Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 114


__ADS_3

Sastroadji Group


Selama 1 minggu ke depan Bara dan Yanti cuti bulan madu. Angga meminta staff lain melakukan pekerjaan mereka untuk sementara. Kini ia sedang melakukan rapat direksi, ada beberapa perusahaan lain yang mengikuti rapat tersebut. Salah satunya perusahaan tempat sahabat Angga bekerja, yaitu Tania.


Rapat pun berjalan lancar, tiba saatnya mereka break untuk makan siang.


"Angga, kita makan siang bareng yuk! Aku tau tempat sushi yang enak," tawar Tania. Ia berjalan beriringan dengan Angga saat keluar dari ruangan meeting.


Pria itu tersenyum, ia mengangguk tanda setuju. "Ok, kebetulan lagi kangen makan sushi."


Tania senang bisa menghabiskan waktu dengan Angga, tidak apa meski sebentar. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan ini, walau kenyataan Angga hanya menganggapnya sahabat. Matanya melirik pada cincin perak yang melingkar di jari manis Angga. Ia tersenyum masam, lalu memandang Angga yang serius pada ponselnya. Pria itu tampak menelpon seseorang.


[Sayang, kamu lagi apa? Aku baru mau makan siang,] ucap Angga pada seseorang di seberang sana. Wajahnya sumringah, melihat itu hati Tania serasa diremas.


[...]


[Ok, kamu juga jangan lupa makan ya. Love you,] panggilan pun berakhir. Angga menoleh pada Tania yang terdiam dengan wajah pucat.


"Kamu gak apa-apa? Wajahmu pucat, Tania," Angga mendekat dan meletakkan tangannya pada kening Tania.


Wanita itu mengerjapkan mata, ia menatap Angga yang berjarak dekat dengannya. Ingin rasanya ia memeluk erat tubuh tegap pria tersebut, namun Tania tidak cukup berani.


Tania tersenyum lalu menurunkan tangan Angga yang masih menempel pada keningnya. "Aku gak apa-apa, mungkin karena lapar," sergahnya.


"Ah iya, kamu pasti lapar. Ayo kita langsung ke tempat yang kamu bilang tadi!" Angga merangkul wanita itu, ia membawa wanita itu menuju lift.


Angga tidak sadar sikapnya akan menjadi masalah dikemudian hari, kebiasaan lama saat kuliah yang selalu merangkul Tania terjadi begitu saja di bawah alam sadarnya. Sedangkan Tania menikmati itu, baginya semua lebih dari cukup. Ia merasa Angga masih sama seperti dulu, tidak akan pernah berubah.


🌷🌷🌷


Waktu berjalan dengan begitu cepat, 3 bulan pun telah berlalu. Bara dan Yanti sudah masuk ke kantor seperti biasa, yang beda adalah panggilan Yanti yang berubah dari Tuan menjadi Mas.


Pasangan itu berhasil membuat seluruh karyawati iri. Lebih tepatnya iri pada Yanti yang sanggup menaklukan si batu es Bara. Pria itu terkenal dingin saat berada di kantor, semua karyawan segan bila berhadapan dengannya.


"Mas... sini deh!" panggil Yanti saat melihat suaminya hendak menuju lift.

__ADS_1


Bara mendekati meja sekretaris. "Ada apa?" ucapnya sambil melihat arloji.


"Ish, mau ke mana seh? Buru-buru banget!" bibir Yanti mengerucut sebal.


Bola mata Bara berputar malas. "Aku mau ke ruang HRD, sayang. Ada perlu," jelasnya dengan suara lembut. Yanti jika merajuk akan memakan banyak waktu, dan Bara tidak memilikinya. Ia sedang tergesa-gesa.


"Aku sebel Mas, sama cewek yang sering ke sini itu. Yang katanya sahabat Tuan Angga," celoteh Yanti.


Bara menaruh telunjuknya pada bibir istrinya. "Jangan keras-keras! Nanti terdengar Tuan Angga," Bara menoleh ke belakang. Takut jika orang yang bersangkutan ada di sana.


Yanti menepis jari Bara, ia gemas sekali kenapa suaminya diam saja melihat wanita lain mendekati Tuannya yang sudah beristri. "Biarin! Biar kedengeran, aku sengaja! Cewek itu pasti dateng lagi hari ini alasan kerjaan, aku tau nih modelan gini. Bibit pelakor!" sungut Yanti berapi-api.


Bara menghela nafas. Ia sudah berkali-kali mengingatkan Tuannya, namun Angga tidak mengubrisnya. Ia terus meyakinkan Bara jika mereka hanya sebatas sahabat, tidak lebih. Bara tidak meragukan Tuannya, tapi ia meragukan wanita itu. Hampir setiap hari ia datang, bahkan hanya sekedar untuk makan siang.


"Apa aku kasih tau Nona Mia aja, Mas!" Yanti meminta saran. Bara sontak membulatkan mata.


"Jangan, jangan ikut campur rumah tangga Tuan! Kita sudah cukup mengingatkan, bukan ranahnya jika kita terlalu dalam mencampuri urusan mereka," Bara menatap Yanti serius.


