Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 68


__ADS_3

Swiss


Mia baru saja sampai di apartement Daddynya. Ternyata selama ini Jack mempunyai pabrik coklat yang dulu sempat ia tawarkan pada Mia. Dan merk yang di pakai pun memakai namanya, Chocomia. Mia tersenyum simpul melihat sebungkus coklat yang sudah dipasarkan selama 1 tahun ini.


"Mom, coklat ini gak dipasarin di Indo?" Tanya Mia sambil membuka bungkus coklat.


Maya yang sedang sibuk menyiapkan bahan untuk memasak menoleh, ia menggedikan bahu. "Mommy aja baru tau Daddy mu beli pabrik coklat, Mommy pikir Daddy bercanda waktu nawarin kamu pabrik."


Sambil berjalan ke sofa, Mia melahap coklat itu. Alisnya mengkerut saat merasakan coklat yang asing menurutnya. "Rasanya, kok gini seh? Terlalu pahit! Padahal ini bukan dark chocolate." Gumam Mia. Ia membalik bungkus coklat dan melihat kandungan bahan di sana.


Kepalanya tampak mangut-mangut seperti sedang memahami sesuatu.


Maya tersenyum tipis melihat Mia yang asik memakan coklat, tampang seriusnya saat melihat bungkus coklat membuat Maya penasaran.


"Kamu liatin apaan, sayang?" Maya menghampiri dan duduk di samping Mia.


Mia menoleh dan tersenyum. "Ini Mom, coklat Daddy terlalu pahit. Apa memang selera disini yang pahit-pahit? Aku lagi lihat bahan-bahan coklatnya." Mia menggigit lagi coklat itu. "pahitnya tidak hilang." (Kaya rasa sakit hati 😅)


"Sini Mommy cobain!" Pinta Maya karena penasaran, benarkah perkataan Mia yang menyatakan coklat itu pahit. Mia mengulurkan coklat di depan bibir Maya lalu 1 gigitan coklat masuk ke dalam mulutnya. Maya tampak mencecap seksama dan wajahnya pun menampilkan ekspresi yang aneh.


"Iya, pahit! Ini terlalu pahit untuk sebuah milk chocolate." Maya mengangguk menyetujui pendapat Mia.


"Apa Daddy tau masalah ini Mom? Trus, penjualannya sendiri gimana?" Mia bertanya. Maya tersenyum melihat respon Mia, seolah gadis itu peduli dan ingin merubah sesuatu di Pabrik itu.


"Sebaiknya kamu tanyakan langsung ke Daddy nanti!" Ucap wanita itu. Ia beranjak dari sofa dan menarik tangan Mia. "Bantu Mommy menyiapkan makan malam, yuk!


"Siap Nyonya Adinata!" Mia berseru membuat Maya terkekeh geli. Wanita itu senang, Mia masih bisa tersenyum riang, meski ia tau hatinya belum sepenuhnya sembuh dari patah hati.


🌷🌷🌷


Kediaman Sastroadji.


Pukul 19.00 tepat Angga sampai rumah dengan menumpangi motor Pak Tarjo. Pria paruh baya itu menganga melihat kediaman Angga yang begitu mewah dan megah. Angga menepuk pundak Pak Tarjo yang masih dalam mode terkesima.

__ADS_1


"Pak, kok bengong?"


"Waduh Bos, ini beneran rumahnya? Gede banget ya Bos!" Pak Tarjo masih mengagumi pemandangan di depan matanya.


Angga terkekeh. "Masuk yuk Pak! Ada yang mau saya bicarakan."


Pak Tarjo tampak terkesiap saat diajak memasuki rumah. "Hm, gak usah Bos! Malu saya, gak pantes masuk rumah orang kaya."


Alis Angga menukik tajam, ia sangat tidak suka pada orang yang selalu merendah diri. "Saya tersinggung loh Pak, Bapak tidak boleh selalu merendah diri! Kita sama-sama manusia, saya hanya salah satu manusia beruntung yang diberikan kelebihan dalam segi materi. Selebihnya kita sama!" Nada bicara Angga tegas membuat Pak Tarjo tidak enak.


Pria paruh baya itu mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Menunduk meminta maaf karena sudah menyinggung Angga. "Maaf Bos, bukan begitu maksud saya!"


"Ya sudah, ayo masuk! Saya marah klo Bapak masih tidak mau." Ancam Angga membuat Pak Tarjo mau tidak mau menurutinya. Entah apa maksud Angga mengajak Pak Tarjo ke rumahnya.


