Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 38


__ADS_3

"Lo baik-baik aja?" Farel bertanya saat mereka sudah duduk di sofa ruang tamu. Mia baru saja ingin beranjak pergi ke dapur untuk mengambil minum.


"Gue baik-baik aja," Mia tersenyum kemudian hendak pergi.


"Lo mau kemana?" Laras mencekal tangan Mia.


"Ada tamu masa gak gue kasih minum? nanti jadi mujaer kering lo,"


"Hadeuh, lo kan bisa suruh gue big girl," Laras langsung berdiri dan menarik Mia kembali untuk duduk.


"Eh, gak usah Laras!"


"Stsss ... Jangan berisik! Udah lo tunggu disini! Temenin noh orang yang dari istirahat nyariin loe." Laras menggedikkan dagunya ke arah Farel. Orang yang bersangkutan hanya bisa nyengir malu-malu kucing.


Mia tersenyum menanggapi. "Lo nyariin gue?"


Farel bingung sendiri. Mau bilang iya, malu. Mau bilang nggak, memang dia mencari Mia. Rasanya rindu jika sehari tidak melihat gadis yang duduk di seberangnya ini.


Jantungnya berdegub tidak karuan. Seolah habis lari marathon, membuatnya mengeluarkan keringat dingin. Sebesar ini pengaruh Mia terhadap dirinya.

__ADS_1


"Hm... Ya... Semua tau lo siswa teladan. Jadi... Aneh aja sampe lo gak masuk," Farel berusaha sesantai mungkin. Hampir saja ia jujur kalau sebenarnya rindu. Membayangkan sosok Mia tadi malam membuat Farel sulit tidur.


Kekehan Mia terdengar lucu di telinga Farel, itulah kekuatan cinta. Bahkan kotoran pun rasa coklat. (Boong itu, author gak percaya!).


"Gue juga manusia biasa kali, ada capeknya. Dan saat ini gue lagi bener-bener capek!" Mia berusaha jujur akan apa yang dirasakan. Tapi bukan capek fisik, melainkan capek hati.


Telihat garis lelah di wajah gadis itu membuat Farel ingin menghapusnya dengan kecupan. Lamunan liar Farel terhenti kala suara ponselnya memecah hening.


"Gue angkat telpon dulu ya,"


"Ok!" Jawab Mia.


Farel beranjak dari sofa berjalan kearah jendela ruangan menjauhi Mia. Dia tidak mau sampai Raisa tau kalau ia sedang di rumah Mia.


Baru kali ini Farel lupa akan janjinya pada Raisa. Mendengar nama Mia membuat dunianya teralihkan. Semakin hari perasaannya semakin kuat. Meski dalam hati terus menentang semua itu.


[Sorry, gue lupa...] Farel berbicara sambil terus melirik ke arah Mia. Laras sudah kembali dari dapur membawa nampan berisi minuman dan beberapa toples cemilan.


[Kamu emangnya dimana? Aku ke apartement kamu, tapi gak ada!] Raisa mencak-mencak, ia kesal karena belum membeli tas incarannya. Padahal niatnya besok mau dipamerkan ke teman sekolah.

__ADS_1


[Besok ya, gue janji gak akan ditunda lagi. Ok?] Farel bernegosiasi.


[Ya udah, janji ya!] Raisa berkata dengan manja sambil memainkan rambutnya.


[Janji, gue tutup ya! Soalnya gue lagi di jalan,] Bohong Farel.


[Cium dulu.] Farel memutar mata malas. Tanpa kata ia memutus telponnya.


[Klik ....tut....tut...]


Mata Raisa membola, Ia menatap ponselnya gemas. Farel berubah, memang sikapnya menjadi lebih baik. Tidak pernah ketus atau marah-marah lagi padanya. Tapi Raisa merasa Farel menjadi dingin. Sejak pertengkarannya terakhir yang berhubungan dengan coklat, Farel tidak lagi menyentuhnya. Sekedar merangkulnya pun sudah tidak pernah.


Kamu kenapa seh Babe? Padahal aku kangen banget!


Raisa menggigiti ujung kukunya. Ia frustasi karena tidak bisa menyalurkan hasratnya. Ia rindu sentuhan Farel yang membuatnya melayang.


Aku butuh pelampiasan!


Ia pergi meninggalkan Apartement Farel, tujuannya kini adalah Club ***. Jemari lentiknya menari lincah pada ponsel, Raisa mengirim pesan pada seseorang untuk bertemu di sana.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2