Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 70


__ADS_3

Kediaman Jack Adinata.


Pria paruh baya itu masih terlihat tampan, namun selalu merasa khawatir dengan penampilannya sekarang. Terdapat beberapa garis halus di wajahnya membuat ia semakin meringis. Lama Jack meniti diri di depan cermin, mengusap kerutan yang mulai tampak.


Helaan nafas kasar ia hembuskan. Masalahnya, Maya sang istri tidak mengalami hal yang serupa. Wajahnya yang baby face sehingga tidak terlihat bahwa wanita sudah hampir kepala 4. Bahkan Maya jika bersanding dengan Mia bagai adik kakak, itu semakin membuatnya frustasi.


"Tidak akan berubah Daddy, akui saja jika Daddy sudah tua! Mommy bisa cari Daddy baru lagi." Cristhoper datang tiba-tiba dengan ucapan yang menaikan tensi darah Jack.


Pria itu memicingkan mata tidak suka, terselip rasa penyesalan mempunyai anak lelaki yang usil seperti dirinya. Namun segera ia tepis, bagaimana pun Cristhoper adalah buah cintanya dengan Maya.


Sabar Jack... Kau adalah ayah yang baik. Batinnya.


Jack mengabaikan perkataan sang putra yang memancing amarah di pagi hari. Ia melenggang pergi ke bawah untuk sarapan. Cristhoper yang melihat sikap diam sang Daddy malah bergidik ngeri. Tidak seperti biasanya Daddy diam saat diusili olehnya.


Daddy benar-benar marah, gawat!


Bocah itu mengikuti sang Ayah menuruni tangga, dengan wajah gusar ia berusaha melihat ekspresi Daddynya. Wajah datar Jack memberi sinyal waspada pada bocah itu, ia harus minta maaf jika tidak mau hidupnya semakin susah ke depannya.


Saat mereka sudah duduk manis di meja makan, Cristhoper mencoba melunakkan suasana yang tiba-tiba sedingin es.


"Daddy..." Ucapnya lirih.


Tidak ada jawaban, Jack sedang menikmati sarapan buatan Mbak Darmi. Nasi dengan soto daging bening khas kampungnya di Solo.


Keringat tampak bergulir bebas membasahi dahi Cristhoper, belum makan apa-apa malah seperti sedang memakan soto dengan sambal. Kembali bocah itu memanggil sang Daddy yang tidak kunjung dijawab.


"Daddy..."


Jack memandangnya dan menghentikan suapan. Kata-kata pria itu langsung membuat bocah itu bungkam dengan mata yang berkaca-kaca.


"Katanya mau nyari Daddy baru, ya sudah sana! Daddy Jack bukan Daddy kamu lagi."


Saat itu juga Cristhoper menangis, menangis dengan keras hingga membuat Jack terperanjat, Mbak Darmi yang sedang mencuci piring sampai tergopoh-gopoh menghampiri bocah itu.

__ADS_1


"HUUUAAAAAAA...HUUU...HHUUAAA."


"Ya ampun, Tuan muda kenapa?" Mbak Darmi memeluk Cristhoper.


Jack yang melihat puteranya menangis sampai sesegukan membuat hatinya ngilu. Niat awal ingin mengikuti permainan Cristhoper malah berakhir dengan tangis bocah itu.


Masih dengan tangisan keras dan pilu, Jack beranjak dari duduknya dan berjongkok di samping Cristhoper.


"Come here!" perintah Jack pada Crist.


Cristhoper terdiam. Namun saat melihat senyuman dari sang Daddy ia pun segera menghambur ke pelukan Jack.


"Aku maunya Daddy Jack, gak mau yang lain. I'm sorry Dad!" Ucapnya dengan tubuh bergetar. Sedih rasanya saat tidak dianggap oleh orang yang disayangi.


Jack mengusap lembut punggung bocah itu. Dari perkataan Crist, Mbak Darmi tau apa permasalahan yang terjadi.


Ampun deh, Bapak sama Anak sama-sama usil. Mbak Darmi menggelengkan kepala.


"Jaga rumah ya Mbak! Kami akan lama disana. Saya serahkan urusan pelayan yang lain dan para Bodyguard sama Mbak. Klo ada apa-apa langsung hubungi saya!"


Mbak Darmi hanya mengangguk sambil menitikkan air mata, terbiasa selalu bersama keluarga itu membuatnya tidak rela untuk berpisah. Cristhoper mendekat dan mengecup pipi wanita tua itu. Sambil mengusap lembut, ia tersenyum.


"Jangan nangis Mbak, nanti Cristhoper pulang bawa oleh-oleh yang banyak buat Mbak!"


