Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 61


__ADS_3

Wanita cantik itu mengenakan dress berwarna merah maroon sama dengan langit yang terlihat memerah karena senja. Berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri ke suatu tempat, Hani terlihat membawa paper bag di tangan kanannya dengan senyum manis. Ia selalu senang bila akan bertemu dengan pujaan hatinya.


Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya karena gugup. Harusnya ia sedih karena sang mantan tunangan sudah melepas dirinya, tapi hati berkata lain. Ia berusaha untuk tegar dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum akhirnya ia pergi esok.


Ya, anggap saja sebagai salam perpisahan. Ia ingin menikmati hari terakhirnya, sebelum memulai hidup baru di London.


Angga pasti senang, aku membawakan makanan kesukaannya.


Tidak sabar melihat ekspresi Angga yang berbinar sambil menikmati makan malam bersama. Sungguh ia tidak tau kenyataan yang sebenarnya, bahwa sang mantan sedang asik dengan kekasih hatinya.


Tangannya menari lincah menekan kode pintu apartement Angga, ia tau karena memang Angga memberitahunya saat dirinya masih berstatus tunangan. Senyum miris terlihat samar, Hani segera menepis perasaan tidak nyaman itu.


Memasuki ruangan dengan langkah santai, langsung ia menuju dapur melewati ruang TV yang menyala. Ia tidak menghiraukan suara TV karena yakin Angga sedang menonton. Meletakkan paper bag yang berisi makanan untuk Angga dan menyiapkannya, saat asik menata makanan atensinya teralihkan pada sofa yang bergerak.


Manik hitam itu memperhatikan dengan seksama. Meninggalkan kegiatannya dan beranjak mendekati sofa. Nafasnya tercekat, jantungnya bergemuruh serta tangannya mengepal karena menahan amarah.


Mia, gadis itu sedang tertidur disana dengan Televisi yang menyala. Pandangannya melebar saat melihat pakaian yang melekat pada gadis itu, Mia mengenakan kaos Angga. Pikiran Hani mulai liar kemana-mana, membayangkan apa yang sudah Mia dan Angga lakukan dibelakangnya.


Ia marah, bagaimana pun Hani masih disini. Masih berstatus tunangan, dengan teganya Angga membawa wanita lain di kediamannya. Bahkan wanita itu mengenakan pakaian tunangannya. Hani tidak akan tinggal diam, awalnya ia ingin menyerah. Tp melihat ini semua membuat hatinya sakit bagai teriris.


Mia menggeliat lalu mengerjapkan mata. Ia terbangun dari tidurnya saat suara asing terdengar ditelinganya.


"Sudah bangun, putri tidur?"


Saat itu juga Mia bangkit dari pembaringan, matanya membulat saat sosok Hani berdiri di samping sofa tempat ia tidur tadi. Memandang Mia dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari bibir gadis itu, ia memilih menundukkan kepala seolah tercyduk mencuri sesuatu.


Hani mengedarkan pandangan mencari sosok Angga yang tidak ada. Ia duduk di samping sofa dekat Mia, menatap cemooh gadis itu.


"So, kamu kini tinggal bersama Angga?"


Mendengar kata Hani tentang tinggal bersama membuatnya mendongakan kepala. "Tidak, saya hanya berkunjung." Suaranya pelan, namun masih terdengar.


Hani berdecih. "Ck, berkunjung dengan pakaian seperti itu? Kamu berusaha menggoda Angga?"


"Maksud anda? Saya tidak pernah menggoda Om! Dan bukan hak anda untuk mendapatkan penjelasan saya alasan mengapa memakai kaos Om!" Mia tidak terima dengan tudingan Hani terhadapnya.


"Listen! Kau masuk dalam hubungan kami. Merusak semuanya hingga Angga membatalkan pernikahan, mau di sebut apa jika begitu kalau bukan penggoda?" Hani meluapkan kekesalannya dengan mengeluarkan kata merendahkan.

__ADS_1


Mia terperangah tidak percaya, apa begitu pandangan orang padanya? Memandang dirinya sebagai penggoda, hatinya nyeri hingga membuat matanya memerah karena menahan air mata yang siap menetes kapan saja.


"Saya bukan penggoda! Kami saling mencintai, kami saling mengenal sebelum anda bertunangan dengan Om." Oh, Mia tidak mau kalah. Ia harus mempertahankan apa yang harus diperjuangkan. Mia akan mempertahankan cintanya, pikirnya.


Hanya kekehan yang terdengar dari bibir wanita cantik itu. "Baik, cinta ya. Menurut mu Angga tidak mencintaiku? Bahkan kami hampir sering tidur bersama. Apakah orang yang tidak saling mencintai akan melakukan hal itu?"


"Tidak, Anda pasti berbohong!" Sungguh Mia tidak ingin mendengar hal itu benar adanya. Ia percaya dengan semua yang Angga katakan.


"Ayolah, apa yang biasanya dilakukan oleh mereka yang hampir menikah? Jangan terlalu naif!" Hani berdiri dan berjalan mengelilingi Mia. "Bahkan panas lidahnya masih terasa di sekujur tubuhku."


