
Jantung Angga hampir berhenti ketika motor yang ia tumpangi disalip sebuah mini bus. Dan yang paling dikesalkan adalah sang pelaku seolah tidak merasa bersalah dengan melenggang pergi begitu saja. Umpatan keluar dari mulut Angga membuat pria paruh baya itu terkekeh geli.
"Brengsek! Dia pikir ini jalanan nenek moyangnya?!"
"Sabar Bos, udah biasa itu. Kol mini emang bawanya ugal-ugalan gitu."
"Harusnya dilaporkan, Pak!" Tegas Angga.
"Ribet Bos, butuh uang juga. Daripada buat urus gituan, mending buat makan." Ucap pria itu santai.
Hati Angga mencelos, sesusah itukah hidup pria itu? Ya, harusnya Angga sadar tidak semua orang hidup dengan bergelimang harta, bahkan dengan mudah mendapatkan keadilan karena kuatnya uang. Hening sesaat sebelum pria paruh baya itu memecah lamunan Angga.
"Udah sampai Bos!"
Angga terhenyak, lalu mengedarkan pandangan memastikan bahwa benar tempat itu adalah Bandara.
Ia turun dari motor lalu melepas helm, mengambil dompet dari saku Jas dan meraih 5 lembar uang berwarna merah. "Makasih Pak, Ini ongkosnya!" Seraya memberikan uang dan helm pada Pria itu.
Mata pria paruh baya itu melebar, terkejut dengan banyaknya uang yang diberikan Angga. "Ini kebanyakan Bos! 1 lembar aja udah sama kembaliannya." Pria itu hanya mengambil 1 lembar uang di tangan Angga.
Angga merasa tidak enak, bagaimana pun pria itu telah menolongnya mengantar sampai Bandar dengan selamat. "Jangan ditolak Pak! Saya benar-benar berterima kasih sudah diantar sampai sini."
Pria paruh baya itu tersenyum. Ia malah mengingatkan Angga akan waktunya yang tidak banyak. "Mending Bos masuk sekarang! Takutnya pacar Bos keburu pergi."
Angga jadi bingung sendiri, ia tidak mau membuang waktu lagi. Akhirnya ia memilih mengalah dan masuk Bandara untuk mencari Mia, namun sebelum itu Angga meminta Pria itu untuk menunggunya.
"Baik, saya masuk dulu. Bapak tunggu ya! Kita belum selesai." Angga berkata sambil berjalan menjauhi Pria itu. Pria paruh baya itu hanya mengangguk.
Langkah kakinya terdengar menggema di loby Bandara, Angga mengedarkan pandangan mencari sosok gadis pujaannya. Tempat itu sangat luas, sulit baginya bila mencari hanya seorang diri.
Angga merutuk karena meninggalkan Bodyguard di rumah Jack. Kini dia hanya sendiri dalam kebingungan. Tidak hilang akal, ia mengambil posel dan menghubungi seseorang.
Drrttt... Drrtt... Klik.
"Sony, tolong hack CCTV di Bandara ***. Gue butuh cepat gak pake lama!"
"Santai Bro, enak bener lo nyuruh-nyuruh hack. Klo ketauan gue bisa masuk BUI."
"Gue kirim fotonya sekarang!" Angga langsung mematikan panggilan secara sepihak membuat yang di seberang sana mengumpat.
__ADS_1
"****!!! Kebiasaan banget, klo bukan saudara udah gue pites lo!" Pria bernama Sony itu menahan kesal, namun kekesalannya berubah saat menerima pesan bergambar dari Angga.
Foto Mia terpampang disana. Angga sempat ragu untuk mengirimkan foto Mia, masalahnya foto yang ia punya hanya saat Mia di apartementnya. Dan waktu itu Mia hanya mengenakan kaos miliknya.
Pantes dia kalang kabut nyariin neh cewe, jadi seleranya yang semok gini. Manis seh! Batin Sony.
Pria itu menyeringai sesaat, kemudian dengan lihai pria itu berkutat dengan laptop. Jarinya menari lincah di atas keyboard, selang 20 menit ia mendapatkan apa yang diinginkan Angga.
"Gotcha! Ketemu kau manis. Sayang sekali... kamu malah ketemu duluan sama Angga si bujang lapuk." Kekeh Andi. Ia memutar kursi sambil menelpon Angga.
