Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 122


__ADS_3

Hotel ***


Hari ini Tania senang sekali, bagaimana tidak? Saat dirinya akan pergi ke acara reuni dia dikejutkan dengan keberadaan Angga di depan pintu apartemennya. Secara terang-terangan Angga menawarkan tumpangan untuk ke acara tersebut. Ditambah lagi pria itu tersenyum menawan, semakin membuatnya tampan hingga hati Tania meleleh saat itu juga. Terbersit dalam benaknya jika Angga sudah kembali seperti dulu, atau mungkin sudah melupakan istrinya.


Tania terus mencuri pandang pada Angga sepanjang perjalanan menuju hotel.


"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Angga yang fokus pada kemudi.


"Nggak, kamu keren," puji Tania.


Angga tersenyum simpul, di balik senyumnya ada seringai yang ia simpan.


Mereka pun sampai ke tempat tujuan. Angga membukakan pintu untuk Tania, wanita itu tersipu malu dengan pipinya yang merona.


Memasuki ruangan aula yang di penuhi banyak orang, terdapat meja-meja panjang yang berjejer dengan kudapan menggiurkan. Tangan Tania merangkul tangan Angga, wanita itu melakukan begitu saja tanpa bertanya. Angga diam tidak merespon, mengikuti semua yang Tania lakukan.


Banyak orang yang menyambut mereka. Angga dan Tania sejak dulu digosipkan sebagai pasangan, hanya saja Angga selalu menyangkalnya.


"Wah, ada Tuan Angga bro," sapa salah satu pria menghampiri. Mereka saling berjabat tangan.


"Apa kabar? Denger-denger kamu sudah menikah, mana istrimu? Tidak diajak?" ucap pria itu. Ia melirik Tania yang masih setia dengan gandengan tangannya pada Angga. "Apa jangan-jangan Tania istrimu?" tambahnya. Tania tersenyum, Angga melihat ke arah Tania dengan senyuman tipis.


"Istriku ada di rumah, dia harus banyak istirahat setelah operasi beberapa hari lalu," Angga menurunkan tangan Tania yang merangkulnya. Tania terhenyak sesaat sebelum akhirnya tersenyum kembali, Angga mengambilkan kudapan untuk wanita itu.


"Oh gitu, semoga cepat sembuh ya istrinya. Kita-kita liat nikahanmu diliput banyak media, boleh juga seleramu. Berat!" gelak tawa menghiasi ruangan itu. Angga mengangguk tanpa melepas senyuman aneh saat melihat Tania memakan kudapannya.


"Aku denger, istrimu anaknya yang punya Adinata Group ya?"


"Cantik tau istrinya, turunan blasteran kaya Tuan Jack,"


"Istrimu gak cemburu liat kalian yang lengket kaya perangko? Beda dulu beda sekarang kali Angga, kamu udah punya istri. Jaga lah perasaannya," wanita lain ikut nimbrung. Salah satu teman Angga saat kuliah. Hati Angga tersayat dengan perkataan wanita itu. Kenyataannya dia tidak bisa menjaga hati sang istri.


Tania yang mendengar ocehan salah satu teman merasa risih. Dia tidak mau Angga sampai berubah sikap menjadi menjaga jarak dengannya. "Istri Angga pengertian, gak kaya kamu cemburuan, overthinking aja kerjaan. Jangan didengerin, Angga!" sanggah Tania.


Mata wanita lain itu berputar malas. "Oke deh, terserah kamu." Wanita itu memilih pergi, tidak mau ribut di acara seperti ini.


Tania bernafas lega melihat wanita itu pergi, dia beralih pada Angga yang diam saja. "Kamu gak apa-apa kan Angga? Jangan di ambil pusing perkataan dia," Tania mengusap tangan Angga yang segera ditepis pria itu.


"Jangan pernah sentuh aku lagi, jangan pernah temui atau sengaja datang ke kantorku lagi," ucap Angga dingin dengan sorot mata tajam.


"A-apa?" Tania seolah salah mendengar.


Salah satu teman Angga terkejut melihat perubahan kulit pada Tania. "Tania, kulit kamu kenapa?"


