Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 107


__ADS_3

Warning, rate 21++ harap bijak dalam membaca.


Milik Mia berkedut seiring hembusan nafas yang memburu. Kepalanya berkunang, karena nikmat yang masih ia rasakan.


Ya ampun! Kamu menikmatinya, Mia!


Ketika merasakan kembali gesekan di bawah sana, Mia yang sedari tadi menatap langit-langit kembali menatap Angga yang terus memandangi miliknya yang memerah dan basah. Gadis itu menutupinya dengan tangan.


"Kenapa?"


"Malu, Om.."


"Jangan panggil Om lagi," Angga menggeram. Mia lupa jika ia sudah menikah, kebiasaannya itu terbawa hingga sekarang.


"Maaf."


"Panggil namaku,"


"Angga..." panggilan itu kembali membuat hasrat Angga naik. Entah rasanya sangat berbeda jika Mia yang memanggil namanya.


Angga kembali mencium bibir bagai candu itu, Mia menangkap rasa asin dari lidah Angga dan ia tau itu adalah jejak perbuatan Angga padanya tadi. Dengan terburu-buru pria itu menanggalkan celana panjang yang masih melekat di tubuhnya. Kemudian bangkit membuka lebar kaki Mia.


Meneguk saliva kasar, Mia memberanikan diri untuk melihat bagaimana Angga menempatkan milik pria itu di depan miliknya.


"Katanya kalau pertama itu sakit. Tapi aku mau kamu menahannya," pinta Angga dibalas anggukan oleh Mia.


Angga kembali memberikan rangsangan pada Mia yang tampak tegang. Beberapa saat ketika Mia kembali mendesah, menggerakkan pinggulnya gelisah, Angga memulainya.

__ADS_1


Mencoba menerobos masuk. Pria itu harus kembali mundur saat tangan Mia menahan dadanya. Gadis itu mengangguk, membenarkan ucapan Angga tadi. "Sakit."


Tersenyum mengerti. Angga memberikan sentuhan pelan, membuat milik Mia kembali siap. Ketika dirasa cukup, Angga kembali mencoba dan diam ketika sudah setengah jalan. Jemarinya bergerak ke bawah, melihat tetes darah yang kemudian ia usapkan ke paha istrinya.


"Perih," rintih Mia yang mendadak kehilangan rasa nikmatnya. Ia meringis, meminta Angga segera menuntaskan semuanya.


Maju untuk memberikan kecupan-kecupan ringan di bibir Mia. Angga memeluk tubuh gadis itu dan dalam satu sentakan kuat ia membiarkan seluruh dari dirinya masuk. Menciptakan pekikkan kesakitan Mia.


"Aaakkhhhh sakit!!" keluh Mia saat panas dan pedih berbaur menyerbu pusat tubuhnya.


Angga menahan geraman nikmatnya. Mengecupi leher Mia, pria itu mengangkat tubuh untuk melihat wajah merah Mia. "Aku gerakkan ya?" tanyanya yang dibalas anggukan pelan Mia. Gadis itu mulai terbiasa.


Meremas kedua dada besar istrinya, Angga mulai bergerak pelan. Membuat Mia semakin merasakan perih dan panas. Gadis itu merintih namun tidak meronta meminta untuk dilepaskan. Alih-alih mundur, Mia mengangkat tubuh untuk mengalungkan tangan ke leher Angga dan memagut bibir pria itu lembut, hingga rasa nikmat yang begitu asing kembali menyambanginya.


"Aaakh!!" desahnya setengah berteriak ketika Angga semakin cepat menghentaknya.


Angga terus berpacu memberikan kepuasan untuk mereka berdua membuat Mia semakin larut dalam gairah. Hingga gelombang itu kembali menyerbunya bersamaan dengan Angga yang mulai meracau.


"Shit! Kamu sempit, Mia! Aaah!"


Angga memegang erat pinggul Mia, menyemburkan bukti kepuasannya yang tertahan selama ini ke dalam milik Mia, dan menekannya begitu dalam.


