
Berjalan mengendap-endap dengan pelan, seperti seorang pencuri. Melihat sekeliling aula yang kosong, jantungnya berdetak tidak karuan karena takut ketahuan. Dari selesai pelajaran olahraga Mia berusaha bersembunyi dari jangkauan Angga. Pria itu seolah ada di setiap sudut sekolah, mengamati dan mengawasi dengan seringai di bibirnya dan itu malah membuatnya semakin mempesona.
Dasar Om gantenggg!!! Makin hari malah semakin ganteng.
Mia menggigit bajunya gemas, pria yang menyatakan dirinya sebagai kekasih kini tidak malu lagi dalam bersikap. Ia terang-terangan mengungkapkan perasaannya lewat perkataan bahkan sentuhan membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Karena selalu menoleh ke belakang Mia menumbruk seseorang tanpa sengaja.
"Ouch, sorry I didn't mean it," (Ouch, maaf aku tidak sengaja) ucap Mia penuh penyesalan. Ia berharap bisa segera pergi dari sana, bisa gawat kalau tertangkap di depan umum. Membayangkan Om yang nekat menciumnya di aula membuatnya bergidik ngeri.
"What's up Mia? You look nervous," (Ada apa Mia? Kau terlihat gugup) Mia menoleh saat mendengar suara yang familiar di telinganya.
Oh, yang ditabrak ternyata Louis dan ini tidak baik. Kembali Mia mengedarkan pandangan, jangan sampai Angga melihat ia bersama Louis kali ini. Pria itu sudah melontarkan kata tidak suka bila Mia dekat dengan pria lain.
"Um ... hi Louis, sorry to bump into you. I'm okay, just a little hungry," (Ehm... hai Louis, maaf menabrakmu. Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lapar) jawab Mia asal.
Seharusnya Mia tidak menyebut kata lapar pada seorang koki. Louis menghela nafas kemudian memegang tangan Mia menariknya untuk berjalan bersama. "Why didn't you tell me? You didn't come to breakfast earlier? Come on follow me!" (Kenapa tidak bilang? Kau tidak ikut sarapan tadi? Ayo ikut aku!)
Mia melebarkan matanya saat tangannya ditarik oleh Louis, dengan tidak enak hati ia terpaksa mengikuti Louis sambil terus menoleh ke belakang.
Semoga aku tidak terlihat! batinnya.
Bagaimana bisa tidak terlihat dengan size tubuhnya yang besar? Ada-ada saja Mia ini.
Sampailah mereka di kantin, Louis membawa Mia ke dalam dapur dan mendudukkannya di kursi. "Wait here, a special breakfast will be ready for you soon. Sweety!" (Tunggu disini, sarapan spesial akan segera siap untukmu. Manis!)
Pria bule dengan celemek melekat di tubuhnya mengerlingkan mata pada Mia, jika orang lain mungkin sudah tertancap panah asmara hanya dengan kedipannya itu. Sedangkan Mia hanya terkekeh melihat hal itu.
Oh, dasar bule! Suka tebar pesona, batin Mia.
Louis sendiri heran, sepertinya hanya Mia yang tidak terpengaruh dengan segala godaannya. Tanpa ia tau, sudah ada yang berhasil mengikat hati seorang Mia Adinata.
Tepuk tangan terdengar, Louis melakukan atraksi saat memasak membuat Mia kegirangan. Senyum cerah terukir indah di wajah gadis gendut yang berhasil membuat Louis memikirkannya sepanjang hari. Hati pria itu menghangat, rasanya ia rela menukar apa saja hanya untuk senyuman itu.
"The Parfait Granola is ready, please enjoy!" (Granola Parfait telah siap, silahkan dinikmati!) Louis memberikan 2 cup campuran buah segar, oat dan kacang-kacangan yang sehat.
"You're so great Louis, I'm lucky to know you!" (Kau sangat hebat Louis, aku beruntung mengenalmu!) seloroh Mia antusias.
Perkataan Mia mau tidak mau menimbulkan suatu harapan dalam benak Louis. Bolehkah ia meminta lebih? Namun tiba-tiba terlintas sesuatu. Ucapan Angga yang mengklaim Mia sebagai calon istri mengusik Louis, ia memandang Mia dengan tatapan aneh.
"Why?" (Kenapa?) Mia mengeryit saat Louis menatapnya dan berjalan mendekat.
Louis memegang kedua bahu Mia, sedikit meremas hingga membuat Mia membelalakan mata. Pria itu tak bergeming, malah mendekatkan wajahnya pada Mia. Jarak wajah mereka semakin dekat, Mia mulai kelabakan karena tubuhnya tidak bisa bergerak akibat Louis yang seolah menguncinya.
"Lou-"
Ucapan Mia terpotong kala sebuah tangan menarik Louis dan menghempas pria itu ke belakang hingga hampir membuatnya terjengkang. Mulut Mia menganga lebar saat tau siapa pelaku penarikan tersebut.
__ADS_1
"Om..."
Angga menoleh pada Mia dengan tatapan tajam yang mampu menusuk ke dada gadis itu. Mia menundukkan kepala karena takut. Louis yang sempat terhenyak kini sadar dan menghampiri Angga dengan emosi.
"What is your problem?" (Apa masalah mu?)
Angga mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia tau pria di depannya ini ada niat tidak baik pada gadisnya. Louis ingin mencium Mia, awalnya Angga membiarkan pria itu karena ia membuat sarapan untuk Mia. Tapi saat melihat gelagat lain Angga tidak bisa tinggal diam.
"Don't try to approach Mia again!" (Jangan coba-coba mendekati Mia lagi!) ucap Angga penuh penekanan.
"What's your right" (Apa hak mu?) tantang Louis.