Wanita itu masih kebingungan dengan ucapan Angga, ditambah temannya yang berteriak melihat kulitnya yang memerah di seluruh tubuhnya. "I-ini?" matanya terbelalak melihat sisa kudapan yang ia makan, terlihat potongan udang di sana. Sontak dia langsung melempar kudapan itu, nafasnya mendadak sesak ia menatap Angga heran


"Kamu... sengaja?" Tania memegang dadanya. "Uhuk, uhuk, uhuk." Wanita itu terduduk dilantai.


"Tania kamu kenapa?" teman yang lain tampak khawatir. Namun, langkahnya terhenti kala Angga berteriak.


"JANGAN ADA YANG BANTU DIA, JIKA TIDAK MAU BERURUSAN DENGANKU!"

__ADS_1


Para tamu acara itu pun tidak bergeming. Mereka tau siapa Angga. Mereka saling melempar pandangan bingung. Tidak lama ada segerombol pria dengan stelan jas hitam memasuki ruangan. Menutup pintu dan berjaga di sana. Suasan ruangan berubah menjadi mencekam, tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Hanya terdengar Tania yang terbatuk-batuk hingga merintih.


Wanita itu merayap tertatih-tatih menggapai tasnya yang terjatuh cukup jauh darinya. Dengan sisa tenaga dan tangan bergetar ia membuka tas, mencari sesuatu di sana. Matanya yang sudah merah membulat sempurna karena yang dicari tidak ada.


"Mencari ini?"


Angga menggoyang sebuat tube obat kecil, memainkannya di hadapan wajah Tania. Tania berusaha menggapainya namun, Angga menarik tube itu.


"Angga... uhuk... berikan... o..bat itu..." Tania memohon dengan mata yang sudah berair antara tangis dan menahan sakit.


"Kenapa waktu itu kamu tidak sibuk mencari ini? Malah pura-pura alergi hingga membuat aku mengabaikan istriku!" desis Angga.


"Uhuk... uhuk... maaf..."


"UCAPAN MAAFMU TIDAK BISA MENGEMBALIKAN BAYIKU!!!


"Bukan, bukan aku ... uhuk ... yang buat Mia... keguguran," sanggahnya.


"Ah... ya, bukan salahmu. Salahku membiarkan ular sepertimu masuk dalam hidupku. Semua salahku tidak percaya pada istriku..." ucap Angga lirih.


Angga menatap datar pada Tania yang berguling karena sesaknya yang semakin menjadi. Salah satu tamu tidak bisa membiarkan lagi, dia mendekati Angga dan merebut tube di tangannya.


"Kamu beruntung Tania... sakitmu tidak sebanding dengan sakitku yang ditinggal bayi dan istriku, ingatlah selalu. Kamu penyebab semua ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu," Angga membalik badan dan pergi meninggalkan ruangan diikuti para bodyguard.


"Bagaimana bisa jadi begini, Tania?" tanya temannya yang menberikan obat. Wanita itu hanya terisak dengan air mata yang mengucur deras.


🌷🌷🌷


Sastroadji Group


"Bukan, bukan aku ... uhuk ... yang buat Mia... keguguran,"


"Maaf... sayang... semua karena aku..."


Pria itu mengusap layar ponsel yang terpampang foto Mia dan dirinya saat menikah. Senyum manis itu malah membuat dada Angga nyeri. Tanpa sengaja ia menekan dial otomatis ke nomor gadis itu, Angga gelagapan, itu adalah panggilan pertama setelah hampir seminggu Mia meninggalkannya.


Dengan hati berdebar ia menunggu panggilan yang tidak kunjung direspon. Angga tersenyum kecut diujung harapannya, tapi siapa sangka didetik akhir panggilan itu diangkat.


[Halo...] suara Mia terdengar bagai melodi indah untuk Angga. Pria itu tertegun sesaat sampai panggilan Mia ke-3 Angga baru berani mengeluarkan suara.


[Halo... Mia...] panggil Angga.


