
Langkah kaki Jack terhenti saat suara decitan mobil terdengar nyaring di halaman rumahnya. Terdapat 3 sedan mewah berwarna hitam terhenti disana. Jack mengerutkan kening lalu menatap tajam sosok yang baru saja keluar dari mobil itu.
"Si brengsek tidak tahu diri." Gumamnya sambil mengetatkan rahang. Dengan gerakan kepala Jack memberi perintah pada para Bodyguardnya untuk menghadang orang itu.
"Jack, tunggu!" Angga mengejar Jack yang melangkah memasuki rumah.
Para Bodyguard Jack menghadang namun mendapatkan perlawanan dari Angga yang juga membawa 5 Bodyguard bersamanya. Terjadi lah baku hantam yang tidak terelakkan, karena kalah jumlah Angga pun ikut turun tangan menghajar Bodyguard Jack.
Menyisakan Angga yang masih berdiri tegak dengan para Bodyguard yang bergelimpangan ambruk oleh perlawanannya. Ia mendekati Jack yang masih setia menyaksikan serial laga gratis di depan matanya.
"Jack-"
"Mau apa lagi? Brengsek!" Teriak Jack.
"Jack, aku hanya ingin bertemu Mia! Ku mohon ijinkan aku menemuinya," Angga berkata dengan putus asa.
Jack berdecih memandang dengan seringai mengerikan, wajah tampannya jadi terlihat menyeramkan. "Dia sudah pergi," Jack senang melihat wajah Angga yang memucat. "aku mengirimnya pergi sejauh mungkin darimu!"
Angga menggeleng. "Tidak bisa, kau tidak bisa lakukan itu!" Angga mencengkeram kerah Jack dengan tangan gemetar. "Katakan! Dimana dia... jangan pisahkan aku dengannya Jack. Aku salah, aku minta maaf..." Angga luruh ke lantai, ia terduduk dengan menunduk di hadapan Jack.
Pemandangan itu membuat Jack menahan nafas sesaat. Seorang Erlangga Saputra sampai terlihat se menyedihkan ini hanya karena anaknya. Matahari hidupnya, Mia.
"Dia bukan hanya Matahari mu Jack, dia juga penerang disini." Angga menunjuk dadanya.
Helaan nafas kasar pria paruh baya itu hembuskan. Jack tau rasanya sangat mencintai seseorang namun terpisah. Sangat menderita dan merana, bernafas pun sulit. Tuhan sungguh Maha Pemurah memberikan manusia segala macam perasaan, termasuk cinta dan sakit hati.
"Pergilah, mungkin dia masih di Bandara." Jack segera pergi meninggalkan Angga setelah mengucapkan itu.
Angga mendongak dengan senyum menawan. "Terima kasih, Jack!"
Angga segera bangkit dari ratapannya. Lalu berbalik badan, namun kemudian ia menghentikan langkah Jack dengan seringai. "Bukan... maksudku, terima kasih. Daddy!"
"PERGI KAU DARI SINI!" Jack berteriak dengan nafas memburu.
Candaan Angga yang memanggilnya Daddy sungguh tidak lucu. Malah membuatnya merinding. Angga melesat pergi seorang diri, tanpa memperdulikan bodyguardnya yang tidak sadarkan diri di rumah Jack.
"Tunggu aku, sayang!" Gumam Angga. sebelum ia tancap gas dengan mobilnya.
__ADS_1
🌷🌷🌷
Bandara
Dua orang wanita cantik berbeda generasi sedang duduk menunggu panggilan cek in sebuah pesawat komersil menuju Swiss.
Mia terlihat asik dengan ponselnya. Ia menerima banyak WhatsApp dari Laras dan Haris. Tampak pula WhatsApp Farel yang tidak kunjung muncul... Hanya tertulis mengetik sedari tadi.
"Ngetik apa seh ni anak? lama banget dari tadi masih ngetik."
Karena penasaran Mia pun iseng mengirim pesan terlebih dahulu pada Farel.
💌 [Ngetik apa seh? Gak beres-beres dari tadi. Kemarin pulang duluan ya? Gue kan mau pamit pergi!]
WhatsApp Mia terkirim, langsung terdapat centang dua berwarna hijau. Tiba-tiba ketikan di WA Farel terhenti. Pria itu galau sendiri, ingin hati bertemu dengan gadis itu namun ia takut tidak bisa melepasnya nanti.
Dengan penuh keraguan pria itu akhirnya menekan kirim pada pesan WhatsApp nya. Menjauhkan ponsel begitu saja, karena rasa malu yang menjalar di hatinya.
