
Setelah sejak lama menanti, berharap dan berusaha. Meski hasil tidak sesuai dengan yang diharapkan harusnya kesan manis dapat dirasakan. Tapi tidak untuk Mia, sebuah belati tidak kasat mata seolah menusuk ke dadanya. Sakit tapi tidak berdarah mungkin lebih tepatnya.
Pria itu tidak mengenalinya, atau sudah melupakannya. Entah lah, Mia menunduk melihat pada diri sendiri. Meniti penampilannya yang membuatnya meringis.
Dia tidak mengenaliku, hahaha tentu saja. Kau terlalu memandang dirimu tinggi Mia. Batin Mia.
Hening sesaat saat kata-kata Pria itu lolos, Mia berusaha tegar untuk menampilkan raut wajah yang biasa saja. Padahal ia ingin berlari meninggalkan keadaan konyol ini.
"Hm... Tidak Tuan, sepertinya saya salah orang." Mia mendongakkan kepalanya yang sempat tertunduk sambil tersenyum.
Angga menautkan alisnya, wajah gadis ini seperti tidak asing. Senyuman itu terasa familiar, apa mereka pernah bertemu? Tapi dimana?
Mia menyeruput coklat panas yang menjadi terasa hambar. Ia bergegas merapikan buku yang tadi di bacanya. Angga masih memperhatikan gadis di seberangnya.
Tampak gadis itu ingin bergegas pergi. Angga masih penasaran, apa mungkin mereka saling mengenal? Angga beranjak dari duduknya dan menghampiri Mia. Matanya tertuju pada Novel lawas Jane Austen.
"Pride and Prejudice?"
Mia tersentak saat Angga kini berdiri di depannya dengan jarak yang sangat dekat.
"Untuk anak muda sepertimu, cukup mengejutkan membaca novel seperti ini."
"Memangnya seperti apa novel ini?"
__ADS_1
"Well, Elizabeth Bennet yang terlalu banyak berprasangka."
"Bagiku Mr. Darcy sebagai pria yang kurang peka, angkuh dan terlalu percaya diri!" Mia menjawab dengan berapi-api, mungkin sebenarnya ingin menyindir orang di depannya ini. "Disini Elizabeth mempunyai kekuatan untuk menolak Mr. Darcy ketika ia bersikap buruk padanya."
Bibir Angga berkedut melihat respon Mia yang menurutnya menarik.
"Bukankah Mr. Darcy membuat Elizabeth penasaran dengan sikapnya?"
"Sikap Mr. Darcy kasar dan merendahkan, kurasa Mr. Darcy beruntung mempunyai pendamping berintegritas seperti Elizabeth."
"Begitukah? Kita bisa berdebat lebih lama lagi jika kau mau." Angga mendaratkan bokongnya di kursi sebelah Mia. Mia menatap heran Pria yang telah membuat hatinya berantakan.
Angga menepuk-nepuk kursi yang sempat akan ditinggalkan Mia untuk pergi.
Mia masih bergeming, mencerna perkataan Angga barusan. Angga yang melihat Mia mematung menjadi gemas, ia menarik tangan Mia untuk kembali duduk.
"Siapa namamu?" Pertanyaan Angga membuat Mia terhenyak sesaat. Apa dia harus memberi tahukan siapa dirinya? Tapi hatinya berkata lain.
Mungkin lebih baik Om ganteng tidak tau, karena ku harap ini adalah pertemuan kita yang pertama dan terakhir. Batin Mia miris.
"Namaku... Namaku Sophia."
"Aku Angga." Angga menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan, Mia menyambutnya perlahan.
__ADS_1
Angga tersenyum menawan, membuat Mia kesal sendiri. Kenapa Om satu ini masih menebar pesona disaat dirinya ingin menyerah. Mia sungguh pengecut.
🌷🌷🌷
Angga merasa cocok dengan Mia, mereka ngobrol dari siang hingga matahari hampir terbenam. Mia sangat baik dijadikan teman bertukar pikiran.
"Jika kamu tidak memakai seragam, aku tidak akan menyangka jika kamu masih kelas 2 SMA."
"Bulan depan aku kenaikan kelas Tuan Angga, jadi sebentar lagi bukan kelas dua lagi." Sahut Mia tidak terima jika dianggap anak kecil.
"Ok, kau akan kelas 3. Dan jangan panggil aku Tuan!" Sanggah Angga.
"Ku rasa itu tidak sopan, dan aku tidak terbiasa begitu Tuan." Mia hendak pamit, ia sudah tidak tahan dengan hatinya yang terus terasa ngilu jika didekat Angga. "Sudah sore aku pulang dulu Tuan,"
Angga ikut beranjak dari duduknya sejujurnya ia masih betah berlama-lama mengobrol dengan Mia. "Mau aku antar, tidak baik seorang gadis pulang sendirian."
"Tidak usah Tuan, lebih baik aku pulang sebelum semakin larut. Permisi, terima kasih untuk traktirannya." Mia pergi tanpa menunggu lama.
"Iya, sampai jumpa."
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1