Drrtt... Drrtt... Klik.
"Gimana?" Cecar Angga.
"Gue dapet apa klo kasih tau lo?" Tawar Sony.
Angga menggeram, masalahnya ini bukan saatnya bernegosiasi. Ia sedang berpacu dengan waktu, sampai saat ini dia belum tau keberadaan Mia. "Sialan! Cepet bilang lo mau apa? Gue gak ada waktu!"
"Dia udah pergi,"
"A-apa?" Angga seolah salah dengar.
Sony mengeryit bingung karena tidak ada respon dari Angga. "Ga... Angga, lo denger gue?"
Angga tidak bergeming, ia berlutut karena kakinya yang seolah tak mampu untuk menopang berat tubuhnya. Helaan nafas tertahan dihembuskan, meski samar Sony bisa mendengarnya.
"Angga, Denger! Gue tau tujuan dia pergi!" Sony setengah berteriak karena Angga tidak kunjung menjawab.
"Angga! Jangan cemen lo, tinggal susul aja seh apa susahnya?" Sony memprovokasi Angga agar bangkit. Angga mulai sadar, bahwa ia bisa mengejarnya asal tau kemana Mia pergi.
"Kemana? Kemana dia pergi?" Tanya Angga setelah mengatur nafasnya agar lebih tenang.
"Swiss,"
Bagai mendapat berita menang undian wajah Angga yang muram berubah menjadi cerah. Ia menjadi semangat kembali, tidak ada kata menyerah sampa ia berhenti bernafas. Ia akan mengejar Mia sampai ujung dunia.
"Thank's Bro! Nanti lo bisa kasih tau gue, lo mau apa?" Tawar Angga.
"Kalo gue bilang mau pacar lo, gimana?" Sony memulai candaan yang tidak lucu menurut Angga.
__ADS_1
"Mati aja lo!" Angga langsung mematikan ponselnya, sedangkan Sony tertawa terbahak-bahak di seberang sana.
"Dasar bucin."
Perasaan Angga lebih tenang dibandingkan sebelumnya setelah tau dimana Mia berada. Ya, ia bisa menyusulnya nanti. Kali ini Mia tidak akan bisa lari lagi, tidak akan pernah Angga biarkan itu terjadi.
Pergilah sejauh yang kau bisa, tapi aku pasti akan membawamu kembali, Mia.
Angga melenggang pergi keluar dari Bandara. Ia tersenyum saat melihat pria paruh baya yang mengantarnya tadi masih setia menunggu. Pria itu menyadari keberadaan Angga, sambil melihat sekeliling seperti mencari seseorang ia bertanya.
"Udah ketemu Bos pacarnya?"
"Udah pergi," Jawab Angga.
"Loh, bukannya dikejar?" Pria itu menatap Angga bingung.
Angga menggeleng. "Nanti aja! Yang penting saya sudah tau kemana dia pergi."
Pria itu mangut-mangut tanda mengerti lalu Angga mendekatinya. "Ngomong-ngomong, saya belum tau nama Bapak siapa?" Angga mengulurkan tangan pada pria itu.
Pria itu bukannya menyambut uluran tangan Angga malah membungkuk sungkan. "Nama saya Tarjo Bos!"
Sudut bibir Angga terangkat membentuk senyum ramah. "Saya Erlangga Saputra, Bapak bisa panggil saya Angga."
"Bos Angga." Ucap Pak Tarjo sambil mengangguk.
"Bisa antarkan saya pulang Pak?" Pinta Angga.
"Dengan senang hati Bos!" Seru Pak Tarjo.
Angga sebenarnya kurang menyukai panggilan Bos yang disematkan oleh Pak Tarjo padanya. Namun sebagai tanda menghargai orang yang telah menolongnya, Angga berusaha memaklumi.
Mereka akhirnya pulang dengan menggunakan motor Pak Tarjo, sedangkan mobil Angga teronggok di tengah Jalan Raya sampai mobil Derek datang untuk mengangkutnya. Sepanjang jalan Pak Tarjo menceritakan kisah hidupnya yang menarik menurut Angga, disaat hatinya galau memikirkan gadis pujaan setidaknya ia terhibur dengan keberadaan Pak Tarjo yang tidak disengaja.
Please rate, vote dan likenya yach!
Tinggalkan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!!
__ADS_1