💌 [Sebelumnya aku mau minta maaf atas insiden mengerikan waktu itu secara gak langsung aku penyebab semua itu terjadi. Aku malu buat ketemu kamu, tapi aku juga gak bisa nahan perasaan ini lebih lama. Aku suka kamu, Mia. Sejak kamu tolong aku dari begal waktu itu. Dan rasa suka kini menjadi rasa sayang yang menggunung seiring aku mengenalmu lebih jauh. Aku... Memang bukan pria baik, aku penuh keburukan. Tapi aku berjanji pada diri aku sendiri aku akan berubah menjadi lebih baik.]
Mia menahan nafas ketika membaca pesan itu, ia berulang kali mescroll memastikan bahwa apa yang ia baca itu benar.
Farel mengutarakan perasaannya lewat pesan. Terlihat dari panggilannya yang berubah menjadi 'aku' 'kamu'. Mia bingung sendiri harus menjawab apa. Karena sampai saat ini hatinya hanya untuk Om ganteng yang sudah berulang kali menyakitinya.
Awal-awal perkenalannya dengan Farel memang sempat memberikan rasa nyaman untuknya. Itu sebelum Farel ketahuan hanya mempermainkannya, menjadikan dirinya taruhan.
Belum sempat Mia membalas WhatsApp Farel, panggilan cek in terdengar. Maya memanggil Mia untuk bergegas. Dengan singkat Mia hanya membalas bahwa ia memaafkan Farel.
💌 [Aku maafin kamu, makasih]
Mia pun beranjak untuk memasuki pesawat. Langkahnya terhenti sesaat, ia menoleh ke belakang seolah menanti seseorang.
Selamat tinggal Om, mungkin memang kita tidak berjodoh.
Senyuman tipis tersungging di bibirnya, Mia pun kembali melangkah ke depan. Tanpa ia tahu ada seseorang yang berpacu dengan waktu, sedang berjuang mengejarnya di tengah kemacetan Ibu Kota.
Damn it! Jakarta emang biangnya macet.
__ADS_1
Angga memukul kemudi karena kesal. Berulang kali ia melihat arlojinya yang seolah tidak merasa kasihan padanya, terus berputar tanpa ampun.
Ia menggeram, dengan perasaan cemas Angga memilih turun dari mobil. Banyak orang yang terheran-heran melihatnya berjalan kaki menuju trotoar, ada juga para wanita yang berbisik sambil meliriknya.
Mungkin karena terpana dengan pesona Angga yang tidak pernah terkena panasnya Matahari, membuat kulitnya putih bersih mengalahkan para wanita disana. (Ya iya lha orkay mah gak pernah panas2an 😅😅😅)
Hingga seorang pengendara motor berhenti di hadapannya. Angga mengeryit bingung melihat pria paruh baya yang melepas helm lalu tersenyum padanya.
"Mau kemana Bos? Biar saya antar!"
Angga berfikir sejenak lalu melihat sekeliling jalan yang masih terlihat macet. Ia memandang pria paruh baya itu sambil mengangguk.
"Antar saya ke Bandara, bisa?" Tanya Angga.
"Ke Bulan juga saya anterin Bos! Asal Bos punya roketnya." Pria itu tertawa dengan candaannya sendiri. Angga hanya bisa tersenyum kikuk menanggapi.
Ngapain dianterin klo punya roket sendiri.
"Ayo Bos naik! Mau ngejar pacarnya kan?" Seraya memberikan helm ke Angga.
Mendengar perkataan pria itu yang tepat sasaran membuat Angga sontak terkejut.
"Kok bisa tau?" Angga menaiki motor sambil menunggu jawaban pria itu.
"Jadi beneran neh Bos mau ngejar pacarnya?" Pria itu malah balik bertanya membuat Angga semakin bingung. "Padahal tadi, saya cuma nebak aja."
Mata Angga berputar malas. Ia sempat mengira pria paruh baya itu seorang cenayang.
"Pegangan ya Bos! Biar pacarnya gak keburu pergi." Tanpa aba-aba pria itu menarik gas dengan kuat hingga hampir membuat Angga terdorong ke belakang.
Wajah Angga memucat seputih kapas. Ia memeluk pria paruh baya itu erat. Bagaimana tidak? Pria itu membawa motor dengan kecepatan tinggi, ditambah dengan kepiawaiannya menyalip kendaraan lain membuat Angga merapalkan do'a agar tidak mati sebelum sampai Bandara.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan juga comment kamu agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1