Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 82


__ADS_3

Le Rosey.


Suasana hati Angga memburuk, sepanjang jalan menuju kantor guru ia terus termenung memikirkan Mia. Tanpa sengaja ia menabrak seseorang.


BRUK


"Sorry, I'm out of focus," (Maaf, saya sedang tidak focus) Ucap Angga merasa bersalah sambil membantu orang di depannya memunguti buku yang berserakan di lantai.


"It's Okay, Sir," (Tidak apa-apa Pak) Sanggah gadis itu. Ternyata orang yang di tabrak Angga adalah Samantha.


"Really? in that case, thank God," (Sungguh? Syukurlah kalau begitu) Jawab Angga lega.


Samantha menatap kagum pada Angga, ia seperti mendapat durian runtuh dengan keadaannya saat ini. Bisa berada dekat dengan guru idolanya. Tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu pun mencari celah untuk dapat bersama Angga lebih lama.


"Incidentally sir, I have something to ask about history lessons," (Kebetulan Pak, ada yang ingin saya tanyakan perihal pelajaran sejarah) Samantha mencoba peruntungannya. "If you don't mind, we can discuss it over lunch." (Jika Bapak tidak keberatan, kita bisa bahas sambil makan siang)


Pria itu tampak berfikir sesaat, sebelum akhirnya melontarka kata. "Fine, but better not today. Maybe tomorrow?" (Baik, tapi sebaiknya tidak hari ini. Mungkin besok?)


Binar bahagia terpancar dari wajah gadis itu. "Of course sir, I am waiting!" (Tentu saja Pak, saya tunggu!)


"Then I'll excuse me," (Kalau begitu saya permisi dulu) Angga pamit undur diri, Samantha menganggukan kepala antusias dengan tatapan yang tidak lepas dari Pria itu.


Saat penampakan tubuh Angga menghilang dari penglihatannya ia langsung bersorak kegirangan. "Geez, I don't believe I can be alone with Sir Angga later." (Ya ampun, aku tidak percaya bisa berduaan nanti dengan Pak Angga) Dengan langkah mantap gadis itu pergi menuju kelas.


🌷🌷🌷


Memandang nanar layar ponsel yang menampilkan gambar gadis pujaan. Diam-diam Angga berhasil mengambil gambar Mia saat pelajaran Sejarah kemarin, sungguh bukan sikap yang baik untuk ditiru. Membawa ponsel saat mengajar.


Jika bukan karena Mia, pria itu sama sekali tidak ingin menjadi guru. Mengejar gadis itu hingga ke negeri orang, rela melakoni profesi yang sama sekali bukan ranahnya. Dan kini ia merasa usahanya semakin sulit kala Mia sama sekali tidak ingin di perjuangkan. Apa yang sebaiknya ia lakukan?


Dengan segala beban dihatinya, ia menghepas tubuh di kursi ruangan khusus Guru Sejarah. Dua hari ini Angga tidak bisa tidur, karena menahan rindu pada Mia. Makan pun enggan, dipikirannya hanya tertuju pada gadis itu.


Berharap pertemuannya berjalan mulus, menghabiskan waktu yang manis dengan lebih dekat, namun semuanya kacau. Meremas rambut dengan frustasi Angga menahan denyut nyeri yang tiba-tiba datang di kepalanya.


Sial! Kepala ku pusing.


Pria itu memejamkan mata, sejenak ia teringat sesuatu. Ada yang terlupakan, hampir 1 minggu mereka di sini. Sudah waktunya Bara dan Pak Tarjo kembali ke Jakarta, Bara dengan tugas yang harus di handlenya selama Angga tidak di kantor.

__ADS_1


Dan Pak Tarjo? Mungkin ia bisa sedikit membantu Bara dalam bekerja. Yang terpenting Angga tau jika Pak Tarjo adalah orang yang jujur. (Bukan bantuin Om, tapi malah ngerepotin)


Angga mencoba meraih ponsel dari jasnya yang tersampir di kursi, dengan pelan ia menghubungi Bara.


Drrtt.. Drrtt... Drrtt... Klik


[Selamat Pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu?]


Terdengar kekehan sebelum Angga berucap.


[Santai saja Bara, tegang sekali,]


[Iya Tuan, ada sesuatu?] Bara mengusap tengkuknya karena malu. Sikapnya menarik perhatian Pak Tarjo yang baru selesai dari kamar mandi.


[Besok kalian kembali ke Jakarta!] Titah Angga.


[Lalu Tuan? Masih lama di sini?]


[Entah lah, aku masih ada kontrak. Bisa saja aku membayar pinalti, tapi itu bukan gayaku.] seloroh Angga.


