Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 121


__ADS_3

Cafe***


"Ini bayaran yang kemarin, makasih udah bantuin," seorang wanita menaruh amplop berwarna coklat di atas meja


"Aku terpaksa ya, aksi nekatmu itu bisa bikin aku hilang kerjaan tau gak?" keluh pria yang duduk bersamanya. Ia meraih amplop dengan raut wajah kesal.


"Lagipula buat apa seh kamu sampe segitunya? Orang itu sudah beristri, kan?" tambahnya.


"Sebentar lagi bakal pisah kok, do'ain aja kamu dapet undangan aku nanti," jawab wanita itu sambil menyesap kopinya.


Pria itu berdecih. "Do'a jelek jarang dikabul, kamu juga ada-ada aja pake pura-pura makan udang. Aku sampe bikin laporan palsu ke Dokter senior, hati-hati nanti kamu sampe lupa beneran makan udang," peringatnya.


"Stss, jangan keras-keras!" wanita itu mendesis.


"Ya udah, aku sudah selesai makannya. Aku duluan," pria itu pergi setelah menghabiskan jus jambu pesanannya.


Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Tania, ia bertemu dengan dokter yang berbicara serius dengannya tempo hari di kamar rawatnya.


Tanpa mereka sadari ada yang mengamati di sebelah bilik mereka duduk.


[Saya sudah kirimkan ke email Tuan,]


Setelah mengirimkan pesan itu, orang tersebut pergi meninggalkan cafe.


Sastroadji Group


Di seberang sana terjadi kekacauan, Angga mengobrak-abrik kantornya. Dia kecewa, marah dan menyesal atas semua yang terjadi.


BRENGSEK!!! WANITA ULAR!!!


Bara yang mendengar keributan di dalam ruangan Tuannya segera menghampiri. Matanya membelalak saat melihat keadaan di sana. Hancur berantakan dengan beberapa barang yang rusak, Angga berjalan gontai menghempas tubuh pada sofa.


Pria itu terkikik geli, menertawakan nasibnya yang ditinggal sang istri. Padahal mereka baru 3 bulan menikah, harusnya saat ini dia menikmati kebersamaan Mia dengan jabang bayi yang masih hidup.


"Aku sangat bodoh hingga dengan mudahnya tertipu, bahkan di hari itu aku meninggalkan Mia sendiri di kantor membawa penipu dalam gendonganku..." Angga meracau menyedihkan.

__ADS_1


Bara menatap prihatin pada Angga.


"Baru dua hari dia pergi, aku sudah menderita begini... aku rindu Mia, Bara... aku butuh dia..." pria itu menunduk dengan penyesalannya.


🌷🌷🌷


Suara dentuman keras memenuhi ruangan club. Banyak pria dan wanita tidak saling mengenal menari lincah di bawah lampu kerlap-kerlip membuat tubuh melayang melupakan masalah hidup mereka. Cara itu yang menurut mereka ampuh. Atau mungkin hanya menambah masalah baru.


"Tuan, anda sudah cukup mabuk. Sebaiknya kita pulang," bujuk Bara. Pria itu lelah harus mengekori Tuannya yang sedang galau. Dia juga ingin menghabiskan waktunya bersama Yanti semakin hari semakin mahir menggoyangnya di atas ranjang.


"Satu gelas lagi, Bara. Kalau kamu mau pulang, kamu bisa pulang. Biarkan aku di sini sebentar lagi," Angga menenggak minuman di dalam gelasnya dalam sekali teguk. Dia menerawang gelas kecil itu dan berbicara sendiri. "Kata orang kamu bisa membuat orang lupa, tapi kenapa aku malah semakin mengingatnya? Kamu pembohong, hahaha," Bara menghela nafas lelah.


Bagaimana bisa meninggalkan Tuannya yang sudah mabuk itu? Untuk berjalan pun sepertinya Angga tidak sanggup.


Seorang wanita dengan pakaian minim datang menghampiri Angga, dia merangkul pria yang sudah mabuk itu.


"Hai tampan, butuh teman?" sapa wanita dengan perona bibir berwarna merah menyala. Angga menoleh menatap wanita itu.


"Mia... sayang..." panggilnya. Bara memicingkan mata saat tau ada wanita jadi-jadian mendekati Tuannya. Bara melepas rangkulan wanita itu.


