
Kediaman Haris Bintara
Haris pulang dengan tangan hampa, ajakan nontonnya di tolak Mia. Alasannya dia ada jadwal privat hari ini. Haris memandang buku masak yang dibeli sebagai alasan mengajak Mia jalan.
Dia melempar buku itu ke meja, dan merebahkan diri ke sofa saat sampai di rumah.
"Susah banget sih buat berduaan sama lo, lo ga tau apa... gue suka sama lo dari dulu." gumam Haris.
"Suka sama siapa lo?" Suara seseorang mengagetkannya.
"Brengsek, bikin gue jantungan lo!" Haris melonjak bangun dari tidurnya.
"Lo dari mana?" Farel duduk di seberang sofa yang Haris duduki.
"Keppo, ngapain lo kesini?"
"Ditanya, malah balik nanya dari tadi," Farel mengambil buku masak di meja. "Mau main aja, lo suka buku masak?"
Haris menyambar buku ditangan Farel, buku pilihan Mia tidak boleh sembarangan orang memegangnya.
"Buat Mami gue dari calon mantu!" Jawab Haris asal memasukkan buku masaknya ke dalam tas.
"Lo punya pacar? Siapa?" Farel penasaran.
"Udah kayak petugas administrasi lo, banyak nanya. Lo jelas tau siapa,"
"Mia?" Farel berkata dengan lirih.
__ADS_1
"Tumben manggil namanya, biasanya lo panggil dia kasur berjalan," Sarkas Haris.
"Gue salah, gue nyesel udah nyakitin dia."
Haris melongo mendengar pengakuan Farel, Haris tidak percaya pada Farel. Dia curiga Farel ada maksud lain.
"Jangan macem-macem lo, kali ini gue ga akan tinggal diam klo lo sampe buat masalah sama dia!" Haris mengepalkan tangannya menahan amarah yang tiba-tiba muncul.
Farel tersenyum getir, wajar semua orang tidak percaya dengan rasa bersalah dan penyesalannya. Dia sudah begitu jahat pada Mia, tidak hanya mempermainkan perasaan tapi juga menambah luka dengan bersikap kasar bahkan sering memaki dan mempermalukannya.
"Gue ga minta lo percaya sama gue, karena gue tau seberapa fatal kesalahan gue," Farel menghela nafas panjang. "Klo gue bilang, gue suka dia gimana?"
🌷🌷🌷
Bandara
Tampak seorang wanita cantik menggoyang tubuh kekasihnya. "Sayang, bangun. Udah sampe neh!"
"Makasih udah bangunin aku."
"Sama-sama sayang." Hani mengecup pipi Angga sekilas, ia sangat mencintai Angga. Dia bahagia akhirnya sebentar lagi akan menjadi nyonya Erlangga. Meski butuh waktu yang lama untuk meyakinkan hati pria tersebut.
Mereka pun tiba di Jakarta tepat pukul 12 siang hari. Mereka langsung meluncur menuju kediaman keluarga Angga.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
__ADS_1
"Hani!" Seru Nyonya Anggun saat calon menantunya tiba di rumah. Mereka berpelukan melepas rindu.
"Tante apa kabar?" Hani berucap selembut mungkin.
"Udah mau jadi istri Angga kok masih panggil Tante? Panggil Mama mulai sekarang!"
Hani melihat ke arah Angga seolah meminta persetujuan, Angga hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.
"Iya Mama." Hani berucap dengan setengah tersipu.
"Angga, kamu sama Hani nginap disini kan?" Bujuk Nyonya Anggun.
"Iya Ma." Sahut Angga.
Nyonya Anggun berdecak melihat sikap anaknya yang kaku sekali. "Hani, kamu yang sabar ya ngadepin Angga," Nyonya Anggun menggenggam tangan Hani.
"Iya Ma, aku akan selalu sabar kok." Hani menenangkan calon ibu mertua dengan mengusap punggung tangannya.
"Angga benar-benar beruntung memiliki kamu," Nyonya Anggun mengusap bahu Hani. "Sudah waktunya makan siang, temenin Mama masak ya!"
Hani meringis, dia sama sekali tidak bisa masak. Sedari kecil dia selalu dilayani, dan tidak pernah namanya pergi ke dapur. Keluarganya mendidik seperti putri raja, entah karena anak satu-satunya atau apa. Selama di London yang memasak makanan adalah pelayan.
"Hm... Karena tadi cukup lama di pesawat badan aku agak gak enak Ma," Hani beralasan sambil mengusap tengkuknya.
"Oh iya, ya ampun Mama sampe lupa. Jelas kamu pasti kecapean, ya sudah kamu istirahat aja. Nanti Mama panggil klo makanan sudah siap!" Hani tersenyum senang mendengarnya.
Selamat, semoga Mama ga minta aku masak lagi! Aku nyerah deh klo disuruh masak.
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!