
Angga mendekati Mia, ia duduk disamping gadis itu. Mia tersenyum simpul kepada Angga sebelum kembali fokus pada tayangan di televisi. Angga merapatkan duduknya agak menyandar pada Mia.
Empuk
Ia merasakan hangat yang menjalar pada hatinya saat bersama gadis ini, rasa nyaman yang menenangkan. Belum pernah Angga begini sebelumnya, sungguh tidak menyangka dirinya akan jatuh cinta pada anak manis yang kini menjelma menjadi remaja.
Gadis belia yang berhasil membuat hatinya tidak karuan, tidur susah, makan pun enggan karena mengemban rindu tertahan. Dan sekarang sang dambaan ada disampingnya membuat ia tamak untuk menahannya pergi.
Baru saja Maya menelpon, menanyakan keadaan Mia. Respon mengejutkan di dapat karena Maya tidak menghardik atau marah padanya, menimbulkan secercah harapan akan restu Maya. Boleh kah ia berharap? Katakan Angga gila, menyukai Mia yang di bawah umur. Atau jangan-jangan ia sudah menaruh hati pada gadis itu sejak Mia kecil?
Sudut bibirnya terangkat saat mengingat masa dimana Mia selalu bergelayut manja padanya.
Kini aku yang ingin bermanja-manja dengan mu Mia.
Masih setia dengan posisi menyenderkan diri pada gadis itu, sedangkan Mia tidak bergeming. Sudah biasa ada orang yang bergelayut padanya, contohnya 'Laras'.
Angga yang merasa diabaikan akhirnya ingin menggoda Mia dengan mengambil cemilannya.
Mia langsung menoleh pada Angga. "Om kok diambil? Aku masih kau makan." Berusaha menggapai toples cemilan tapi pria itu menjauhkannya.
"Jangan panggil Om lagi!"
Mata bulat itu mengerjap dahinya pun mengeryit. "Terus panggil apa donk?" Mia menurunkan tangannya yang hendak mengambil toples dari Angga.
"Sayang..." Angga meletakkan toples ke atas meja dan duduk menghadap kearah Mia. Membuat gadis itu merasakan gugup tiba-tiba.
Rona merah tampak di wajah chaby Mia, yang benar saja! Permintaan Om yang satu ini membuatnya malu bukan kepalang. "Sa..yang?" Ucapnya terbata.
Ujung bibir Angga tertarik membentuk diagonal yang indah. "Iya."
Mia memalingkan wajah karena merasakan panas di pipinya menunduk sambil meremas jemari. "Aku... Gak berani Om, malu! Terus gak sopan, kan Om lebih tua." Ujarnya polos.
Mendengar kata 'tua' dari mulut gadisnya membuatnya meringis. "Apa aku setua itu? Kamu gak suka sama yang tua ya?" Ada nada sedih di setiap kata, Angga merasa minder sendiri.
Mia terhenyak, bukan itu maksudnya. Mia tidak masalah dengan jarak usia mereka, Mia hanya berusaha bersikap sewajarnya orang yang muda kepada yang lebih tua.
__ADS_1
"Bukan gitu, maksud aku... Hm, Om gak kelihatan tua kok. Aku cuma bersikap sopan aja, Om tetep orang yang paling Mia suka sampai detik ini!" Ucap Mia agak panik, ia takut menyinggung Angga.
Ah... Bolehkah Angga bersorak gembira mendengar Mia mengutarakan hatinya bahwa hanya dirinya yang disukai hingga kini.
"Benarkah hanya aku?" Tanyanya meyakinkan kembali. Angga meraih wajah Mia menghadapnya.
Mia menganggukkan kepala sambil tersenyum, oh... senyuman yang memabukkan. "Only you."
Angga pun menghambur untuk memeluk gadis itu, hatinya berbunga-bunga karena ucapan manis Mia. Mereka begitu terlihat bahagia.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
"Hani, kok Angga belum pulang ya?" Nyonya Anggun menghampiri Hani yang sedang duduk di sofa tampak sedang berfikir sambil memandangi layar ponselnya.
Sambil mendesah lelah ia mengedikan bahu. "Tidak tau Ma, padahal aku mau menghabiskan waktu terakhir ku disini bersamanya sebelum besok aku ke London."
