Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 73


__ADS_3

CBT 73


Ada perasaan lega namun terselip sedih disana. Lega karena akhirnya perjalanan panjang berakhir, tapi sedih karena harus berpisah dengan kursi pijat kesukaanya. Sikap Pak Tarjo yang tidak stabil membuat Bara mengatupkan bibir rapat dengan wajah datar andalannya.


Ya, Bara harus mempunyai kesabaran extra untuk menghadapi pria tua tersebut. Mendapat kepercayaan dari sang Tuan mengharuskan dirinya bersikap baik pada Pak Tarjo, kadang Bara berfikir sebenarnya tujuan utama ke Swiss itu apa? Apa benar untuk mengejar Nona Mia? Atau menjadi guide Pak Tarjo saja.


Aku seperti menjadi babysitter. Keluh Bara dalam hati.


Pria tua itu tidak bisa berhenti berdecak kagum, benar-benar seperti mendapat durian runtuh. Sampai saat ini ia masih tidak percaya bahwa kakinya menapak di Negara yang berbeda.


Wajah asing tampak berseliweran, hampir semuanya berkulit putih kontras dengan kulitnya yang hitam manis. Ia meniti diri, masih ada manis diujung kata hitam membuatnya sedikit bangga. (Good Pak, bangga donk jadi hitam yang manis banget sampe bikin diabetes.)


"Nak Bara, disini orangnya mancung semua ya? Saya cari dari tadi gak ada yang pesek." Tanya Pak Tarjo sambil memandangi orang-orang asing.


"Yang pesek cuma Bapak!" Sahut Bara asal.


Pak Tarjo yang dibilang seperti itu malah tersipu malu. "Duh, jadi malu. Nak Bara hidungnya mancung! Orang bule donk ya?"


"Bukan, saya orang pribumi," Bara menyalakan rokoknya. "Banyak orang kita yang mancung Pak, memangnya kenapa?" Pria itu menghisap pelan.


"Mau saya jodohkan dengan anak saya, supaya hidung cucu saya mancung nanti." Pak Tarjo tersenyum jenaka.


Lagi, Bara tesedak asap rokoknya sendiri hingga matanya berair.


Uhuk, uhuk, uhuk!


"Nak Bara kenapa?" Pak Tarjo menepuk-nepuk punggung Bara khawatir. Bara yang diperlakukan begitu malah menghindar.


"Saya tidak apa-apa, lebih baik kita cepat agar tidak kehilangan jejak Tuan Jack!" Bara memalingkan wajahnya yang memerah, kemudian membuang rokok yang baru saja dinyalakan.


Entah kenapa ia jadi salah tingkah setelah mendengar Pak Tarjo ingin menjodohkannya dengan puterinya.


Saat mengantar Pak Tarjo beberapa hari yang lalu, memang ia sempat berpapasan dengan puteri Pak Tarjo. Wanita berparas ayu dan pendiam, bertolak belakang dengan Pak Tarjo yang kerjaannya berceloteh membuat pusing kepala Bara.


Loh, kenapa dia jadi memikirkan wanita itu?


Bara menggelengkan kepala mengusir pikirannya yang mulai aneh. Apa ini pengaruh dari Pak Tarjo?


🌷🌷🌷

__ADS_1


Tampak Jack dan puteranya yang keluar dari bandara, Bara dan Pak Tarjo mengikuti dengan jarak yang cukup jauh. Bara dan Pak Tarjo berpakaian serba hitam layaknya seorang detektif di film-film Hollywod, tidak lupa kacamata hitam bertengger di hidung mereka.


Sayangnya kacamata Pak Tarjo terus melorot, karena hidungnya yang mungil tidak bisa menopang bingkai kacamata itu. Pak Tarjo tampak kerepotan memperbaiki letak kacamata yang terus meluncur bebas hingga hampir terlepas.


"Apa yang Bapak lakukan? Kita hampir kehilangan jejak mereka!" Ujar Bara kesal. Karena kegiatan membetulkan kacamata membuat langkah Pak Tarjo terhambat.


Bara yang gemas langsung mengambil kacamata itu. "Begini lebih baik?" Tanya nya.


"Iya Nak, harusnya dari tadi saya lepas saja ya!" Pria tua itu tersenyum malu- malu membuat Bara nelangsa sendiri.


Beri kesabaran padaku Tuhan. Batin Bara menjerit.


Tidak lama 2 buah mobil mewah berwarna hitam berhenti di hadapan Jack, terlihat beberapa pria dengan setelan hitam keluar dari sana kemudian memberi hormat padanya. Sepertinya itu para bodyguard Jack, pikir Bara. Jack pun memasuki salah satu mobil itu bersama puteranya, manik hitam Bara terus mengikuti pergerakan.


Saat mobil Jack akan pergi, Bara segera menarik Pak Tarjo setengah berlari untuk memasuki mobil yang sudah disediakan Angga. "Ayo Pak! Mereka sudah akan pergi." Ajak Bara sambil menarik Pak Tarjo.


