
Club***
Seorang pria melambaikan tangan saat Raisa memasuki Club. Senyuman manis diberikannya sepanjang jalan menuju pria itu.
"Udah lama?" Raisa duduk di samping pria itu.
"Nggak, lo makin cantik," Pria itu membelai pipi Raisa, jarinya menelusuri wajah hingga terhenti pada bibir ranumnya. "Gue kangen sama bibir lo."
"Tunggu apa lagi? Kiss me please!" Raisa mengalungkan tangannya dileher pria itu dan mendekatkan wajahnya.
Dengan senang hati pria itu menyambut, mencium bibir Raisa dengan pelan hingga menuntut. Tangannya menekan pinggul Raisa agar semakin merapatkan tubuh mereka. Mereka saling membelit memainkan lidah, mencecap setiap sudut rongga mulut seolah mencari sesuatu.
Pria itu Satria, teman geng Motornya Farel. Farel mengenal Raisa dari Satria, Farel tidak tau jika Satria adalah mantan pacar Raisa. Kini pasangan itu bermain gila di belakang Farel.
"Kita lanjut di kamar..." Bisik Satria. Raisa hanya tertawa senang ketika tubuhnya dibawa ke kamar VIP Club itu. Raisa tidak perduli dengan apapun saat ini. Yang ia pikirkan adalah mencapai puncak kenikmatan bersama Satria. Ia mulai bosan dengan Farel yang bertingkah seperti anak baik-baik.
Raisa bermain lincah diatas Satria. ia mendominasi permainan meluapkan hasratnya yang tertahan karena Farel yang mengabaikannya.
"Loe selalu seksi... ahh... Damn it!" Satria Menggeram nikmat.
"Uh huh, give me more!" Desah Raisa yang kini ada dibawah Satria.
Mereka menghabiskan malam bersama. tidak perduli apa yang akan terjadi ke depannya.
__ADS_1
Se*s bebas sebelum waktunya memberikan dampak buruk pada seseorang. Terutama pada usia remaja. Alat reproduksi yang belum matang mengakibatkan banyaknya ibu hamil yang meninggal karena mengandung di usia dini. Belum lagi penyakit kelamin yang mengintai dan paling parah adalah penyakit HIV AIDS.
Tapi peringatan itu hanya dianggap angin lalu bagi pelakunya bila belum merasakan dampak tersebut. Raisa salah satu remaja yang terjerumus dalam kelamnya pergaulan bebas. Membuatnya menjadi haus akan se*s.
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
"Telpon dari siapa? Sampe mojok gitu." Celetuk Laras. Mia menyenggol tangannya menegur sifat keppo sahabatnya itu.
Farel hanya tersenyum dan ikut duduk bersama mereka. "Bukan siapa-siapa."
"Hm ... Gue tau, pasti dari pacar lo. Raisa kan?!"
Air yang tadinya segar menjadi serasa perih di hidungnya. Farel tersedak minuman ketika Laras menyebut nama Raisa. "Uhuk, uhuk!"
"Kenapa? Gue kan cuma nanya." Bela Laras.
Yang di tepuk-tepuk punggungnya malah tersenyum tipis. Menerima perlakuan lembut Mia. "Makasih."
"Sama-sama." Balas Mia.
"Laras jangan di dengerin, kalo pun bener itu kan hak lo sebagai pacar."
__ADS_1
Ada rasa nyeri ketika Mia menyebutnya sebagai pacar Raisa. Jika bisa, ingin rasanya ia bilang tidak. Ingin rasanya bilang padanya jika hatinya telah berpindah haluan.
"Lo juga gitu sama Haris?" Farel sudah lama ingin menanyakannya. Tapi selalu urung karena takut merubah mood-nya sendiri.
"Haris? Kenapa dengan Haris?" Mia mengerutkan kening. Kenapa bawa-bawa Haris?
"Lo, jadian kan sama dia? Lo pacar Haris,"
Pertanyaan Farel akan status Mia sontak membuat Laras dan Mia berseru secara bersama-sama. "Kata siapa?"
Farel bingung dengan respon kedua gadis tersebut. "Haris, Haris yang bilang kalo udah jadian sama lo."
Mia sampai melongo, mulutnya ikut membentuk huruf O. Sedangkan Laras menyipitkan mata sambil meremas cemilan yang sedari tadi dimakannya. Mereka pun saling pandang sebelum berteriak histeris.
"HARISSSSS!!!"
🌷🌷🌷
"Huaccchiimm...huaachiimmm...!"
Haris bersin tiba-tiba, ia merasa merinding sendiri karena merasa namanya di panggil.
"Perasaan gue kok gak enak ya?" Haris mengusap tengkuknya yang merinding.
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!