Kedua tangan gadis itu menutup telinganya, Mia menggelengkan kepala tidak percaya. "Kalian hanya berpelukan, beberapa kali ciuman masih aku terima." Ucapan itu keluar dengan rasa sakit, bagai sedang menelan duri.


Hani tergelak, ia tidak bisa menahan tawa melihat gadis naif di depannya. "Kau bisa tanyakan langsung, kapan terakhir kami hampir melakukannya."


Tidak lama Angga keluar dari kamar, matanya terbelalak saat melihat keberadaan Hani di apartementnya dengan Mia yang menunduk di sofa.


"Ha-Hani, bagaimana bisa kamu disini?" Angga mengalihkan perhatian pada Mia yang terdiam. "Mia, sayang?"


Hani tidak bisa menyembunyikan sesak hatinya saat Angga menyebut sayang pada wanita lain di depannya. Sungguh terbuat dari apa hati pria itu? (Batu).


"Jangan mendekat!" Saat Angga akan menggapainya, Mia menatap Angga dengan raut wajah kecewa. Angga mengerutkan kening melihat hal itu.


"Katakan yang sejujurnya Om, jangan bohongi aku lagi!" Nadanya dingin membuat Angga merasa ada yang tidak beres.


"Bohong apa seh?"


"Apa benar, kalian sering tidur bersama?"


Wajah Angga berubah menjadi pias. "Apa yang kamu katakan padanya, Hani?!" Angga berteriak pada Hani, membuat Mia semakin kesal.


"Just aswer me!" Mia menekan suaranya yang bergetar.


"Hanya tidur, tidak melakukan apapun! Aku bersumpah!" Angga mengacungkan dua jari seraya bersumpah.


"Apa Om sempat mencumbunya?"


"Mia, jangan begini-" Pria itu memelas.

__ADS_1


"JAWAB!" Teriak Mia membuat Angga mengatupkan bibirnya rapat.


Dengan nafas berat ia menjawab. "Ya."


"Kapan?"


"Mia, Om minta maaf. Om-" Kata-kata Angga terhenti kala mata Mia menatapnya tajam dan menuntut.


"Sehari setelah kita bertemu di pesta." Lirih Angga.


"Ya Tuhan," Mia menengadahkan pandangan pada langit-langit, nafasnya tersendat. Berulang kali dikecewakan dan disakiti. Ia hanya manusia biasa yang tidak kebal akan sakit hati.


"Mia..." Angga mencoba mendekat namun lagi-lagi Mia membuatnya tidak berkutik.


"Bahkan saat itu Om sudah mencuri ciuman pertama ku, bagaimana bisa setelah itu-" Mia sudah tidak sanggup untuk berkata-kata, air mata telah mengalir deras. Membuat sembilu di hati Angga.


"Om sama saja dengan Raisa, kalian hanya ingin menyakitiku! Apa salah ku? APA SALAHKU PADA KALIAN?!" Gadis itu histeris sambil menangis pilu, hatinya nyeri tapi tidak ada luka. Rasanya seperti dihujam dengan ribuan jarum langsung menusuk di titik paling menyakitkan.


"Mia... Ampuni aku Mia, aku khilaf... Tolong maafkan aku." Angga memohon dengan mata yang memancarkan kesakitan, ia meratap sedih karena telah menyakiti belahan hatinya.


Hani yang melihat raut wajah Angga serapuh itu menjadi iba, untuk pertama kalinya ia melihat Angga sekacau ini. Tidak dapat di pungkiri jika memang Mia adalah belahan jiwa Angga. Ia sangat mencintainya.


"Apa salahku? Sampai kalian tega, aku manusia Om! Aku bisa sakit..." Mia menepuk-nepuk dadanya keras berusaha menghilangkan rasa nyeri yang kasat mata.


"Mia, jangan..." Pria itu berusaha menahan tangan Mia untuk tidak memukul dirinya sendiri namun di tepis oleh gadis itu.


"Kau menyakitiku Om... Lebih sakit dari pada orang lain. Sakit ini akan terus membekas hingga aku mati!" Mia berucap dengan lirih membuat Angga membeku merasakan sesak. Sebesar itu ia menyakiti Mia.


Mia segera beranjak dari tempat itu menuju kamar mandi, ia meraih handuk dan melilitkan pada pinggangnya.


Angga mengejar dan melihat Mia yang hendak pergi melintasinya tanpa menoleh, Angga mencekal tangan Mia berusaha menahan.


"Mia, jangan pergi... Ku mohon, maafkan aku."


Mia menatap datar pria didepannya itu, tidak ada lagi binar cinta disana. Hanya ada kesakitan amat sangat, membuat Angga tersentak.


"Lepaskan! Aku tidak perduli lagi dengan kalian yang terus menerus menyakitiku. Aku tidak perduli lagi dengan mu Om."

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan komentarmu agar aku menjadi lebih baik lagi. Enjoy!


__ADS_2