Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 113


__ADS_3

Hotel ***


Malam ini Yanti dan Bara menginap di Hotel tempat acara resepsinya dilakukan. Bahkan mereka mendapat tiket bulan madu ke Bali selama seminggu dari Angga.


"Tuan Angga baik banget ya Mas, kita dikasih tiket bulan madu plus penginapan!" mata beningnya berbinar melihat tiket pesawat yang ada di tangannya.


Bibir Bara berkedut menahan senyum karena tingkah Yanti yang membuatnya kembali ingat pada sang mertua. Terakhir ia melihat Pak Tarjo yang dijewer Bu Ani karena keasikan joged bersama Tante Hebring.


Pak Tarjo lagi ngapain ya?


Yanti menoleh pada Bara yang senyum-senyum sendiri, ia menyipitkan mata. "Mas, ngapain senyum-senyum sendiri? Mikirin siapa?!" tanyanya penasaran campur curiga.


"Mikirin Bapak kamu, kok kalian bisa mirip banget ya?"


"Mikirin Bapak? Ya mirip lha Mas, kan aku anaknya! Masa mirip tetangga, bisa berabe," ucap Yanti asal. "Tapi kenapa Mas mikirin Bapak? Apa jangan-jangan Mas naksir Bapak?!" Yanti memekik, wajahnya langsung memelas.


"Kamu apaan seh, ya gak lha. Aku normal!"


Sudut bibir Yanti terangkat membentuk seringai. Ia menatap Bara dengan tatapan yang sulit diartikan, Bara sampai merinding.


"Bener Mas normal? Buktiin!" tantang Yanti.


"A-aku mau mandi dulu," Bara mundur untuk melangkah ke arah kamar mandi. Yanti melompat dari ranjang mengejar Bara, saat Bara akan memutar daun pintu tangan gadis itu menahannya. Bara menoleh pada Yanti yang tersenyum penuh misteri.


"Gak usah mandi Mas," Yanti mendekati wajah Bara dan membelai telinga pria itu dengan lidahnya. "Buktiin sekarang aja!" bisiknya.


Saat itu juga Bara tidak dapat berkutik, gadis pemaksa dan lihai dalam merayu itu menjerat perjaka tingting tersebut. Yanti menang banyak, tanpa harus berguru ia dengan cepat belajar memuaskan suami machonya. Namun di tengah pergumulan panas mereka yang sudah memakan waktu 1 jam, Bara merasakan hal aneh. Pusaka itu tidak kunjung tertidur, padahal sudah 2x ia pelepasan.


"Mas, cepetaann... donk...nggghh.." keluh Yanti di sela hentakan Bara yang membuatnya nikmat.


"Ini udah keluar, tapi gak tidur-tidur. Kamu kasih apa aku tadi?" sahut Bara yang juga mengeluh.


Yanti mengingat-ngingat apa yang sudah ia berikan pada suaminya. Matanya membulat seolah sudah menemukan sesuatu.


"Tadi... yang Mas... minumm...mmmhh,"


"Air yang... pahit itu?" Bara menggeram.

__ADS_1


Gadis itu mengangguk dengan mata yang terpejam. Oh, enak sekali batinnya. Ia bisa melihat wajah lelah Bara, dan ekspresi pria itu saat klimaks.


"Apa itu?" gerakannya lebih pelan. Bara sudah kehabisan energi, dengkulnya mulai gemetaran.


"Gak tau, hhmmm... Bapak... Bapak yang kaaaaa...siihh...aaaahhh," desahnya saat Bara kembali memacu dengan kecepatan penuh. Pria itu seketika emosi saat mendengar bahwa mertuanya biang keladi semua ini.


Mereka berdua akhirnya terkapar, Yanti dan Bara sudah tidak sanggup menggerakkan tubuhnya yang serasa remuk. Di dalam hati Bara mengumpat Pak Tarjo habis-habisan.


Sedangkan pelaku sebenarnya sedang asik menonton TV di kamar VIP Hotel tersebut. Entah mengapa Angga selalu memanjakan pria tua itu.


"Pasti lagi pada gulat, tahan deh tuh jamu sampe pagi!" gumamnya sambil terkikik geli.


🌷🌷🌷


Pagi itu indah sekali, langit pun berwarna biru. Pak Tarjo dan Bu Ani sedang sarapan pagi di Restoran Hotel. Sepasang suami istri yang sudah 30 tahun mengarungi rumah tangga itu masih terlihat mesra. Tampak Pak Tarjo yang menyuapi Bu Ani, sesekali mereka tertawa di sela obrolan pagi.


