
Mia menarik Laras untuk duduk kembali. “Udah, mending kita makan! Kita nikmati waktu sebelum gue pergi.”
“Lo mau mati?” sahut Raisa riang.
“RAISA!” Farel sudah diambang batas kesabaran. Raisa benar-benar mengujinya dengan berperilaku menyebalkan.
“Aku gak budeg Babe, gak perlu teriak kaya gitu!” Raisa berdiri dari duduknya. “Lagian bukan salah aku kan, dia ngomongnya ambigu.”
“Gue mau pindah sekolah, bukan mau mati. Udah jelas kan?” Mia meluruskan.
Mata Raisa berbinar cerah, informasi yang baru saja didengar membuatnya bahagia.
"Lo mau pindah?” Raut wajah Raisa berubah sedih, sedih yang dibuat-buat.
“Bakal jadi sepi donk, iya gak guys?” Raisa meminta sahutan dari teman gengnya.
Detik berikutnya hal yang sangat mencengangkan terjadi, Raisa mendekati Mia dan menggenggam tangannya. Mia sampai berdenjit kaget saat tangannya ditarik tiba-tiba. Laras membulatkan mata, takut jika Raisa menjambak rambut Mia (drama banget).
“Gue minta maaf, gue banyak salah sama lo selama ini. Sebelum lo pergi, gue gak mau lo bawa kenangan buruk.” Raisa berkata dengan lembut, berbeda sekali dengan sikapnya tadi sebelum mendengar Mia akan pergi.
__ADS_1
Mia yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum kikuk, dia bingung. Harus bagaimana menanggapinya. “Gak apa-apa, gue udah maafin lo dari dulu.” Mia berusaha setenang mungkin. Jika memang Raisa berubah menjadi baik, apa salahnya?
Ada rasa aneh yang dirasakan Farel. Tingkah Raisa yang berubah tiba-tiba membuatnya menjadi menyalakan alarm peringatan. Peringatan pada dirinya untuk waspada.
“Ya udah semua, kita makan. Udah mau dingin neh!” Mia mengajak Raisa dan teman yang lainnya untuk makan. Raisa tersenyum palsu, dia menyeret kursi agar bisa duduk di samping Mia.
“Thank's ya! lo baik banget.” Mia hanya tersenyum tulus menanggapi.
🌷🌷🌷
Makan siang pun baru selesai saat waktu sudah beranjak sore. Mereka makan dengan damai tanpa adanya perang saudara yang sedari tadi memenuhi fikiran Laras. Ia masih memandang sinis pada Raisa yang tiba-tiba ramah dan terus mengikuti Mia.
“Mia, gue boleh minta no. HP loe?” Raisa mengeluarkan ponselnya. “Gue mau kita menjalin hubungan yang lebih baik, terlepas dari semua sikap buruk gue!”
“Ok, makasih ya!” Raisa memasukkan ponselnya ke dalam tas yang baru dibelikan Farel. Mia menatap kagum pada Raisa yang cantik, dan elegan dimatanya.
“Kalo gitu gue pulang dulu sama Farel, Bye Mia!” Raisa segera pergi menghampiri Farel yang masih terdiam di parkiran mobilnya.
Niat awal ingin mengantar Mia pulang kerumah gagal total karena kehadiran Raisa. Farel memandang Mia dengan tatapan aneh, Mia memberikan senyum tipis merespon lambaian tangan Raisa padanya.
__ADS_1
“Ayo Babe, kita pulang.” Raisa menarik lengan Farel memasuki mobil.
Mobil mereka pun pergi meninggalkan Laras yang masih memasang muka datar.
“Lo kenapa kasih no. hp ke itu dedemit?”
“Dedemit?” Mia tidak bisa menyembunyikan kekehannya, Laras selalu mempunyai kata ajaib sama seperti Haris. Mereka benar-benar cocok pikirnya.
“You know I mean!” gerutunya.
“Gak ada salahnya, dia punya itikad baik.” Mia berjalan sambil memainkan ponselnya meminta Pak Hasan untuk datang. Karena tadi mereka datang ke Cafe dengan mobil Farel, kini orang itu pergi mengantar pacarnya. Tidak mungkin Mia jalan kaki ke rumahnya.
“Gue gak yakin!” Laras mengedikkan bahu sambil mengikuti Mia dari samping. Ia menendang kerikil di hadapannya. “Ini juga si Farel, Kampr*t emang! Dia yang ngajakin anter, dia sendiri yang kabur sama tuh dedemit.”
“Language!” Tegur Mia. Bola mata Laras berputar membetuk rotasi bumi pada matahari. Bibirnya mengerucut membentuk prisma sama kaki, membuat Mia gemas sendiri.
“Udah yuk, loe ikut kerumah gue. Mommy lagi bikin kue!” Sedetik kemudian prisma sama kaki berubah menjadi diagonal membentuk lengkungan indah. Sambil berseru riang Laras berlari lebih dulu ke arah Mobil Mia yang terlihat memasuki parkiran.
Dasar bocah!
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!