Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 71


__ADS_3

Di Dalam Pesawat


Pesawat yang mereka tumpangi adalah maskapai Etihad kelas bisnis. Masalah fasilitas tidak perlu diragukan lagi, setara dengan pesawat jet sendiri. Bedanya ada penumpang lain. Kenyamanan yang diberikan membuat orang yang menaikinya tidak merasa bosan, bahkan tidak terasa saat sudah sampai tujuan.


Tempat duduk kelas bisnis yang sudah cukup lega, bisa diatur sesuka hati pula. Membuat kita bisa mencari posisi yang paling nyaman untuk beristirahat. Pada kursinya juga terdapat fasilitas massage  jika diaktifkan, kursi akan bergetar-getar sesuai dengan lokasi menu pijit yang dipilih.



Pak Tarjo terlihat asik mengutak atik tombol itu membuat Bara mengurut pangkal hidungnya.


"Ya ampun Nak, saya belum pernah duduk di kursi senyaman ini. Bisa mijit pula, serasa di Surga," Celotehnya riang.


Bara mendelik. "Memangnya Bapak pernah ke Surga? Bapak udah mati donk,"


Pak Tarjo malah terkekeh. "Ya belum pernah, jangan dulu mati lha. Kalo sudah punya cucu, baru saya siap mati." Seloroh Pak Tarjo.


Perbincangan mereka terputus kala seorang Pramugari cantik menghampiri menawarkan welcome drink. Terdapat beberapa pilihan menu yang bisa kita pilih. Bara memilih kopi untuk dirinya dan Pak Tarjo. Tidak lama pesanan datang, secangkir kopi lengkap dengan snack macam kenari dan kacang mede, plus sebutir coklat, tak lupa sedikit susu untuk tambahan pada kopi.



Pak Tarjo tampak berbinar, sebelum pria itu melontarkan kata. Bara lebih dulu meletakkan jarinya ke mulut Pak Tarjo, isyarat untuk diam diberikan oleh Bara lewat tatapan maut. Pramugari cantik itu hanya tersenyum simpul kemudian berlalu pergi. Setelah itu bara menarik jarinya dari wajah Pak Tarjo.


"Saya cuma mau bilang makasih kok, Nak Bara." Bisik Pak Tarjo.


"Tidak usah, itu sudah tugasnya," Ucap Bara ketus sambil menyesap kopinya.


Pak Tarjo mengabaikan sikap Bara dan beralih pada kopi miliknya, senang sekali Bapak ini. "Enak ya Nak di dalam pesawat, dikasih kopi sama cemilannya juga. Haduh, saya harus bilang makasih banyak sama Tuan Angga."


Pria itu mengusap ujung matanya yang basah. Ia terharu, karena mendapatkan semua hal yang diluar nalarnya selama ini. Di perlakukan dengan baik, bahkan dilayani oleh pramugari cantik. Bara menghembuskan nafas lelah, kenapa juga Bapak ini malah sedih?


"Sudah, minum kopinya! Nanti dingin, tidak enak,"


Pria paruh baya itu mengangguk sambil tersenyum, ia mensyukuri apa yang telah dialaminya hingga hari ini.


Tidak lama Makanan pembuka datang, Bara memilih sup asparagus plus roti. Lagi, Pak Tarjo makan sambil menangis. Entah menangis karena apa, mungkin tidak cocok dengan lidahnya.

__ADS_1


Selang beberapa jam makanan utama datang, Bara memilih steak untuk mereka berdua.


"Nak Bara, tadinya saya bertanya-tanya kenapa kita tidak membawa bekal waktu naik pesawat. Ternyata memang sudah ada jatah makannya juga ya!" Ucap Pak Tarjo membuat bibir Bara berkedut menahan senyum.


Memangnya mau piknik pakai bawa bekal segala?


Pria muda itu hanya menggelengkan kepala sambil menikmati menu utama, namun kemudian ia tersedak saat Pak Tarjo bertanya.


"Ini mana nasinya Nak? Kok lauk doank?"


Uhuk, uhuk uhuk!


Bara terbatuk hingga mengeluarkan air mata. Batinnya terus berkecamuk, sampai kapan ia tahan menghadapi Pria tua itu.


🌷🌷🌷


12 jam dibutuhkan untuk sampai ke Negeri penghasil susu dan madu itu, juga merupakan salah satu Negara penghasil coklat kualitas terbaik di dunia.


