Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 40


__ADS_3

Kediaman Sastroadji


Seminggu telah berlalu, seminggu pula terjadi perang dingin antar Hani dan Angga. Angga yang tidak menghiraukan keberadaan Hani, sedangkan Hani yang malu akan penolakan Angga memilih menghindar.


Semua itu tidak luput dari perhatian Nyonya Anggun. Satu atap tapi seperti orang lain, tidak ada sapaan manja yang biasa Nyonya Anggun dengar dari mulut Hani. Angga bahkan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor hingga sering pulang larut malam.


Hani merasa tidak diinginkan, setiap malam ia menangisi hatinya yang begitu mendamba akan cinta Angga. Hani merasa lelah, ia mulai berfikir untuk menyerah dan kembali ke London.


"Hani, sedang apa kamu?" Nyonya Anggun terhenyak saat melihat Hani sedang mengepak pakaian ke dalam kopernya. Ia menghampiri calon menantu memasuki kamar.


Kegiatan Hani sempat terhenti, namun diteruskan kembali oleh Hani setelah memberikan senyum pada calon mertua yang sebentar lagi akan menjadi orang lain. "Hani mau pulang Ma."


Helaan nafas lelah terhembus dari mulut Nyonya Anggun. Beliau meraih tangan Hani lembut dan menggenggamnya. "Kenapa harus pulang? Kamu menyerah untuk melunakkan hati Angga?" Tampak raut sedih menghiasi wajahnya.

__ADS_1


Manik hitam itu menatap wajah sendu sang calon mertua, tidak lama isak tangis lolos dari bibirnya. Ia menutup mulut dengan telapak tangan mencegah suara keluar. Nyonya Anggun memeluk dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut, memberitahu jika ia selalu mendukungnya.


"Hani...Hani nggak tau Ma. Rasanya sangat sulit, Angga tidak pernah mencintai Hani," Tubuhnya bergetar. Dadanya selalu sesak meski sudah lama tau jika Angga tidak pernah mencintainya. Selama ini Angga hanya menuruti keinginan sang Mama untuk bersama Hani.


"Maafkan anak Mama ya, Mama benar-benar merasa bersalah sama kamu. Sampai kapan pun kamu tetap anak Mama!" Nyonya Anggun pun ikut menangis, menyesali Angga yang tidak kunjung membuka hati untuk Hani. Salah kah dia? Dia hanya berfikir bukankah cinta akan datang jika terbiasa?


Nyatanya tidak semua bisa seperti itu. Cinta tidak bisa kita prediksi, dan kita tidak bisa menentukan kemana ia akan berlabuh. Seperti kata panglima tianfeng (Cinta... penderitaannya tiada akhir). Cinta pun tidak selalu berakhir baik atau bahagia, tidak sedikit yang akhirnya tidak bersatu.


Rasa hangat menyusup kedalam relung hatinya yang pedih. Dibalik semua pilu, Hani masih mempunyai cinta seorang Ibu kepada anaknya yang tidak ia dapatkan dari orang tuanya sendiri.


"Makasih Ma, selalu dukung aku," Hani mengusap air matanya. "Mama juga akan selalu jadi Mama Hani."


Nyonya Anggun tersenyum haru, Ia selalu mendambakan seorang anak perempuan dalam keluarganya. Tapi tuhan tidak memberikan kepercayaan padanya hingga hanya dikaruniai seorang anak yaitu Angga.

__ADS_1


"Angga bakalan nyesel udah sia-siain kamu!" ucapan Nyonya Angga membuat Hani terkekeh. Kini dua wanita beda usia itu saling melempar senyum kelegaan. Hani mencoba melepaskan belenggu pada Angga, karena ia sadar cinta tidak bisa dipaksakan.


Mungkin ini yang terbaik, aku merelakanmu karena aku mencintaimu. Berbahagialah sayang...


🌷🌷🌷


SMA ***


Sejak kejadian Farel mengungkap kebohongan Haris, Haris menerima hukuman dari Mia dan Laras untuk mentraktir mereka selama 1 bulan.


"Ah, bangkrut deh gue! Traktir 3 orang gak tau diri!" keluh Haris.


Bagaimana tidak, 3 temannya itu meminta traktir makan di Cafe secara acak selama sebulan. Sebenarnya hanya Mia dan Laras, tapi seolah ingin menambah kesal Farel ikut-ikutan minta traktir yang tidak bisa ditawar karena Mia mengijinkan. Haris bisa apa kalau sudah Mia yang meminta? Minta ginjal pun akan dia berikan. (lebay loe Har!).

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2