Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 75


__ADS_3

Hotel


Malam kini sudah berganti, sang fajar mulai tampak beranjak naik menampilkan pemandangan sunrise yang indah. Udara yang penuh polusi akan segar kembali pada pagi hari.


Insan itu terlihat masih setia dalam balutan mimpi, matanya terpejam karena kantuk yang masih meraja. Merubah posisi nyaman untuk menggapai guling dan memeluknya. Namun ada yang aneh, mengapa guling itu sama sekali tidak empuk? Dengan berat ia membuka mata, mengerjap untuk sesaat mengembalikan penglihatan yang tadinya merabun.


Ia mengeryit saat melihat sosok yang tidak asing dalam pelukannya. Pak Tarjo tepat di depan wajahnya sontak membuatnya membelalakkan mata sempurna.


Ya Tuhan!


Bara melompat hingga tersungkur ke lantai.


BRUGH


"AAAAKKHHH!!!" Bara memekik menahan sakit karena benturan yang dirasakan pada bokongnya.


Suara jatuh yang cukup keras membuat Pak Tarjo terbangun dari tidur. Ia mengusap mata dan melihat Bara yang sedang mengusap bokongnya. "Nak Bara, kenapa tidur dilantai?"


Pria tampan itu bangkit dengan nafas memburu, hampir jantungnya berhenti mendadak saat melihat Pak Tarjo dalam pelukannya.


"Kenapa Bapak tidur di ranjang saya?" Geram Bara.


"Loh, ranjang sebesar ini memang untuk ber-2 kan Nak?" Jawab Pak Tarjo polos.


Mengurut pelipis yang menyembulkan guratan urat di sana. "Ada ranjang lain khusus buat Bapak, jadi kita tidur terpisah!" Ujarnya menahan kesal.


Kekehan terdengar membuat Bara mendelik. "Benar neh mau sendiri?" Pak Tarjo tersenyum jenaka. "Semalam Nak Bara memeluk saya erat lho, "


Blush


Rona merah menghiasi pipi Bara hingga ke telinga. Kebiasaannya memang tidur harus memeluk guling menjadi bomerangnya kini. Tanpa Bara sadari, ia memeluk Pak Tarjo sepanjang malam.


"Tidak apa-apa Nak! Nanti kalo sudah menikahi anak saya, Nak bara bisa peluk dia saat-"


"Saya mau mandi!" Bara pun melesat pergi meninggalkan Pak Tarjo yang belum selesai berbicara. Pria itu malu bukan main. Bagaimana bisa ia memeluk Pak Tarjo saat tidur, rasanya Bara ingin mengubur dirinya sendiri.

__ADS_1


Memalukan, Aaaarrrgggghhhh! Jerit Bara di dalam kamar mandi.


Setelah drama pagi sampailah Bara dan Pak Tarjo di depan Apartement Jack. Tidak mau sampai kecolongan, Bara memilih mengawasi sepagi mungkin. Lebih tepatnya Bara ingin melupakan kejadian tadi pagi.


Asap mengepul dari kopi yang baru saja ia beli, dari sebuah Cafe dekat ia memarkirkan mobil tidak jauh dari apartemen Jack. Bara menyesap kopi sambil menatap apartement Jack dari kejauhan. Pak Tarjo, sedang asik memakan roti dengan mencelupnya terlebih dahulu pada kopi.


"Enaknya..." Ujar Pak Tarjo. Bara memutar bola mata malas. Mulutnya terkunci, karena takut Pak Tarjo menyinggung hal tadi pagi.


"Nak Bara tidak mau roti?" Bara menggelengkan kepala dalam diam. Pak Tarjo menjadi merasa aneh sendiri dengan sikap diam Bara. "Nak Bara sariawan, ya?"


Terselip pikiran jahil, mungkin lebih baik ia bilang sedang sakit, dengan begitu Pak Tarjo pasti menjaga lisannya untuk tidak berceloteh. Bara menganggukkan kepala, mengetahui calon menantunya yang sakit malah membuat Pak Tarjo heboh.


Berkebalikan dengan bayangan Bara, Pak Tarjo makin gencar bertanya perihal mana yang sakit, dan desakan untuk kerumah sakit.


Ah... lagi-lagi kena batunya.


🌷🌷🌷


Apartement Jack Adinata.


Suara resleting koper terdengar, Mia sedang bersiap-siap untuk pergi ke Sekolah barunya. Sekolah impian dengan asrama di dalamnya. Itulah mengapa Jack memilih tinggal di apartement, karena ia tahu Mia tidak akan tinggal bersamanya melainkan akan tinggal di Asrama.


"Sudah siap?" Tanya Maya sambil menghampiri Mia yang duduk di sisi ranjang.


"Yes, I'm done!" Jawabnya sambil tersenyum. "Mommy yakin tidak apa-apa aku tinggal?" Mia mengutarakan keraguan yang sedari tadi merasuki pikiran. Ia ragu meninggalkan sang Mommy, karena selama ini mereka selalu bersama.


