
Le Rosey
Saat yang ditunggu-tunggu oleh Mia tiba, yaitu saat istirahat sekolah. Di Le Rosey, setelah makan siang akan diberikan kudapan coklat terbaik di kelasnya.
Koridor sekolah ramai pada hari itu. Banyak siswa perempuan yang terlihat terpogoh-pogoh berlari ke suatu tempat, hal itu membuat Samantha penasaran.
"What's going on? Why everyone looks in a hurry?" (Ada apa? Kenapa semua orang terlihat terburu-buru?) Tanya Samantha heran. Mia pun mengedikan bahu tidak tau.
Bisik-bisik tetangga terjadi, samar namun masih bisa terdengar.
"I heard there is a new employee at this school, he's handsome!" (Aku dengar ada pegawai baru sekolah ini, dia tampan)
"Really? I want to see him!" (Benarkah? Aku ingin melihatnya)
"Does he have a girlfriend? I willing to be 2nd." (Apa dia sudah punya pacar? Aku rela jadi yang ke-2)
"Hahaha, I bet you weren't brave enough to against your picky family." (Hahaha, ku yakin kau tidak cukup berani melawan keluarga mu yang pemilih)
Samantha semakin dibuat penasaran dengan kasak-kusuk yang dilakukan siswi di sana. Ia pun bertanya pada salah satu siswi yang berjalan ke arah kerumunan.
"Hei, What's up?" (Hei, Ada apa sih?)
"Haven't you heard? There's a new teacher today, Sam! And he's very handsome." (Kau belum dengar? Ada guru baru hari ini, Sam! Dan dia sangat tampan)
Samantha menoleh pada Mia yang juga bertanya-tanya. Namun rasa penasaran gadis itu terkalahkan dengan rasa penasaran pada kudapan coklat.
"Do you want to go there? If so, that's okay. I can go to canteen by my self." (Kau ingin ke sana Samantha? Jika iya, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri ke kantin) Jelas Mia.
"Hm, alright. I'll follow you there later. I'm very curious about the new teacher!" (Hm, baiklah. Nanti aku menyusul kesana, aku sangat penasaran dengan guru baru itu) Samantha melambaikan tangan pada Mia.
Mia tersenyum simpul melihat tingkah teman barunya, ia teringat Laras yang juga akan heboh jika ada sesuatu yang baru.
Saat sampai di kantin, suasana di sana tampak lengang. Entah semua orang pergi kemana, yang jelas tidak ada antrian saat Mia menuju tempat pengambilan makanan. Kokinya ramah sekali, kita bisa memilih makanan dan langsung di masak saat itu juga.
__ADS_1
"Bon appetit!" (Silahkan dinikmati)
"Thank you."
"You're welcome, sweetie."
Mia terkekeh mendapat godaan dari koki muda tersebut, ia hanya tersenyum lalu pergi menuju meja untuk menikmati santap siang. Mia memandang takjub pada makanan di hadapannya. Makanan termewah untuk ukuran makan siang di sekolah.
"Benar-benar sekolah impian, berat badanku pasti naik." gumam Mia.
Matanya berbinar saat suapan pertama mendarat di mulutnya, sangat lezat. Manik biru itu terus memperhatikan Mia dari jauh, gadis gendut yang menarik perhatiannya. Sang koki tampak meracik sesuatu, dengan cekatan sambil mengulum senyum.
"Enjoy it? Special Belgian chocolate for you," (Kau menikmatinya? Coklat Belgian special untukmu) Koki itu menaruh sepiring kecil coklat di hadapan Mia.
Mia yang sempat terkejut sesaat sebelum memberi senyuman pada sang koki.
"Perfect! Thanks for your delicious meal," (Sempurna, terima kasih untuk makananmu yang sangat lezat ini) Ujar Mia tulus.
Koki itu senang melihat respon Mia yang menyukai masakannya.
"Sure." (Tentu)
"I just saw you." (Aku baru melihatmu)
"Yes, I transferred from another school." (Aku pindahan dari sekolah lain)
"I hope you feel at home here." (Aku harap kau betah di sini)
"Looks like more than that, especially with your delicious cooking. I definitely don't want to go home," (Sepertinya lebih dari itu, apalagi dengan masakan mu yang enak ini. Aku pasti tidak ingin pulang) Canda Mia. Senyuman gadis itu manis sekali di mata sang koki, membuatnya terpesona.