Saat sudah di dalam mobil, Bara segera mengangkat tangan tanda peringatan. "Tanya-tanyanya nanti saja ya Pak! saya mau focus mengejar Tuan Jack. Mengerti?" Jelas Bara. Ia tau bahwa Pak Tarjo pasti ingin melontarkan kata.


Pria tua yang hampir mengangkat suara itu hanya mengangguk patuh, ia akan menuruti apapun perintah Bara karena situasinya memang mendesak.


Mereka menuju Kota Bern, alamat tempat tinggal Jack saat ini. Bara merogoh ponselnya lalu menyerahkannya pada Pak Tarjo. "Tolong hubungi Tuan Angga, beritahu lokasi kita saat ini." Ucapnya tanpa memalingkan wajah dari kemudi.


Pak Tarjo menerima persegi panjang pipih itu dengan hati-hati. Sejenak ia diam sesaat sambil terus menatap ponsel mahal milik Bara. Sedangkan Bara yang terusik dengan keheningan akhirnya menoleh.


"Saya tidak tau kodenya Nak!" Jawab Pak Tarjo kikuk. Ia malu untuk bertanya, Karena takut mengganggu konsentrasi Bara yang sedang mengemudi.


Bara menepuk dahi, merutuki kebodohannya karena lupa memberitahu sandi ponselnya sendiri. Ia pun mengambil kembali ponselnya. "Biar saya saja yang menghubungi Tuan Angga kalau begitu,"


Pak Tarjo tersenyum simpul menimpali Bara tanpa mengeluarkan kata. Ia ingin mematuhi perintah Bara yang memintanya untuk tidak bertanya sekarang. Bara yang tidak sadar akan perintahnya sendiri malah merasa aneh dengan sikap Pak Tarjo yang diam.


🌷🌷🌷


Mereka pun sampai tujuan. Bara menghentikan mobil beberapa meter dari mobil Jack yang terhenti di sebuah apartement. Bara menghubungi Tuannya untuk memberitahukan posisinya saat ini. Ia mengirim foto apartemennya lewat pesan. Selang beberapa menit tampak Angga menghubungi dirinya.


Drrttt..Drrttt.. Klik!


[Ya, Tuan?]


[Kamu sudah tau alamatnya?]

__ADS_1


[Ya Tuan, saya berhenti tepat di depan apartemen yang ditinggali Tuan Jack.]


[Bagus, terima kasih Bara! Aku minta kamu ikuti mereka sampai sekolah Mia yang baru!]


[Lalu, apa nanti Tuan akan menyusul?]


[Ya, setelah kamu tau alamat sekolah Mia yang baru aku akan langsung ke sana! Oh iya, aku sudah memesan hotel untuk kalian berdua. Nanti aku share nama hotelnya.]


[Baik Tuan! Terima Kasih]


[Aku yang berterima kasih pada kalian!]


Telepon pun terputus, Pak Tarjo memandang Bara. "Kenapa Pak?"


"Saya belum bilang terima kasih pada Tuan." Ucapnya pelan. Tadi ia ingin ikut berbicara lewat ponsel, namun Bara memutus sambungan sebelum Pak Tarjo berbicara.


Bara menghembuskan nafas lelah. "Nanti saja, Tuan akan menyusul kita. Saat itu Bapak bisa berterima kasih sebanyak-banyaknya." Bara berkata dengan senyum tipis, seolah mengejek. Tapi tidak untuk Pak Tarjo, baginya itu senyum ramah yang ia sukai pada diri Bara.


"Iya Nak, saya akan mengucapkan banyak-banyak terima kasih!" Seru Pak Tarjo. Bara terkekeh, ia baru sadar bahwa ocehan Pak Tarjo cukup menghibur selain membuat pusing.


Pria tampan itu merenggangkan tubuh yang pegal. "Karena misi pertama sudah selesai, kita harus isi energy dulu dengan beristirahat."


"Memangnya ada misi apa lagi Nak? Bukannya kita sudah tau tempat tinggal Tuan Jack!"


"Tuan meminta kita untuk mengikuti Nona Mia sampai ke Sekolahnya yang baru."


"O... begitu." Pak Tarjo menganggukkan kepala tanda mengerti. Lalu pria itu merebahkan diri mencari posisi untuk tidur. Lagi Bara terusik dengan tingkah pria tua itu.


"Bapak mau apa?"


"Ya mau tidur, Nak. Tadi kata Nak Bara kita harus isi energy." Celetuk Pak Tarjo.


"Kita tidak tidur di mobil Pak! Tuan Angga sudah menyiapkan hotel untuk kita."


"Hotel? Mahal tidak Nak Bara?" Pak Tarjo berlonjak dari duduknya hampir kepalanya membentur langit-langit mobil.


Bara menyeringai, seru rasanya bisa mengerjai pria tua yang selalu membuat pelipisnya nyut-nyutan. "Potong gaji Bapak!"


Tega sekali memang Bara ini, main potong-potong saja.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2