur untuk Samantha. Tunggu, benarkah bubur itu untuk Samantha? Louis memandang Samantha dengan tatapan aneh.


"Sam, do you want porridge today?" (Sam, apa kau ingin bubur hari ini?)


"Porridge? I don't like porridge! To me, the soft food is only for babies," (Bubur? Aku tidak suka bubur! Bagiku makanan lembek itu hanya untuk para bayi) Ucap Samantha.


Mata Louis menyipit, ada yang aneh disini. Mia berbohong padanya masalah membuat bubur untuk Samantha yang sama sekali tidak menyukai bubur, Tapi untuk apa gadis itu berbohong?


"Ah, I thought you liked porridge. Alright, continue your activities! I will also look elsewhere," (Ah, aku kira kau suka bubur. Baiklah, teruskan kegiatan mu! Aku akan ikut mencari ke tempat lain)

__ADS_1


"Thanks Louis, bye!" (Terima kasih Louis, sampai jumpa!)


Pria itu melihat Samantha menjauh, pandangannya menerawang. Kalau pun Mia berbohong, apa haknya untuk marah? Louis kesal sendiri.


"You really make me frustrating, Mia!" (Kau benar-benar membuatku frustasi, Mia!)


Louis memilih masuk ke kantin untuk mengambil jacketnya, suhu udara sudah mulai dingin. Ia pun melangkah tak tentu arah, ia akan menelusuri setiap wilayah sekolah. Takut Mia tersesat, karena gadis itu belum lama berada di Le Rosey.


🌷🌷🌷


Sejak kejadian Cristhoper bernyanyi lagu dangdut koplo yang sedang booming di kontrakan Pak Tarjo, Maya jadi sering mendengar alunan lagu itu dari anaknya.


Bocah itu sangat menyukai lagu itu, setiap sore ia pasti akan ke tempat di mana dirinya bertemu dengan Kakek Jo, selaku guru musik. Tanpa ia ketahui, Pak Tarjo sudah kembali ke tanah air.


"Kakek Jo di mana ya? Padahal aku mau minta ajarin lagu baru. Huh, yang ini cuma dikasih tau reffnya doank!" Cristhoper menggerutu, ia menendang kerikil hingga terpental ke danau.


Salah satu bodyguard mendekat dan membisikkan sesuatu, mata bocah itu berbinar. "Benarkah? Om tau lagu itu?"


"Tau tuan muda! Istri saya sering nyanyi itu sambil nyuci," Jawab pria itu.


"Tanyain Om sekarang, telepon istri Om ya!" Ia menggoyang-goyang tubuh bodyguard hingga kepalanya pusing.


"I-iya Tuan muda, tolong berhenti dulu. Saya pusing!"


Cristhoper meringis, ia terkekeh melihat bodyguardnya memegang kepala. "Ayo pulang, kemarin Mommy bilang mau dengar aku nyanyi juga. Enak tau Om, jadi bisa joged." Bodyguardnya hanya tersenyum geli, tidak pernah menyangka anak majikannya mempunyai selera rakyat.


Sepanjang jalan bocah itu berdendang, mengajak para bodyguardnya untuk ikut bernyanyi.


"Di depan orang tua mu, kau malukan diriku~"


"Kau bandingkan aku dengan dirinya~"


Tempat tissue ia pukul-pukul seolah memukul kendang. Sungguh, anak itu menjadi lebih berwarna sejak bertemu dengan Pak Tarjo. Pak Tarjo memang sesuatu.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, enjoy!


Ok, reader. malam ini aku ketidurna. niat up part abis isya malah up pagi2.


Minta saran, setuju tidak jika kisah Mia aku bikin cepat tamat? maybe ada yang mulai boring sama cerita aku?


Makasih masih stay di lapak aku, ikutin terus kisah Mia dan Angga, see you!

__ADS_1



__ADS_2