"Dasar pengganggu," wanita itu menghentakkan kaki meninggalkan mereka berdua.


"Sudah pergi?"


"Ya Tuan, dia bukan Nona Mia,"


"Aku tau, tubuhnya terlalu kurus. Seperti tidak makan selama berbulan-bulan. Mia mempunyai tubuh yang sempurna... payudaranya besar... aku bisa menenggelamkan wajahku di sana, dekapannya hangat dan nyaman. Dia bisa membuatku melupakan segalanya, aku rindu Mia... Bara... bawa aku ke rumahnya. Aku mau ke rumahnya!" Angga mulai melantur. Bara sampai menahan malu mendengarkan ocehan Angga tentang tubuh Mia.


Sekilas terbayang apa yang dikatakan Angga di kepala Bara namun, pria itu segera menepisnya. Menggeleng keras agar pikiran liarnya menghilang, Bara bisa di ruqyah besok jika Angga mengingat apa yang sudah ia lontarkan.


"Kita pulang sekarang, Tuan!" Bara memaksa membawa pria yang terus meracau tidak jelas selama perjalanan.


"Jika Nona tau Tuan pergi ke club, pasti Nona akan semakin marah pada Tuan," ucap Bara mampu membuat Angga sadar sejenak.


"Jangan... jangan bilang pada Mia, Bara aku mohon," rengek Angga pada Bara yang sedang mengemudi.

__ADS_1


"Tapi anda harus janji, jika ini yang terakhir kalinya Tuan pergj ke sana. Jangan pernah pergi ke tempat laknat itu lagi, mengerti?!" tegas Bara yang langsung diangguki Angga.


Bara tersenyum simpul, begini rasanya memerintah sang Tuan. Tidak buruk, malah terasa menyenangkan.


🌷🌷🌷


Kediaman Sastroadji


Nyonya Anggun memekik saat melihat Bara membawa Angga dalam keadaan mabuk berat. Bara mengantar Tuannya hingga ke dalam kamar, masih terdengar Angga yang bergumam memanggil nama Mia sebelum pria itu tertidur dengan pakaian kantornya.


"Malang sekali nasibmu Nak," ucap Nyonya Anggun lirih. Dia masih marah pada Angga namun, orang tua mana yang tidak iba melihat anaknya semakin terpuruk setiap harinya.


"Nyonya yang sabar, Tuan telah mengetahui semuanya. Nona Mia difitnah oleh Nona Tania, dan Tuan merasa menyesal serta frustasi hingga nekat pergi ke club," jelas Bara panjang lebar.


Nyonya Anggun mengepalkan tangannya, ia tidak menyangka jika Tania berani bertindak sejauh ini. "Terima kasih Bara, kamu sudah menjaga Angga. Saya sudah tau Tania bukan wanita baik, waktu kuliah dulu Angga merubah wanita itu dari yang pecandu menjadi berhenti. Angga membawa dampak baik untuknya, tapi kenapa wanita itu malah sebaliknya? Menusuk Angga dari belakang, hingga saya kehilangan cucu saya," wanita paruh baya itu terisak.


"Semua akan baik-baik saja Nyonya, mari do'akan mereka agar Tuan bisa kembali bersama Nona Mia," ucap Bara menenangkan.


Nyonya Anggun mengangguk menyetujui. Setelah itu pun Bara pamit untuk pulang ke rumahnya yang kebetulan tidak jauh dari kediaman Angga.


🌷🌷🌷


Matahari sudah tinggi sekali menandakan jika hari sudah petang. Namun, pria itu masih setia dalam mimpinya. Tangannya memeluk erat guling, dalam mimpi ia sedang bergumul dengan seorang gadis.


"Mia... aakhh..."


Mata Angga terbuka setelah beberapa saat. Dengan perlahan ia bangkit dengan rasa pening di kepalanya. Menatap lesu pada seprai yang basah, sungguh memalukan. Pria itu mengusap kasar wajahnya.


"Kangen kamu, sayang..." gumamnya lirih.


Di waktu bersamaan, Mia menoleh ke belakang seolah merasakan seseorang yang memanggilnya.


"Om, sedang apa ya?" Mia bermonolog.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!


__ADS_2