Nafas mereka berdua tersengal, Angga menjatuhkann tubuh ke atas diri Mia yang sama-sama memburu oksigen.


Mereka terdiam sesaat, kemudian Angga menggeser tubuhnya di samping Mia. Pria itu merangkul gadis yang sudah menjadi wanita beberapa saat yang lalu, mengecup keningnya dengan penuh perasaan.


"Terima kasih, sayang,"

__ADS_1


Mia mengangguk, ia terlalu malu untuk bersuara. Tidak menyangka jika dirinya bisa begitu erotis barusan, mendesah serta melenguh mendamba setiap sentuhan Om ganteng. Eh, bukan. Sekarang bukan itu panggilannya. Tapi 'sayang'.


Namun detik kemudian Angga bangkit dari tidurnya, ia mengingat sesuatu hal penting yang terlupakan barusan. Tanpa perduli tubuhnya yang polos, ia beranjak dari ranjang menuju meja rias. Bahunya merosot saat membuka laci, ia lupa memakai pengaman!


Mia menatap Angga yang terdiam dengan bingung. Melilitkan selimut pada tubuhnya, kemudian menghampiri Angga di depan meja rias. Rasa ngilu dan pedih menyeruak di pusat tubuhnya ketika ia melangkahkan kaki, namun ditahannya.


"Ada apa? Sa..yang?" tanyanya kikuk, lidahnya serasa kaku menyebut kata kramat itu.


Angga menoleh dan tersenyum, ia menutup laci mencegah Mia melihatnya. "Tidak apa-apa, kamu pasti capek. Yuk tidur!" ajaknya sambil menuntun Mia ke ranjang.


Gadis itu belum mengantuk, akibat rasa sakit dan nikmat bersamaan tadi. Kini matanya terbuka seperti lampu neon di pinggir jalan yang terang benderang.


"Aku belum ngantuk,"


"Apa kamu lapar? Biar aku ambilkan ya, tunggu di sini!" Angga mengambil celana dan atasan piyamanya yang masih ada di lemari. Pria itu segera pergi setelah berpakaian tanpa menunggu kata dari Mia yang sebenarnya tidak lapar.


"Aku gak lapar, main pergi aja," gerutu Mia. Ia memilih duduk di atas ranjang dan memainkan ponselnya. Banyak ucapan selamat dari teman-teman SMA lamanya dan dari Le Rosey. Samantha dan Louis tidak datang dikarenakan Ayahnya Samantha sakit. Saat ini mereka sedang di Paris, ucapan maaf mereka kirimkan melalui voice note.


🌷🌷🌷


Kepulan asap rokok terlihat memenuhi ruangan kerja Angga. Ia mengusap rambutnya kasar karena keteledorannya barusan. Bagaimana bisa ia lupa memakai pengaman? Kalau Mia hamil bagaimana? Angga tidak mau mengambil resiko. Jangan sampai Mia hamil, tidak boleh! Setelah ini ia akan membawa gadis itu ke rumah sakit untuk dipasangkan alat kontrasepsi agar lebih aman.


Melirik jam dinding, ia baru menyadari jika sudah meninggalkan istrinya cukup lama. Istri... kata itu membuat hatinya menghangat. Sejenak hal itu mengaburkan pikiran buruk yang bercokol di kepalanya tadi. Kini Mia telah menjadi istrinya, menjadi miliknya seutuhnya.


Saat sampai di kamar terlihat Mia yang telah tertidur, menunggu Angga yang tidak kunjung muncul membuat Mia memilih untuk tidur. Angga meringis sambil melihat ke arah nampan yang ada di tangannya. Ditaruhnya nampan itu di atas meja rias, Angga kemudian bergabung dengan Mia. Pria itu memeluk Mia dari belakang, mengecup bahu gadis itu lembut sebelum ikut mengarungi dunia mimpi.


Please rate, vote dan likenya yach!!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!


Hm... ada apa neh Om?? awas ya klo ada udang di balik bakwan, tak sunaatin!


__ADS_2