
"Kemana aja? Kenapa kamu gak dateng pas nikahan aku?" Angga memberondong pertanyaan.
Orang itu terkekeh, ia menoleh pada Bara yang tertegun menatapnya. Angga menyadari itu.
"Oh ya, Bara. Kenalin, ini sahabat aku waktu kuliah," jelas Angga pada Bara yang masih terdiam. "Tania, ini Bara asisten pribadi aku,"
Mereka berdua pun bersalaman. Tania tersenyum manis, Bara hanya mengangguk dengan wajah datar.
"Asistenmu emang gitu ya mukanya? Serem," canda Tania.
"Ah... dia cuma senyum sama tunangannya," kekeh Angga.
Bara yang disebut seram tidak bergeming. Ia memindai Tania dengan seksama, memastikan tidak ada yang aneh pada wanita itu.
"Aku gak disuruh duduk neh?" sindir Tania. Angga gelagapan.
"Oh ya, sampe lupa! Silahkan duduk Tania," Angga menggiring wanita itu di sofa. Mereka pun duduk bersebrangan. Angga tersenyum sumringah sebelum ia menanyakan sesuatu.
"Kamu mau minum apa Tania?" tanya Angga.
"Yang seger-seger ada gak?" seloroh Tania.
"Orange jus kan, Ok. Bara bawakan kami 2 orange jus," pinta Angga pada Bara. Bara langsung pergi untuk membawa yang dipesankan Tuannya.
Saat pria itu melewati Yanti dengan nampan berisi 2 gelas orange jus, gadis itu segera menghadang.
"Buat siapa Mas?" tanya Yanti keppo.
"Tamu yang katanya sahabat Tuan Angga," jawab Bara.
"Cewek apa cowok?"
"Mau tau aja apa mau tau banget?"
"Ih, Mas. Aku nanya serius!"
"Cewek! Udah ya, udah ditungguin neh," Bara segera melenggang pergi meninggalkan Yanti yang masih ingin bertanya.
Cewek? Yanti tampak berfikir. Tidak biasanya Tuan Angga menyediakan minuman hingga menyuruh tunangannya. Sahabat ya... Yanti menggelengkan kepala, berusaha menepis pikiran buruk yang terlintas di benaknya.
🌷🌷🌷
Ternyata perusahaan Angga bekerja sama dengan perusahaan tempat Tania bekerja, Tania sebagai General Manager mewakili perusahaannya menyerahkan beberapa berkas untuk ditanda tangani oleh Angga.
"Aku gak nyangka kita bisa kerja bareng," ucap Angga antusias.
__ADS_1
"Aku juga! Waktu liat nama perusahaan kamu, aku langsung ambil bagian, moga semua berjalan lancar ya," harap Tania.
Pria itu mengangguk, hari ini benar-benar hari yang sangat mengesankan untuknya. Senyum cerah terus tersungging di wajah tampannya.
"Beda ya, yang pengantin baru. Kamu keliatan bahagia banget," ujar Tania.
"Iya, aku bahagia banget. Akhirnya bisa hidup sama orang yang sangat aku cintai, dia segala-galanya buat aku," ucapnya menerawang membayangkan senyuman Mia yang menantinya pulang. "Duh, jadi gak sabar pengen pulang," sambungnya.
Tania tersenyum tipis, dalam hatinya bagai teriris. Betapa beruntungnya wanita yang dicintai pria itu. Dia iri, kenapa bukan dirinya?
"Dia gadis yang luar biasa, aku gak sabar buat kenalin kamu ke dia."
"Aku jadi ikutan gak sabar buat kenal dia," ucap Tania sambil tersenyum manis. "Ok, udah waktunya aku pulang. Sampai ketemu bula depan," sambungnya.
"Buru-buru sekali, padahal aku masih mau ngobrol. Nostalgia saat kita kuliah," Angga berkata dengan nada kecewa.
Tania belum kuat jika harus mendengar Angga terus menerus memuji istrinya, mungkin dilain hari ia sudah mulai terbiasa.
"Masih banyak waktu, Bye Angga!" pamit Tania.
Angga mengantar Tania hingga sampai lift, wanita itu tersenyum sampai pintu lift tertutup. Tubuhnya merosot, hatinya masih belum merelakan pria yang ia cintai bersama orang lain.