Suara yang membuat Mia merasakan desiran di hatinya. Gadis itu pun merasakan rindu berat. Terbiasa tidur dalam dekapan pria itu selama tiga bulan, bukan hal aneh jika dia merasakan kehilangan saat tidak ada Angga di sisinya.


[Mia... sayang...] Angga memanggil kembali karena Mia sempat terdiam.


[Ya...] sahutnya pelan.


[Bolehkah... aku melihatmu?] dengan penuh keberanian, Angga nekat meminta hal yang mungkin tidak disejutui oleh gadis itu.


Panggilan langsung terputus, membuat Angga menahan nafas. Harusnya dia tidak banyak maunya. Jika dia menahan diri, mungkin saat ini ia masih mendengar suara istri tercintanya. Siapa sangka saat tangannya ingin meletakkan ponsel pada meja panggilan masuk terdengar, mata Angga melebar saat melihat video call dari Mia terpampang di sana.

__ADS_1


Dia menerima permintaanku, terima kasih Tuhan.


Dengan segera ia menekan tombol hijau, tampak lah wajah gadis yang dia rindukan setengah mati. Wajah itu seperti habis bangun tidur, pipi Mia terlihat semakin chabi. Gadis itu mengenakan tangtop longgar berwarna hitam, tunggu dulu... Mia tidak mengenakan bra. Terlihat p*ting payudara yang menonjol di balik kain itu. Ah... ini sangat menyiksa, di bawah sana langsung berdiri tegak tidak tertahankan. Angga berusaha menahan matanya agar tidak melihat ke arah sana.


"Maaf, aku baru bangun tidur," Mia tersenyum manis, membuat jiwa rindu Angga semakin meronta.


Gadis itu merapikan rambutnya yang terlihat sangat exotis di mata Angga. Pria itu terus menatap Mia tanpa berkedip membuat gadis itu risih.


"Kenapa? Jelek ya?"


Angga baru tersadar dari lamunan liarnya.


"Kamu selalu cantik saat apapun," jawabnya jujur.


Mia merona, ia kikuk sendiri. Canggung kini yang ia rasakan.


"Kamu, apa kabar?" tanya Angga.


"Baik,"


"Luka operasimu, bagaimana?"


"Sudah mendingan, sebentar lagi juga sembuh,"


"Bagus lah kalo begitu," Mia mengangguk setuju. "Kamu gak nanya kabar aku?" tambah Angga. Pertanyaannya malah membuat Mia malu. Seolah gadis itu tidak perduli padanya.


"Hm.. iya, gimana kabarmu?" tanya Mia pelan.


"Tidak baik, aku sakit, aku rindu, tidak bisakah kamu pulang sayang?" bujuk Angga.


"Maaf... A-"


"Mia, temanmu datang neh!" panggil Tante Catherine memotong ucapa Mia. Gadis itu menoleh pada ponselnya.


"Maaf, ada tamu. Nanti di sambung lagi ya," ucap Mia menyesal.


Angga nelangsa, baru sebentar dia melihat Mia. Ada saja gangguan.


"Siapa tamunya?" tanya Angga penasaran.


"Haris udah nungguin lama, cepetan!" Catherine kembali berseru membuat Angga menyalakan alarm bahaya ketika mendengar nama orang yang akan Mia temui.


"Iya Tan, suruh tunggu aja," Mia ikut berseru, lalu beralih pada Angga yang menampakkan wajah masam. "Aku tutup ya, mau siap-siap dulu," jelasnya.


"Tung-" video call pun terputus. Angga menggeram kesal.


"Sepenting apa seh temennya? Pake siap-siap segala!" Angga mencak-mencak sambil berkacak pinggang. "Haris... pria itu teman SMA Mia," mendadak ia merasakan rasa nyeri di hatinya. Perasaan yang sangat tidak nyaman.


"Seperti ini kah yang kamu rasakan dulu?" gumam Angga sambil meraba dadanya. "Ternyata, sakit..." Angga tersenyum miris. Kini ia tau seperti apa perasaan Mia waktu itu.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Gimana rasanya Om? enak kan?? sedeeep bener...


__ADS_2