[Apa semua berjalan lancar, Tuan?] Bara penasaran, ia memiliki firasat jika ada kendala pada Tuannya.


Hening sesaat sampai Angga memutus panggilan dengan alasan ada urusan, Bara tidak tau jika Angga menjadi Guru di Sekolah Mia.


[Baik, aku tutup. Ada yang harus aku urus.]


[Perlu bantuan, Tuan?]


[Tidak, terima kasih.]


Panggilan pun terputus. Bara memandang ponselnya heran, nada bicara Tuannya datar, tidak ada semangat sama sekali. Berbanding terbalik saat Tuannya ingin ke Swiss, nada suara antusias penuh semangat.


Wajah dingin Bara terlihat semakin semrawut di mata Pak Tarjo. "Ada apa Nak? Kok mukanya di tekuk gitu?"


Suara Pak Tarjo melepas atensi pria itu pada ponsel, dengan senyum masam Bara merespon pria tua yang selalu mengaku calon mertuanya. "Muka saya tidak di tekuk Pak," Bara bangkit dari sofa hendak mengambil air putih di Pantry. "Besok kita pulang!"


Mendengar kata pulang mata Pak Tarjo menyipit. 'Pulang? Kok cepet Nak? Katanya kita seminggu disini?"

__ADS_1


Bara menenggak segelas air putih hingga tandas sebelum menjawab Pak Tarjo. "Bapak gak mau pulang?"


Pria tua itu bersungut-sungut. "Bukannya gak mau pulang, kita belum jalan-jalan Nak. Sayang kan jauh-jauh ke sini gak ada kenangannya. Saya pasti gak bakal bisa ke sini lagi,"


"Bapak lupa tujuan kita ke sini?" Nada suara Bara mengejek.


"Tidak lha Nak Bara, saya ingat! Nona Mia ketemu sebelum seminggu, sisanya kan bonus dari hari yang di janjikan." Pak Tarjo beralasan.


Ah, Bara lupa. Pria tua di depannya ini makhluk ajaib yang hanya ada 1 di dunia ini. Pandai berkelit dengan berbagai alasan. Tidak ingin urusan menjadi panjang dengan beradu argumen dengan Pak Tarjo, Bara memilih mengalah.


Yang waras ngalah! Batin Bara.


"Ok, biar Bapak tidak mengeluh lagi. Malam ini kita jalan-jalan sampe bapak puas, sebelum besok kita berangkat kembali ke Jakarta!" Keputusan final sudah Bara lontarkan.


Pak Tarjo cengar-cengir mendengar calon mantu yang sangat memanjakan dirinya. Pak Tarjo tidak banyak maunya. Ia hanya ingin keliling melihat suasana kota itu tanpa melakukan apapun, tanpa meminta di belikan ini dan itu. Seolah masa kecil kurang bahagia itu meronta saat ini, meneror Bara yang hanya bisa mengelus dada.


Serasa menjaga bayi tua, Bara mencoba bersabar. Pikirnya semua penderitaan ini berakhir saat kembali ke Jakarta, tanpa ia tau. Angga telah merencanakan Pak Tarjo mendampingi dirinya di kantor. (Hahahaha author ketawa)


🌷🌷🌷


Apartemen Jack Adinata.


Cristhoper melompat ke dalam kolam hingga memercikkan air pada Jack yang sedang duduk berjemur di sisi kolam. Maya tampak menaruh kudapan di meja dengan kopi dan teh sebagai pelengkap.


"Di depan orang tua mu kau malukan diriku... Kau bandingkan aku dengan dirinyaaaa" Cristhoper berdendang sambil berenang. Maya mengeryitkan kening mendengar lirik lagu yang asing di telinganya.


"Kau hina diriku, kau sambut tentang harta... kasih ku sadar ku tiada berpunyaaaa" Maya membulatkan mata saat mendengar dengan seksama lirik lagu Crist, Jack bahkan sampai tersedak kopi panas. Lagu siapa itu? Dari mana Cristhoper mendengarnya?


Pak Tarjo berhasil mengajarkan lagu fenomenal menurutnya, lagu koplo yang sedang booming di setiap penjuru kontrakan tempat tetangganya tinggal.


Bocah kecil itu dengan riang menggoyangkan pinggul saat naik dari kolam renang, tanpa perduli pada Mommy dan Daddy yang Shock dengan kelakuannya.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku gak tahan pas ngetik bagian Pak Tarjo, cekikikan sendiri.

__ADS_1


Siapa yang gak sabar Bara ketemu lagi sana Yanti? Anaknya Pak Tarjo... kira-kira Cast Visual yang cocok buat Yanti siapa ya? Yang wajahnya ayu-ayu gitu. Silahkan ajukan kandidat kalian ya!



__ADS_2