Saat memasuki ruang keluarga Angga dihampiri oleh Bara dengan raut wajah khawatir. Karena saat ia menyusul Angga di rumah Jack, Bara hanya menemukan Bodyguard yang bergelimpangan tidak sadarkan diri dalam keadaan babak belur.


"Tuan kemana saja? Saya mencari Tuan di rumah Tuan Jack!"


Angga tidak langsung menjawab, ia memilih merebahkan diri di sofa. Pak Tarjo mengikuti Angga dan berdiri di samping pria itu. "Aku mengejar Mia, tapi terlambat. Dia sudah pergi saat aku sampai Bandara." Ucapnya sambil terpejam sesaat. Menghirup udara dengan kasar sebelum menghembuskannya.


"Jangan memandangku seperti itu! Aku tidak butuh rasa kasihanmu!" Perkataan Angga telak membuat Bara terperangah, Tuannya bisa tau isi hatinya.


Angga menoleh pada Pak Tarjo. "Silahkan duduk Pak!" Angga mengulurkan tangan ke arah sofa bersebrangan dengan dirinya.


Lagi, Pak Tarjo menundukkan kepala. "Terima kasih, Bos!" Ia pun duduk di tempat yang Angga persilahkan.


Bara baru sadar akan keberadaan Pak Tarjo, ia memindai Pria paruh baya itu dengan seksama. Mencari adakah sesuatu yang mencurigakan, Angga menyadari sikap siaga Bara.


"Bara, kenalkan ini Pak Tarjo. Orang yang menolongku dan mengantarkanku ke Bandara."


"Kenapa Tuan tidak menghubungi saya saja?"


"Kau lupa? Jakarta macet pada jam-jam itu. Aku memilih menaiki motor dibanding diam terjebak dalam mobil yang tidak bergerak." Jelas ku membuat Bara diam seribu bahasa.

__ADS_1


Angga beralih pada Pak Tarjo yang terlihat tidak nyaman akan sikap protektif Bara. "Tolong jangan tersinggung Pak! Perkenalkan dia Bara, Asisten Pribadi saya. Lebih tepatnya tangan kanan saya,"


Pak Tarjo mengangguk tanda mengerti. Angga tersenyum lalu menjalin kedua jarinya di atas meja. "Pak Tarjo, saya harap Bapak mau berkerja untuk saya! Dan kebetulan Bara ada di sini, saya bisa jelaskan apa tugas kalian!" Angga menyeringai membuat bulu roma ke-2 pria itu meremang.


🌷🌷🌷


Kediaman Jack Adinata.


Cristhoper merajuk karena merasa di tinggalkan sang Mommy, Jack kewalahan menghadapi anak lelakinya itu.


"Aku mau ke Swiss sekarang, Daddy! Gerutu Cristhoper.


"8 jam lagi sudah ganti hari, sayang." Jawab Jack menahan kesal. Hari ini benar-benar melelahkan, pagi menghadapi Angga si pria tidak tahu malu. Dan sekarang menghadapi anaknya yang keras kepala. (Turunan siapa emang?)


"Jangan panggil aku sayang!!!" Pekik bocah itu merinding. Jack malah tersenyum jahil, terlintas di benaknya untuk mengerjai bocah itu.


"Cristhoper sayang~" Nada Jack dibuat semanja mungkin membuat air muka Cristhoper berubah pucat. Seolah darah hilang dalam tubuhnya membuat kulitnya yang putih menjadi seputih kapas.


"DADDY!!!" Cristhoper berteriak sambil menutup telinga.


Jack bukannya berhenti malah semakin menjadi. Ia mendekati bocah itu dengan senyum jenaka lalu berbisik di telinganya.


"Sayaaanggg~"


BUGH, BUGH, BUGH!!!


Pukulan bantal pun mendarat mulus di kepala Jack, Cristhoper benar-benar kesal karena Daddynya yang sengaja memanggilnya sayang. Panggilan para gadis disekolahnya. Para gadis gila yang mengejarnya, membuat ia takut pada sosok pasangan Adam itu.


Serangan bocah itu membuat Jack terperanjat. Cristhoper memukul dengan membabi buta. "Stop Crist! Ampun!" Jack pun berlari untuk menghindari pukulan. Sedangkan Cristhoper tidak melepaskan sang Daddy dengan terus mengejarnya dan membawa bantal.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1



__ADS_2