🌷🌷🌷
"Kamu kenapa, Bara?"
"Tuan, saya hanya mengingatkan untuk menjaga jarak pada wanita tadi," ucap Bara serius. Angga yang mendengar hal itu memandang Bara bingung.
"Menjaga jarak? Kenapa?"
"Saya hanya tidak ingin adanya salah paham nanti," tambahnya.
"Salah paham? Maksudmu?"
"Orang yang tidak tahu jika anda dan Nona Tania adalah sahabat akan berfikiran jika kalian adalah sepasang kekasih, Tuan terlihat berbeda padanya," jelas Bara.
Pria itu terkekeh. "Yang benar saja, dia sahabatku. Hanya itu, jangan banyak berprasangka." Angga berjalan menuju meja kebesarannya. "Lebih baik kita bahas pernikahanmu."
Bara menghela nafas, sulit jika Angga sudah mengalihkan pembicaraan. Kini ia hanya bisa berharap agar segala pikiran buruknya tidak akan pernah terjadi.
Waktu pulang kantor telah tiba, Angga terlihat sudah merapikan semua berkas dan bersiap-siap untuk pulang. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istri tercinta, setelah meja kerjanya tertata rapi. Ia segera melenggang pergi meninggalkan ruangannya.
Ditengah perjalanan menuju lobby, Angga berpapasan dengan Bara dan Yanti.
"Calon pengantin harus dipingit, besok Yanti tidak usah masuk kerja! Dan kamu Bara, harus lembur sebelum kamu cuti 1 minggu," ucap Angga sebelum ia kembali berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
Yanti dan Bara hanya bisa melongo. Yanti yang nelangsa tidak akan bisa bertemu dengan pria machonya, sedangkan Bara yang pening karena diminta untuk lembur 1 minggu.
"Aduuuhh...!" ucap mereka berdua serentak.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
Klap
Suara pintu mobil terdengar, dengan tergesa Angga melangkah memasuki rumahnya. Ia rindu sekali dengan dekapan hangat Mia. Langkahnya terhenti saat maniknya menangkap pergerakan di dapur. Ia mendekat dan tersenyum saat tau siapa yang sedang berdiri membelakanginya.
Mia tampak sibuk membuat sesuatu, pria itu memeluknya dari belakang. Mia terhenyak, ia menoleh dengan raut wajah panik. Gadis itu menghela nafas melihat Angga yang mengusap hidung pada ceruk lehernya.
"Wangi..."
"Jangan suka ngagetin ah,"
"Abis kamu serius banget, lagi bikin apaan seh? Sampe gak tau aku udah pulang." Nadanya dibuat manja.
Mia memutar tubuh menghadap suaminya, ia mengecup sekilas bibir Angga yang mengerucut. Seketika wajah Angga kembali sumringah "Aku lagi bikin soto daging buat makan malam kita," Mia berkata sambil mengusap pipi Angga.
"Bik Surti kemana? Kenapa kamu yang masak?"
"Aku yang mau kok, Bik Surti lagi istirahat. Kasian dari pagi kerja terus," jawab Mia.
Angga menatap Mia dengan penuh kekaguman. "Aku sangat beruntung memilikimu, tidak hanya cantik... hatimu baik. Dan..." Dia mengusap bibir merah pucat yang terdapat ulasan tipis di sana. "Selalu memuaskanku di ranjang," kilatan gairah terlihat dimatanya.
Lagi-lagi Angga melontarkan kata-kata absurd yang membuat Mia merinding. Gadis itu mencoba melepas diri namun terlambat, ia sudah dalam cengkraman singa lapar.
"Bagaimana kalo kita coba disini," goda Angga.
"Ini di dapur!" Mia memekik.
Seringai terukir di sudut bibir Angga. "Tidak masalah."
Pergumulan pun terjadi, derit meja makan menjadi saksi bisu percintaan sepasang pengantin baru. Beruntung Nyonya Anggun sedang asik menonton sinetron di siaran lokal tanah air. Suaranya menyamarkan desahan tertahan yang keluar dari bibir menantunya.
Angga benar-benar terpuaskan, tidak hanya nafsu makan yang terpenuhi tapi nafsu yang lain pun dapat tersalurkan dengan baik.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!
__ADS_1