Maya mengambil tangan Mia dan menggenggamnya. "It's Ok, Mommy baik-baik saja." Wanita itu mengusap bahu Mia menatap lembut sang puteri tercinta. "Bersenang-senanglah! Mommy hanya ingin melihat kamu bahagia. Jangan ada lagi kesedihan, hati Mommy sakit melihat kamu sedih."


Semua kata Maya membuat gadis itu menitikkan air mata, rasa haru menyeruak hati gadis itu. Betapa beruntung memiliki seorang ibu yang sangat menyayangi dan memahami dirinya. Mia memeluk erat Maya hingga tubuhnya bergetar karena isak tertahan. "Makasi Mom, makasih banyak! Aku sayang Mommy,"


"I love you more, honey!" Maya membalas pelukan dengan usapan lembut di punggung gadis itu.


Jack yang melihat interaksi istri dan anaknya hanya bisa tersenyum simpul. Sejenak ia teringat akan Angga yang kemarin sempat mengejar Mia, apa mereka bertemu? Tapi kenapa tidak ada pembahasan masalah pria itu sampai hari ini?


Jack memilih diam, dan tidak menyinggung kejadian tempo hari saat Angga memohon padanya. Ia serahkan semuanya pada Mia, apapun pilihannya nanti Jack akan mendukungnya.

__ADS_1


Pria itu pun berjalan mendekati 2 wanita beda generasi. "Sudah siap berangkat?" Tanyanya. Mia dan Maya menoleh pada Jack, gadis itu mengangguk mantap sebagai jawaban.


🌷🌷🌷


Cafe ***


Pak Tarjo sudah menghabiskan 3 roti di Cafe itu, padahal mereka sudah sarapan di Hotel sebelum pergi. Memang perut orang Indonesia, jika belum bertemu nasi rasanya ada yang kurang.


Sarapan yang di berikan Hotel berupa roti dengan telur mata sapi dan beberapa potong sosis seolah tidak dapat memuaskan nafsu makan Pak Tarjo. Kenyang di awal namun selang beberapa lama lapar itu menghampiri.


"Di sini tidak ada warung nasi padang ya Nak!" Pak Tarjo cemberut.


Bara tidak menghiraukan Pak Tarjo, maniknya menangkap pergerakan Jack beserta keluarganya yang keluar dari apartemen.


"Pak, sebaiknya kita ke mobil. Tuan Jack dan keluarganya sudah keluar apartemen." Mendengar hal itu membuat Pak Tarjo mengedarkan pandangan, mencari objek yang Bara sebutkan tadi. Pak Tarjo ingin melihat gadis yang bisa membuat Tuannya tergila-gila.


Tampak seorang gadis dengan tubuh besar memasuki mobil, semua itu tidak lepas dari perhatian Pak tarjo. "Oh itu orangnya, Tuan seleranya Ok juga. Yang semok emang lebih menggoda," Selorohnya membuat Bara merotasikan bola matanya.


Robongan Jack pun akhirnya pergi meninggalkan apartemen dengan diikuti Bara dari belakang. Mereka mengarah ke daerah Rolle, Kota Madya Kanton Vaud. Bara menautkan alisnya saat mobil Jack memasuki gerbang besar suatu sekolah, Bara berdecak karena kagum akan pilihan sekolah yang dituju. Banyak pertanyaan di benaknya saat ini.


Kemungkinan akan sulit untuk Tuannya, ruang lingkup Mia semakin jauh, mampukah sang Tuan mengejarnya? Tidak menutup kemungkinan akan ada saingan baru jika Mia sekolah di sini. Kelas bangsawan, Bara meringis memikirkannya.


Pak Tarjo mengerutkan kening. "Kenapa mereka masuk kesana Nak? Apa ada sekolah di dalam sana?"


"Ya, salah satu sekolah impian di dunia. Le Rosey!"


Saat itu juga Bara menghubungi Angga, ia mengirim pesan berisikan alamat dan nama sekolah baru Mia.


Sebuah seringai terpatri di wajah tampan Angga, ia seolah sedang merencakanan sesuatu sambil terus menggumamkan nama sekolah Mia yang baru. Angga tidak bisa berhenti mengangumi calon ayah mertua yang begitu menyayangi puterinya, terlihat dari sekolah yang ia pilihkan untuk Mia.


Pria itu beranjak dari duduknya dan menghubungi seseorang melalui ponsel pintarnya. "Siapkan pesawat nanti malam!" setelah itu panggilan pun terputus.


Please rate , vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!

__ADS_1


Sebelumnya aku mau ucapkan banyak terima kasih pada kalian reader yang masih setia baca karya aku, tidak lupa juga terima kasih banyak untuk yang memberikan vote, hampir loncat tadi liat reader yang memberi aku 1k vote. Makasih ya kakak Kanjeng Jahe, karena mu aku semakin semangat!!! Buat yang lain juga makasih sudah memberikan vote kalian yang sangat berharga. Love u All...


__ADS_2