Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 83


__ADS_3

"Mia!" Tampak seorang gadis pirang berlari kearahnya. Iya tersenyum riang sambil membawa buku pelajaran.


"Hi Sam, what's up?" (Hai Sam, ada apa?) Sahutnya.


"You won't believe it," (Kau tidak akan percaya) Samantha mendekat dan berbisik di telinga Mia. Mata gadis gendut itu membulat sempurna seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"R-really?" (Be-benarkah?)


Samantha mengangguk antusias, ia mendaratkan bokongnya di kursi sambil mendongak memandang langit-langit dan tersenyum.


"Wish me luck! This is my first step to approach him." (Do'akan aku ya! Ini langkah awalku untuk mendekatinya) Mia hanya tersenyum tipis, mengangguk pelan dengan tenggorokan tercekat seperti menelan duri. Hatinya bergemuruh, perasaan yang sangat mengganggu .


"Thank you, you are a really good friend," (Makasih ya, kamu memang teman yang baik) Samantha merangkul Mia erat, sedangkan Mia hanya bisa terdiam dengan pikirannya.


Bel istirahat terdengar, namun Mia seolah enggan untuk beranjak dari kursinya.


"You don't want to go to the canteen?" (Kau tidak ingin ke kantin?) Tanya Samantha.


"Hm, no. I want to the library." (Hm, tidak. Aku ingin ke Perpustakaan)


"You smart girl, just let me go!" (Dasar anak pintar, baiklah aku tinggal ya!) Samantha melenggang pergi meninggalkan Mia yang memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Secepat itukah hatimu berpaling, Om?


Gadis itu beranjak dari kursinya menuju perpustakaan, mungkin dengan membaca buku hatinya akan lebih baik. Padahal Louis menunggunya di kantin, tapi Mia melupakan hal itu. Pikirannya tertuju pada Angga yang esok akan makan siang dengan Samantha.


Mia tidak tau, jika Angga hanya memenuhi permintaan Samantha untuk membahas pelajaran. Segala pikiran buruk kembali memenuhi kepalanya, merasa kecewa dengan Angga begitu cepat ke lain hati. (Saling berprasangka, terus begitu sampai Negara api menyerang)


Dasar Pria, mereka semua sama saja!


Batin Mia menggerutu sambil menghentakkan langkah karena menahan kesal.


🌷🌷🌷


Kantin


Louis memperhatikan setiap siswa dan siswi yang memasuki kantin, pria itu menantikan seseorang yang sudah 2 hari ini mengganggu tidurnya. Melirik sekilas pada coklat caramel yang baru ia racik kemudian kembali melihat pintu masuk.


Sepertinya tidak akan datang, mengingat jam istirahat sudah hampir berakhir. Menghela nafas kasar, Louis menghempas celemeknya ke meja.


Damn it!


Selalu ada gangguan ketika bersama gadis itu. Semua karena Guru baru yang bernama Erlangga, pria itu seperti ada di mana saja. Apa mereka mempunyai hubungan? Pertanyaan itu bercokol di kepala Louis, ada rasa penasaran. Karena sikap pria itu tidak biasa.

__ADS_1


Waktu istirahat habis, ia pun memilih keluar dari kantin. Berniat mengambil bahan-bahan untuk memasak makan malam. Pria itu menyapa dengan ramah semua siswa-siswi yang berpapasan dengannya, kebetulan sekali ia bertemu Angga di jalan menuju gudang penyimpanan bahan.


Angga memasang muka datar, berjalan melewati Louis. Langkah Angga terhenti saat Louis menyampaikan sesuatu.


"Are you having a problem with me?" (Apa anda ada masalah denganku?)


Angga menoleh dan menaikkan sebelah alisnya. "You talking to me?" (Kau berbicara denganku?)


"Think for yourself, is there anyone else here besides you?" (Pikir saja sendiri, apa ada orang lain disini selain anda?) Sarkas Louis.


"Nothing! Why do you think like that?" (Tidak ada. Kenapa kau berfikir seperti itu?) Ucap Angga acuh.


"What's your relationship with Mia?" (Ada hubungan apa anda dengan Mia?) Louis balik bertanya.


Mendengar nama Mia disebut oleh pria itu membuat Angga menatapnya tajam. "What's the problem with you?" (Apa urusannya dengan mu?)


"Because she is special, you should not act like you know her." (Karena dia istimewa, sebaiknya jangan bersikap seolah anda mengenalnya) Nada bicara Louis menantang, membuat Angga mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.


Angga mendekati Louis ia menunjuk dada pria itu dengan telunjuknya, dengan seringai mengejek Angga berbisik.


