Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 49


__ADS_3

"Ahhhh... Capek banget. Capek pikiran, capek hati."


Padahal perasaan sakit karena ditinggalkan si Om sudah mulai akan mengering. Tapi karena kejadian ini membuatnya teringat lagi, kenangan manis sekaligus pahit. Seperti sayur pare yang suka Mbak Darmi masak. Mbak Darmi selalu memasak itu dengan ikan teri sebagai campurannya.


Meski pahit tapi bikin ketagihan.


Mia hanya tersenyum mendengarnya. Karena selama ini ia tidak pernah mencoba memakan sayur itu. Mungkin lain kali ia akan memakannya. Sambil merelakan Om nya untuk menikah dengan orang lain.


Laras yang selama ini menghiburnya, membuatnya melupakan sakit itu meski sesaat. Kini Mia merasakan rindu yang mendesak di dadanya. Mia menatap ponselnya dan segera mengirim pesan permintaan maaf yang panjang pada Laras.


💌 [Salam cinta untukmu sahabatku... beberapa waktu telah kita lewati bersama. Baik suka maupun duka...


Kamu selalu ada untukku menemani dan menuntunku, menghiburku dan menasehati ku, memarahi ku dan menegurku...]


[Sungguh kau bagai ibu ke-dua bagiku yang selalu mengerti tanpa menggurui. Kau memahami apa yang terbaik dan menjaga ku dari yang buruk. Kau berarti lebih dari yang bisa aku gambarkan di dalam hidup ku.]


[Maaf... Maafkan aku yang mengecewakan mu. Aku hanya ingin kamu tau... kamu sangat berharga bagiku.] 💌


Setelah mengetik pesan yang begitu panjang. Mia meletakkan ponselnya. Hanya tanda ceklis 1 disana. Membuat Mia semakin merasa sedih. Apakah Laras sudah tidak sudi lagi berteman dengannya? Air mata pun mengalir membasahi pipi Mia, dia butuh sahabatnya. Dia sendirian...

__ADS_1


🌷🌷🌷


Getaran ponsel Mia mengusik tidurnya yang baru 30 menit. Mia mengusap matanya yang sembab karena menangis. Ia meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. 'Raisa'


Mia pun segera mengangkatnya.


[Hallo... Raisa?]


[Mia! Oh thankyou udah angkat telpon gue.]


[Ada apa?] tanyanya khawatir.


[Tolong gue Mia, gue gak tau mau minta tolong sama siapa lagi. Gue... gue terkunci!] Raisa berucap sambil terisak.


[Dikamar mandi Hotel.]


[Kamar mandi hotel? Kok bi-]


[Please tolong gue, badan gue lagi gak enak. Gak bisa diri, cepetan ya lo kesini! Lo aja sendiri, gue malu klo ada orang lain yang liat gue kacau kayak gini. Please Mia... Help me!] ucap Raisa memohon.

__ADS_1


Mia yang didesak pertolongan seperti itu hanya bisa ikut panik. Yang terpenting saat ini adalah mengeluarkan Raisa dari kamar mandi itu.


[Ok, gue kesana! Dimana Hotelnya? kasih tau alamatnya!] Mia bergegas bangkit dari tidurnya mengambil asal dress dari lemari, dengan secepat kilat ia berganti baju. Mengambil jaket dan dompet sambil menjepit ponsel antara telinga dan bahunya.


[Gue shareloc lewat WA ya!] Raisa menutup telepon setelah itu.


Beberapa menit kemudian terdapat pesan dari Raisa. Lokasi Hotel tempat ia terkunci saat ini. Dengan setengah berlari Mia keluar rumah, ia langsung memasuki mobil dan membawanya keluar dari halaman.


Para bodyguard mengeryitkan kening melihat Nona mudanya pergi tanpa pamit.


"Panggil Pak Hasan! Nona Mia pergi barusan gak pamit, pasti ada yang gak beres!" teriak salah satu bodyguard.


🌷🌷🌷


Hotel ***


Dalam waktu 30 menit Mia sampai ke Hotel yang di tuju. Ia melangkah dengan tergesa-gesa. Berulang kali ia berkeliling memikirkan akan membawa office boy atau tidak ke dalam kamar Raisa. Saat teringat perkataan Raisa yang malu jika ada orang lain membuatnya mengurungkan niat.


Tanpa disadari, ada sepasang mata yang terus menatapnya tanpa berkedip. "Mia."

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2