Yanti menggeleng. "Tapi, Mas..."


Yanti hanya terdiam, ia mengalami kegamangan. Sebagai sesama wanita ia hanya tidak ingin Mia mengalami patah hati, mengetahui suaminya didekati wanita lain.


Tidak lama, firasat Yanti pun terjadi. Tania datang dengan membawa sesuatu di tangannya. Sebuah paperbag.


"Hai Yanti, Angga ada di dalam?" sapa Tania saat ia berdiri di depan pintu ruangan Angga.


Yanti menampakkan wajah tidak suka, memandang sinis wanita di depannya itu. "Masuk saja, bukannya anda setiap hari datang ke sini?" ketus Yanti. Ia melengos untuk kembali duduk mengabaikan keberadaan Tania.


Wanita itu mengeryit bingung. Perkataan Yanti adalah sindiran untuknya, ia tersenyum cemooh. "Jangan hanya karena kamu istri Bara, jadi bertindak tidak sopan. Saya bisa mengadukan ini pada Angga," ancam Tania.


Oh, bukan Yanti jika diam saja. Gadis itu berdiri dan berjalan menghampiri Tania. Ia mendekatkan wajah sambil berbisik.


"Anda bukan siapa-siapa dibandingkan saya," Yanti menjauh dengan senyum mengejek. "Anda bukan tandingan Nona Mia, sebaiknya anda mundur teratur sebelum membuat malu diri sendiri. Dasar tidak laku!" ucapan tajam Yanti membuat wajah Tania memerah.


Wanita itu menatap nyalang pada Tania di sertai tangannya yang melayang ke udara hendak menampar gadis itu, beruntung Bara datang tepat waktu. Bara menahan tangan Tania yang menggantung.

__ADS_1


"Benar kata istri saya, sebaiknya anda jaga sikap. Saya diam karena masih memandang Tuan Angga, tapi kali ini saya tidak mentolerir sikap anda yang sudah kelewatan terhadap istri saya!" Bara menggeram. Dihempas tangan Tania begitu saja.


Tania menahan tangis, ia memilih memasuki ruangan Angga. Saat masuk ruangan ia segera memasang senyum manis. Ternyata ia pandai berekspresi.


Angga menyadari keberadaan Tania, ia beranjak dari sofa mendekati wanita itu. "Hai, Tania. Ada perlu apa? Bukan kah aku sudah mengirim berkas ke perusahaanmu?"


"Aku... aku bikin bekal, aku mau makan bareng sama kamu. Gak apa-apa kan?" Tania membuka paper bag lalu meletakkan kotak bekal di atas meja. Ia membuat yakiniku untuk makan siang.


Angga sebenarnya mulai merasa risih dengan kedatangan Tania yang hampir setiap hari ke kantornya. Hanya saja, ia tidak enak untuk menyampaikan keluhannya itu. Meski begitu ia berusaha menjaga perasaan sahabatnya tersebut.


"Wow, kamu masih inget yang aku suka ya," Pria itu berbinar melihat menu kesukaannya ada di meja makan.


"Aku tidak akan pernah lupa," sahut Tania serius. Namun Angga tidak menyadari tatapan itu, ia asik mencicipi hidangan yang ada di meja.


Ada sisa saus di sudut bibir Angga, Tania mengusapnya dengan tisu. Diwaktu bersamaan Mia datang memasuki ruangan Angga. Ia membawakan bekal hasil belajar masaknya dengan mertua. Gadis itu terpaku sesaat melihat hal itu, Angga yang menoleh ke arah pintu terbuka melebarkan mata.


"Sayang..."


"Hmm.. maaf mengganggu, aku hanya kebetulan lewat. Permisi," Mia berbalik badan hendak pergi. Hatinya pedih, tidak menyangka akan mendapatkan pemandangan yang menyesakkan dada. Ia melangkah dengan cepat mengabaikan panggilan suaminya.


Angga menepis tangan Tania, ia segera bangkit dari duduknya dan mengejar Mia. Tania hanya bisa menatap nanar kepergian Angga yang meninggalkannya.


"Sayang... tunggu, Mia!!!" Angga mengejar Mia dengan setengah berlari. Namun terlambat pintu lift sudah tertutup saat Angga hampir menggapai istrinya.


"Shit!!!" Angga memukul pintu lift kesal.


Ah, pasti dia mikir macam-macam. Bagaimana ini?


Pria itu segera menuju tangga darurat. Padahal lantai yang saat ini ia pijak adalah lantai 30. Angga sudah tidak perduli, jika bisa ia ingin langsung melompat untuk mengejar istrinya.


Dengan nafas tersengal ia akhirnya mencapai lobby. Harapan tinggal harapan, kenyataannya Mia sudah pergi 15 menit yang lalu. Tidak hilang akal, Angga memilih pulang ke rumah. Sambil merogoh ponsel di saku jasnya, ia menghubungi Bara jika ia pulang cepat dan meminta Tania untuk kembali ke perusahaannya.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Hayooo loo Om... 😱😱😱


__ADS_2