"I know her long before you, she is special because she is my future wife. Only mine, do you hear?" (Aku mengenalnya jauh sebelum kamu, dia memang istimewa karena dia calon istriku. Hanya milikku, kau dengar?)


Louis menghempas jari Angga dari tubuhnya. "I can't believe it," (Aku tidak percaya)


"Whatever, you better stay away from her." (Terserah, sebaiknya kau menjauh darinya) Angga menarik diri lalu pergi meninggalkan Louis dengan perasaan kacau.


🌷🌷🌷


Kamar Asrama


Malam ini Mia melakukan Video Call dengan Laras, Haris dan tentu saja Farel. Pria itu terlihat berbeda, entah apa itu. Mia tidak tahu. Mereka melepas rindu, padahal belum 1 minggu Mia pergi dari tanah air.


"Hai, Big girl! Lo makin cetar aja di sana!" Seloroh Laras heboh.


Haris dan Farel tersenyum malu-malu sambil memandang Mia di balik layar. Laras yang menyadari hal itu menegur mereka berdua.


"Pada kenapa lo? Terpesona ya sama Mia?" Ejek Laras.


Mia terkekeh,Laras membuatnya menjadi rindu sekolah lamanya. "Hai semua, kalian sehat-sehat kan?" Mia memulai percakapan.


"Kita semua baik kok," Sahut Haris.


"Syukur lah." Ujar Mia.

__ADS_1


"Kamu sendiri gimana disana?" Farel angkat bicara membuat Laras dan Haris melotot karena panggilan Farel pada Mia tidak seperti biasanya.


"Tumben lo panggil kamu? Kesambet ya?" Celetuk Laras membuat Farel bungkam karena malu. Mia hanya bisa terkikik geli melihat tingkah teman-temannya.


"Gak apa-apa kali Ras, aku baik-baik aja di sini." Mia tersenyum manis, Haris dan Farel berbinar melihat senyuman itu.


"Btw, lo sekolah di mana seh?" Ucap Haris penasaran.


"Iya! Lo sekolah di SMA apa? Kali aja gue bisa mampir pas Bokap dinas kesana." Sambung Laras, sedangkan Farel menyimak dengan baik percakapan mereka.


"Hm... gak usah. Ngerepotin lo nanti." Mia enggan memberitahu, ia malu. Lebih tepatnya ia tidak mau nanti terkesan pamer.


"Pelit lo sekarang, gak sayang lagi sama gue!" Laras merajuk. Mia terhenyak saat Laras bicara seperti itu, timbul rasa tidak enak di hatinya.


"Kok gitu seh? Gak lha, gue sayang sama lo!" Ucapan Mia memancing dua pria diseberang sana.


"Kalo sama gue?" Haris dan Farel bertanya secara serentak, Membuat Mia dan Laras melongo. Tawa renyah pun terdengar dari bibir gadis gendut itu.


"Gue sayang kalian semua, karena kalian sahabat gue!" Pernyataan Mia membuat 2 pria itu yang awalnya senang menjadi murung. Mia menyayangi mereka sebatas sahabat, tidak lebih.


"Gak usah pada baper deh," Sarkas Laras.


Haris dan Farel hanya memandang malas pada Laras yang bawelnya melebihi emak-emak saat beli sayur di pasar.


"Kembali ke topic utama, lo belum jawab. Lo sekolah di mana?" Laras kembali mencecar Mia dengan pertanyaan yang sama.


Mia mengusap tengkuknya, menjawab sambil berbisik. "Le Rosey..."


"WHAT?" Mereka bertiga berteriak serentak, Mia hanya menutup telinganya sambil memejamkan mata.


"Mia! Bilang ke Mommy Maya, tolong adopsi gue supaya bisa sekolah disana juga," Ucap Laras mengiba membuat Mia tergelak.


"Aduh, makin susah deh. Saingannya pangeran Charles," Sahut Haris lesu.


Gadis itu menyipitkan mata. "Gue gak doyan Kakek-kakek, ya kali gue saingan sama lady Diana." Mia terkikik sendiri.


"Makanya klo pelajaran sejarah jangan molor lo! Yang ada tuh Pangeran William, suaminya Kate Midleton." Laras mengejek.


"Maksud gue sekelas mereka lha, ah lo Ras. Keliatan gue b*go banget jadinya!" Haris bersungut-sungut.


Mereka pun tertawa bersama, sejenak Mia melupakan kegundahan hatinya dengan keberadaan para sahabat yang tidak pernah meninggalkannya.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Part ini gak ada Pak Tarjo sama Bara, next baru bahas mereka sambil menunggu seleksi yang menjadi cast visual Yanti anaknya Pak Tarjo.


__ADS_2