“Bener-bener tuh anak!” Geram Nyonya Anggun, ia langusng meraih ponselnya sendiri dan menghubungi seseorang disana. Gerakan Nyonya Anggun menarik perhatian Hani, tidak lama kemudian panggilannya tersambung.
Ah… ya kenapa tidak terfikir oleh Hani untuk menghubungi asisten Angga, Bara selalu ada disampingnya. Bara layaknya bayangan Angga sejak ia menginjakkan kaki ke tanah air. Tuan Ronald menyerahkan semua kekuasaan pada Angga termasuk Bara selaku tangan kanannya.
[…] Bara terdiam, bingung harus menjawab apa.
[Bara!] panggil Nyonya Anggun lebih keras.
[Iya Nyonya?] Suara diseberang sana agak gugup.
[Jangan pura-pura tidak dengar, bilang sama saya. Mana Angga?!] Nada suaranya meninggi menandakan bahwa Nyonya Anggun dalam mode marah.
[Hm, beliau.. ada di apartementnya Nyonya…] ucap Bara lirih.
Kali ini ia tidak bisa berkelit, desakan Nyonya Anggun membuatnya ciut. Bagaimana pun Nyonya Anggun merupakan ibu dari atasannya.
Panggilan terputus begitu saja saat Nyonya Anggun mengetahui dimana keberadaan anaknya.
__ADS_1
Hani segera mendekat dan bertanya perihal dimana keberadaan tunangannya itu, mantan maksudnya.
“Dimana dia Ma?”
Nyonya Anggun menoleh pada Hani. “Bara bilang, Angga ada di apartement.” Ia meletakkan ponselnya di meja. Kepalanya tiba-tiba pening karena sikap anaknya yang keterlaluan, menghindari Hani yang akan pulang.
Apakah Hani tidak penting untuknya? Harusnya sekarang Angga ada dirumah, menghabiskan waktunya untuk wanita yang ia lepas begitu saja.
“Biar aku yang kesana Ma.” Pinta Hani.
Nyonya Anggun mengerutkan kening. “Are you sure?”
“Yes! Mungkin dia lelah makanya gak pulang kesini. Biar sekalian aku bawa makanan buat Angga, Ma.” Hani tersenyum simpul membuat Nyonya Anggun semakin kesal pada anaknya.
Dasar anak bodoh! wanita sebaik ini ditolak.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita siapkan makanan untuk Angga. Mama sudah masak kesukaannya tadi." Nyonya Anggun beranjak dari sofa dan menuntun Hani untuk mengikutinya ke dapur.
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
Manik coklat itu sedang memperhatikan sesuatu, berkas di tangannya adalah penentu hidup seseorang. Ia tidak pernah semarah ini semenjak 8th lalu, saat Pak Danu membuat perkara dengannya. Hingga akhirnya hari ini tiba, dimana putri kesayangannya di jebak oleh temannya sendiri. Untuk ke-2 kalinya ia menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan seseorang. Tidak, lebih tepatnya menghancurkan sebuah keluarga.
"Sudah kau siapkan semuanya?" Ucap Jack datar. Auranya dingin, berbeda sekali saat ia bersama Maya tadi.
"Sudah Tuan, anda yakin untuk melakukannya? Maksud saya, teman Nona Mia itu masih sekolah-"
"Bahkan masih sekolah pun terpikir hal mengerikan di dalam kepalanya, mau jadi apa dia nanti? Anak seperti itu tidak bisa dibiarkan begitu saja!" Jack menggeram tidak terima Tomi membela Raisa.
Tomi terkesiap melihat respon Jack yang tidak ramah. "Bukan begitu tuan, saya tidak bermaksud untuk membela. Saya hanya berpikir, Nyonya dan Nona pasti tidak akan setuju-"
"Jangan sampai mereka tau, ini urusan ku. Tutup mulut mu Tomi. Jika masih ingin menjadi keluarga kami!" Ancam Jack sambil menjulurkan telunjuknya di hadapan Tomi.
Sikap Jack kali ini diluar kebiasaannya yang hangat dan ramah. Jack bisa kejam jika menyangkut keluarganya. Baginya ini sudah tidak bisa di tolerir lagi. Tomi hanya bisa memaklumi dan menuruti semua keinginan Tuannya. Sambil berharap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach. Enjoy!