Angga menoleh ke arah Mia yang masih terdiam dan menunduk lalu kembali melihat ke arah Louis. "Because she is my girl, my future wife!" (Karena dia adalah gadisku, calon istriku!)
Mia mendongakan kepala saat mendengar penuturan lantang dari Angga, ia tidak menyangka Angga akan berkata seperti itu. Ada rasa senang ketika dirinya diakui sebagai kekasih bahkan sebagai calon istri pria yang dicintainya.
Louis tidak percaya, ia sama sekali tidak mau menerima pernyataa Angga. "Is that right, Mia? (Apa itu benar, Mia?) tanya Louis kembali meyakinkan, berharap Mia menjawab kebalikan dari Angga.
2 pria itu memandang ke arah Mia, masing-masing mereka menantikan jawaban dengan menahan nafas. Mia terdiam sesaat hingga anggukan samar terlihat. Mia terlalu malu mengakuinya, bukan karena tidak mau. Ia hanya belum terbiasa.
Helaan nafas lega dihembuskan Angga, ia tersenyum menawan. Ah... ternyata Mia telah mengakuinya. Sungguh hatinya bahagia, ia mendekati Mia yang kembali menunduk karena malu. Meraih dagu gadis itu agar mendongak memandangnya.
"Terima kasih, sayang."
Semburat merah terlihat menghias pipi chabi Mia, pemandangan yang menggemaskan di mata Angga. Ia meraih tangan Mia dan membawanya pergi dari kantin.
"Ikut aku!" ajak Angga tanpa menunggu jawaban Mia.
Damn it!!!
Memandang nanar makanan yang lagi harus terbuang sia-sia karena tidak sempat dicicipi gadis itu.
🌷🌷🌷
"Kita mau ke mana Om?"
Tampak Angga membawa Mia ke parkiran mobil. Pria itu membukakan pintu mobil untuk Mia, gadis itu malah beringsut mundur karena sebentar lagi memasuki jam pelajaran ke-2.
"Sebentar lagi masuk, Om. Kita gak bisa pergi, nanti aku dihukum bagaimana?"
"Tenang saja, semua sudah diurus!"
"Tap-"
"Bagaimana kalau ciumnya disini?"
"Ok, aku ikut!" Mia langsung memasuki mobil menghindari aksi nekat Om ganteng yang pemaksa, keras kepala, mesum dan masih banyak lagi.
Mereka sudah memasuki mobil, mata Angga melirik Mia yang belum memakai sabuk pengaman. Pria itu pun mendekati Mia hingga wajah mereka sangat dekat, Mia hanya bisa menahan nafas dan memundurkan diri sambil memejamkan mata. Angga terkekeh dengan respon Mia, ia mendaratkan ciuman singkat di bibir gadis itu kemudian memasang savetybelt.
__ADS_1
Mia melongo, kenapa sampai lupa memakai sabuknya hingga Om ganteng mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Modus!" pekik Mia.
"Modus sama calon istri gak apa-apa donk," jawab Angga sambil tersenyum jenaka.
Gadis itu lebih memilih memalingkan wajahnya, ah... seberapa kuat ia menahan malu akan segala sikap Angga sekarang ini?
🌷🌷🌷
Kita kembali ke tanah air, kejadian kemarin yang tertunda.
Jakarta
Bara dan Yanti telah sampai di toko buku. Bara memilih menunggu di dalam mobil, namun ia menangkap seseorang yang tidak asing. Orang itu tidak sendiri, ia bersama wanita dalam rangkulannya berjalan mersa seolah dunia milik berdua.
Bara mengeratkan pegangannya pada kemudi saat sang pria tanpa tahu malu mengecup bibir pasangannya di pinggir jalan.
Kurang ajar!
Dengan amarah yang mengumpul di ubun-ubun Bara keluar dari mobil untuk menghampiri 2 makhluk tersebut. Belum beberapa langkah Bara berjalan ia dikejutkan dengan pergerakan lain yang mendahuluinya.
PLAK
Tamparan keras mendarat di pipi salah satu pasangan itu. Lebih tepatnya sang pria, mata orang tersebut membelalak bahkan ucapannya tercekat saat tau siapa yang menamparnya.
"Yanti..."
"Gak nyangka aku kak, ternyata semua yang dibilang Bapak bener! Kamu playboy, mana ada saudara ciuman bibir? Kamu pikir aku bodoh?" suara Yanti melengking.
Randy kelabakan, ia tidak menyangka akan tertangkap basah oleh kekasihnya. Dengan wajah memelas Randy berusaha membujuk Yanti. Namun Yanti memilih pergi meninggalkan pasangan tersebut, hatinya sakit sekali saat tau ternyata selama ini ia dikhianati oleh orang yang selalu dibelanya di depan sang Bapak.
"Yanti tunggu!" teriak Randy, pria itu berusaha mengejar namun tertahan oleh pasangan selingkuhannya.
"Udah biarin aja seh, begini kan lebih baik. Kita jadi gak main belakang lagi! Masih ada aku," bujuk wanita itu menenangkan Randy, namun mata Randy masih terus menatap pedih kepergian Yanti.
Bara yang melihat itu semua memilih diam, ia tidak mau mencampuri urusan Yanti selama tidak perlu. Ia hanya mengamati dan mengikuti Yanti dari belakang, menjaga gadis itu dari jauh.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!
Lagi, aku ketiduran... 🙏🙏🙏
Jangan marah ya reader... huhuhu... aku sebisa mungkin setoran, makasih buat kamu yang masih stay di lapak aku, ***** basah dari author.... muaacchhh!
Siapkan jantungmu Mia, karena kedepannya si Om bakal tebar ribuan cinta padamu. 🤭
Buat Yanti, sabar ya... kan udah ada tuh yang nungguin di belakang, uhuk.
__ADS_1