Tak kuasa menahan haru, Mbak Darmi menciumi seluruh wajah bocah itu sambil terisak. "Jaga kesehatan ya Tuan Muda, sering-sering telepon Mbak." Suaranya bergetar.


Bocah itu mengangguk masih di gendongan Daddynya. Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Kediaman Jack menuju Bandara.


Tanpa mereka sadari terdapat 2 sedan hitam mengikuti dari jauh. Bara bersama Pak Tarjo sudah memindai rumah Jack sedari tadi. Pak Tarjo tidak henti-hentinya berdecak kagum dengan kediaman Jack.


"Jadi gini ya rumah konglomerat, duh Nak Bara saya serasa mimpi lho dari kemarin. Lihat hal-hal luar biasa. Pantas saja yang kaya semakin kaya, jodohnya ketemu kaya lagi," selorohnya.


Benar juga, yang kaya ketemunya sama yang kaya. Karena lingkup sosial mereka. Yang biasa, ya ketemunya yang biasa. Kecuali memang hoki banget orang biasa berjodoh sama orang kaya, model di novel-novel gitu.

__ADS_1


Bibir Bara berkedut, ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya akan ocehan pria paruh baya itu. Cukup menghibur, meski label norak belum lepas dari diri Pak Tarjo di mata Bara. Dan masalah jodoh, ia hanya bisa berdo'a agar Tuannya benar-benar berjodoh dengan gadis itu. Ya kali capek-capek nyusul ke negeri orang malah jadinya sama orang lain. Jagain jodoh orang donk!


Bara menjaga jarak antara mobilnya dengan mobil Jack, jangan sampai Jack mengetahui keberadaannya atau semua rencana akan gagal.


Pak Tarjo tidak henti-hentinya mengoceh, apa saja dijadikan bahan bicara. Dari Jasnya yang terasa halus, sepatunya yang mengkilap hingga dapat berkaca di sana, dan pernyataan bahwa dirinya menjadi semakin tampan sekarang. Bolehkah Bara muntah saat itu juga mendengar kenarsisan Pak Tarjo? Atau lebih baik membuatnya pingsan agar berhenti mengoceh?


🌷🌷🌷


Bandara


30 menit mereka habiskan untuk sampai ke Bandara. Jack sudah menuruni mobil dengan menggandeng puteranya. Jack hanya pergi sendiri, ia tidak membawa bodyguard atau menaiki jet pribadinya.


Cristhoper yang meminta karena bosan. Ia ingin menaiki pesawat yang banyak penumpang, katanya. Bocah yang aneh, tapi semua itu justru menguntungkan untuk Bara dan Pak Tarjo. Mereka jadi lebih mudah untuk membuntuti sebagai penumpang lain.


Saat mengantre di pemeriksaan, Pak Tarjo tersenyum pada Cristhoper dari kejauhan. Hal itu membuat Bara geram, ia segera menarik Pak Tarjo menjauh dari sana. Cristhoper mengeryit bingung sambil menarik jas Daddynya.


"Kenapa?" Tanya Jack.


"Tadi ada Kakek-kakek senyumin aku Daddy, tapi abis itu Kakeknya ditarik sama Om-om pake kacamata hitam," ucapnya sambil mengedarkan pandangan ke arah Pak Tarjo tadi.


Jack mengerutkan kening, namun panggilan petugas menyadarkannya. "Jangan berbicara pada orang asing," bisik Jack lalu membawa Cristhoper bersamanya.


Bara bersembunyi di balik pilar tembok tidak jauh dari keberadaan Jack, ia mengintip dan melihat Jack berjalan menjauh. Ia menatap kesal pada Pak Tarjo. "Bapak mau misi kita gagal? Ngapain juga senyum-senyum gak jelas ke bocah itu? Kalau Tuan Jack tau bisa kacau!" Bara menggeram.


Pak Tarjo menunduk tidak enak. "Maaf Nak Bara, habis anaknya ganteng banget. Jadi kelepasan deh. Maklum saya sebenarnya ingin punya anak lelaki tapi gak kesampean, cuma di kasih satu sama Tuhan." Bara hanya bisa mengurut pelipisnya. Berusaha memaklumi pria yang sedari kemarin menguji kesabarannya.


Please rate, vote dan likenya yach!!


sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Bakalan bosen neh reader karena aku masih bahas Bara dan Pak Tarjo. Karena gak mungkin donk tiba-tiba langsung ketemu sama Mia, harus ada jalannya ada alurnya. Semoga kalian masih mau bersabar.


__ADS_1


__ADS_2