"Glad to heard that." (Senang mendengarnya) Ada gurat merah di pipinya.
Koki itu memalingkan wajah menahan gugup yang tiba-tiba merayap pada jantung. Mia menikmati makanan dengan perlahan, ia ingin menikmati setiap suapan yang tidak lepas dari perhatian sang koki.
"If there's anything you want to eat, tell me. I will definitely make it especially for you," (Jika ada yang ingin kau makan, bilang padaku. Aku pasti akan membuatnya khusus untuk mu) tawar sang koki.
__ADS_1
Mia terhenyak dengan pernyataan koki tersebut. Baginya ini sudah lebih dari cukup, meminta dibuatkan sesuatu secara khusus itu terlalu berlebihan.
"I don't think so, whatever you cook I'll eat it," (Aku rasa tidak perlu, apa pun yang kau masak aku pasti memakannya)
"You are so cute," (Kau sangat manis) Puji koki, Mia hanya tersenyum simpul dengan rona di pipinya. Ah, pasti sudah biasa koki ini memuji seseorang. Mengingat dimana kini dirinya tinggal.
"Let me introduce you, I'm Louis Abraham." (Perkenalkan, aku Louis Abraham) Koki itu mengulurkan tangan.
Mia hendak menyambutnya namun seseorang terlebih dahulu menyambut uluran itu. Mia tersentak karena terkejut, secara reflect menoleh kearah siapa yang membalas jabat tangan Louis. Matanya membulat sempurna, mulutnya gemetar saat menyebut nama orang tersebut. "Om..."
Seringai tipis terukir di sudut bibir pria dewasa itu, matanya melirik sesaat wajah Mia yang menegang. Dengan lantang menjawab pertanyaan sang koki. "Her name is Mia Sophia Saputra!"
🌷🌷🌷
Bel masuk telah berbunyi 30 menit yang lalu, Mia sama sekali tidak habis pikir akan seperti ini akhirnya. Om ganteng itu mengejarnya hingga ke sekolah barunya. Bagaimana bisa? Apa memang dia tidak akan pernah bisa lepas dari jerat Om ganteng yang sialan masih bercokol kokoh di pikirannya.
Mia hanya bisa terdiam saat gadis-gadis lain dengan lapar menatap kagum pada pria pujaannya. Rasa panas ia rasakan memenuhi hati, ia cemburu dan tidak rela bila Om gantengnya digoda gadis lain. Namun egonya tidak ingin mengalah, karena amarahnya belum mereda dan kata maaf belum ia keluarkan.
Sedangkan pria dewasa itu tersenyum senang seolah berhasil mendapatkan tambang emas, dapat melihat gadis pujaannya kini sedang duduk memperhatikan dirinya. Ternyata ada gunanya juga ia lama hidup di London, dengan mudah ia masuk ke Le Rosey berkat rekomendasi rekan kerjanya yang kebetulan seorang petinggi disana.
Kini Angga berdiri dengan gagah di kelas sebagai Guru Sejarah. Ia akan menikmati waktu luangnya bersama Mia, bahkan setiap hari Angga akan leluasa menemui gadis itu.
Kau tidak bisa lari lagi, sayang.
Mia merasakan bulu romanya meremang saat melihat senyuman licik tersungging di bibir Angga dengan tatapan mata yang terus terkunci padanya. Tidak ada yang menyadarinya, karena mereka sibuk menatap penuh pemujaan pada pria dewasa itu.
Dasar tukang tebar pesona!
Mia membalas tatapan Angga dengan pandangan sinis, sambil mencebikkan bibirnya. Hal itu malah membuat Angga semakin gemas, jika bukan di kelas mungkin Mia sudah di terkamnya.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Maaf ya reader, aku sempat ngetik saat tengah malam. Malah ini selesai jam 3 pagi, soalnya mata udah gak bisa diajak kompromi klo udah abis magrib.. ngantuuuukkk banget. Terus klo siang sibuk sama urusan dunia nyata, jadi dimohon pengertiannya. Ikutin terus kisah Om ganteng dan Mia ya, see you!
__ADS_1