Berbanding terbalik dengan pasangan pengantin baru yang hingga kini belum juga sadarkan diri. Mereka seperti habis lari marathon selama 10 putaran di Bundaran HI, lelahnya bukan main.


Mereka bahkan mesti saling bahu membahu untuk sampai ke kamar mandi, saling menopang tubuh agar tidak tumbang di tengah jalan. Yanti menatap dengan memelas pada suami yang dikerjai oleh Bapaknya. Meski begitu ia bahagia karena telah berhasil dicetak gol oleh Bara.


"Makasih ya Mas, udah nikahin aku," ucap Yanti saat Bara membasuh punggung istrinya di bathtub.


Yanti menoleh, ia melihat manik hitam milik suaminya. "Kalo Mas, merasa bahagia gak nikah sama aku?"


Kegiatan membasuh itu terhenti, Bara menangkup pipi istrinya. "Meski kamu penuh dengan kejutan, seperti Bapakmu..." ucap Bara setengah geli. "Tapi aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu, dan aku bahagia karena aku yang memilikimu seutuhnya," sambungnya.


Perkataan Bara bagai puisi cinta bagi Yanti, gadis itu terharu dan merasa tersanjung. Diciumnya bibir tebal Bara dengan penuh perasaan. Bara ikut terhanyut, sepasang insan itu saling mencumbu mesra.


"Kita harus mandi, aku udah gak ada tenaga buat masukin kamu," kekeh Bara membuat Yanti malu.


"Iya Mas, aku juga udah lemes banget," cicitnya.


Mereka berendam beberapa saat sebelum akhirnya membilas tubuh di bawah shower. Wajah lelah itu sudah berubah menjadi lebih cerah, mandi bersama sambil sesekali bercanda membuat tubuh pasangan itu lebih rileks.


Saling membantu memakai baju, hal baru yang membawa dampak baik pada keduanya.


"Kalo tau begini enaknya, aku mau nikah dari dulu Mas," Yanti memasang kancing kemeja Bara.

__ADS_1


Bara menyisir rambut Yanti dengan hati-hati. Rambut gadis itu ikal bergelombang, menambah manis tampilan gadis itu.


"Kalo dulu, berarti gak nikah sama Mas donk," ucap Bara merajuk.


"Hahahaha, Mas jangan gitu tampangnya. Geli tau liatnya," gadis itu terkikik geli melihat wajah memelas Bara.


"Berani ketawain suami ya!" Raut wajah Bara berubah seram namun dibuat-buat. Yanti menahan tawa dengan kuda-kuda siap menghindar. "Harus dikasih pelajaran," Bara mendekap Yanti dari belakang sambil menggelitik perut gadis itu.


"Aaahahaha, ampun...aahhh Mas... geli!" Yanti menggeliat ke sana ke mari berusaha melepaskan diri. Wajahnya sudah merah padam karena geli yang menjalar.


"Mas, Mas... udah,"


"Gak,"


"Aduuuhh... kan jadi basah!" pekik Yanti. Bara pun menghentikan aksi menggelitiknya. Ia melihat ke arah celana Yanti yang basah.


"Kamu ngompol?!" Bara menahan tawa.


Yanti tidak menjawab, wajahnya merah antara marah dan malu. Ia segera pergi ke kamar mandi sambil membanting pintu. Setelah itu hanya tawa Bara yang terdengar mengisi ruangan kamar hotel.


🌷🌷🌷


Kediaman Sastroadji


"Sayang, kamu sudah bangun?" Angga menghampiri Mia yang baru saja memasuki kamar. Gadis itu membawa susu putih untuk suaminya.


"Iya, istri harus bangun lebih pagi! Ini susunya diminum, biar semangat kerjanya," Mia menyodorkan susu pada Angga yang sedang memasang kancing pada lengannya.


Angga mengulum senyum, ia menerima susu itu namun diletakkannya di atas nakas ranjang. Mia menatap bingung suaminya. Pria itu mendekat dan melingkarkan tangan pada pinggul Mia, ia berbisik.


"Maunya, susu yang langsung dari sumbernya,"


"Itu langsung dari sapi lho!"


"Gak mau susu sapi, maunya susu kamu,"


Gurat merah merayapi pipi Mia, suaminya semakin hari semakin vulgar dalam berkata-kata. Ah... Mia bisa dewasa sebelum waktunya.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!


__ADS_2