Pak Tarjo terlihat bergerak ke kanan dan ke kiri, ia tampak gusar. Faktor kebiasaan mungkin lebih tepatnya, padahal Bara sudah menyuruhnya untuk tidur.


"Nak Bara, kok gak sampe-sampe ya?" Celotehnya untuk ke-5 kali.


Bara yang sedang memejamkan mata menghentak selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya menyipit kesal, ingin rasanya menyumpal mulut pria lebih tua dari dirinya itu.


"Bapak lain kali liat peta dulu sebelum ikut dinas, biar tau seberapa jauh kita!" Geram Bara.


"Saya gak punya peta Nak," Pak Tarjo tersenyum kikuk.


Ya tuhan, aku ingin menghilang! Batin Bara.


"Denger ya Pak, kita ke Negara Swiss yang jauhnya 11.252 km dari Indonesia. Karena itu, memakan waktu yang tidak sedikit. Sekarang lebih baik Bapak tidur dulu, kalau sudah sampai nanti saya bangun kan!" Bara berkata dengan selembut mungkin agar Pak Tarjo mengerti dan tidak mengeluh lagi.


"Gitu ya Nak Bara? Jadi saya tidur aja neh?"


"Iya Pak, tidur aja ya!" Bara tersenyum palsu.

__ADS_1


"Hm, sebenarnya saya ingin buang air kecil, Nak Bara." Ucapnya berbisik karena malu.


Bilang aja klo mau ke toilet Pak, pake acara gangguin saya tidur sampe 5x. Batin Bara berteriak.


Pria muda itu kemudian memanggil Pramugari untuk mengantar Pak Tarjo. Meski awalnya Pria tua itu menolak karena malu, akhirnya panggilan alam lah yang lebih berkuasa. Tidak mampu lagi menahan yang ingin keluar, membuat Pak Tarjo hanya menunduk saat mengikuti sang Pramugari mengantarnya menuju toilet.


Buang hajat selesai. Pak Tarjo memilih kembali ke kursinya seorang diri, meski sang Pramugari menawarkan diri untuk mengantar. Pak Tarjo ingin menikmati pemandangan menakjubkan di dalam pesawat. Matanya terhenti kala melihat bocah tampan yang sedang bermain sendiri dengan robotnya di kursi penumpang.


Mereka pun bertatapan sejenak sebelum akhirnya Pak Tarjo tersenyum ramah dan melambaikan tangannya. Tanpa diduga, bocah itu membuka sabuk pengaman kemudian berjalan mendekati Pak Tarjo.


"Kakek, baik-baik aja?" Cristhoper menoleh ke kanan kiri mencari sesuatu. "Om tadi gak apa-apain kakek kan?" Ucapnya kembali sambil menatap Pak Tarjo.


Pak Tarjo baru mengerti maksud bocah itu, pasti yang dimaksud Om adalah Bara. Ia berjongkok mensejajarkan diri dengan Cristhoper, dengan senyum ramah Pak Tarjo berkata.


"Kakek tidak apa-apa! Om tadi itu anak Kakek, jadi nanti jangan takut lagi ya,"


"Oh, anak Kakek. Kirain orang jahat." Celetuknya membuat Pak Tarjo gemas.


Pak Tarjo mengeluarkan coklat yang tadi didapatnya saat minum kopi. Pria tua itu mengulurkan pada Cristhoper. "Ini, ambil!"


Cristhoper mengerutkan kening, namun saat tau itu coklat wajahnya berbinar bahagia. "Coklat kopi!" Seru Cristhoper.


Kekehan terdengar dari bibir Pak Tarjo, ia menganggukkan kepala pada bocah itu mengambil coklat.


"Terima kasih, Kek!"


"Iya, sana kembali ke kursimu."


"Dah Kakek." Cristhoper melambaikan tangan kemudian kembali ke kursinya.


Mereka saling melempar senyum sebelum Pak Tarjo kembali ke tempatnya. Sepanjang jalan pria tua itu terus tersenyum, Pak Tarjo jadi semakin penasaran seperti apa Nona Mia yang digilai oleh Tuannya.


Masih kecil sudah punya rasa simpati pada orang lain, pasti Nona Mia tidak jauh beda dengan adiknya. Semoga Tuan Angga berjodoh dengannya. Do'a Pak Tarjo sebelum ia tertidur.


Please rate, like dan votenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2