
Seorang wanita paruh baya namun masih terlihat muda itu bergerak gelisah. Sudah lewat dari 6 jam anaknya tidak kunjung pulang. Ia sedang menghadiri pertemuan bakti sosial saat anaknya dikabarkan pergi tanpa pamit oleh sang bodyguard.
Berulang kali matanya menatap layar ponsel, berusaha menghubungi suaminya yang tidak kunjung mengangkat panggilan. Setelah itu mencoba peruntungan untuk menghubungi putrinya yang melakukan hal sama, bahkan lebih membuat hatinya sesak karena khawatir. Ponsel Mia tidak aktif.
Ada apa? Kenapa mereka berdua sulit dihubungi?
Selang beberapa menit suara familiar terdengar. Itu suara mobil suaminya, bagai mendapat lotre Maya berjalan dengan seulas senyum diwajahnya menyambut kedatangan Jack. Dengan setengah berlari ia menuruni
tangga. “Daddy… Mia sudah ketemu? Dimana Mia? Maya mengedarkan pandangan mencari sosok putrinya namun nihil.
Senyuman yang terukir kini memudar, ia memandang Jack dengan penuh tanda tanya. “Mia…?” Jack langsung memeluk sang istri mencoba mengusir kekhawatiran. “Dia baik-baik saja, semoga."
Maya mendorong Jack untuk melepas pelukan. “Maksudnya?” matanya mencari-cari sesuatu di manik Jack.
Jack mengusap wajah kasar, ia sempat menatap wajah Maya yang muram sebelum menghempaskan tubuh pada sofa. Maya mendekati Jack dengan duduk disampingnya. “Daddy?”
Bagaimana aku menjelaskannya? batin Jack.
Jack menegakkan punggung, mencondongkan diri pada Maya sambil menggenggam tangannya. “Mommy dengarkan Daddy baik-baik. Jangan menyela sebelum Daddy selesai! Mengerti?” Maya langsung menganggukkan kepala, setelah menghela nafas panjang Jack pun menceritakan semua yang terjadi pada putrinya.
Tampak raut wajah Maya yang berubah menjadi kacau setelah Jack berhenti bercerita. “Bagaimana bisa?” Maya menutup mulut dengan telapak tangan, ia menggelengkan kepala tidak percaya. “Oh Tuhan, apa yang mereka lakukan pada Mia?” isak tangis pun pecah.
Jack yang melihat itu merasa iba. Bukan hanya Maya, dirinya sendiri pun tidak percaya anaknya mengalami hal semengerikan ini.
“Lalu dimana Mia sekarang?!” Sambung Maya masih dengan tangisannya.
“Bersama Angga."
“Apa?”
“Dia yang menyelamatkan Mia sebelum hal mengerikan itu terjadi.”
Kini ruangan itu menjadi hening, hanya deru nafas Maya dan Jack yang terdengar. Maya terdiam seperti memikirkan sesuatu, Jack memperhatikan sang istri dengan kerutan di dahinya. Air mata masih terus mengalir kala Maya mengerjapkan mata, detik kemudian ia beranjak dari sofa dan pergi ke kamar Jack langsung mengekorinya dari belakang.
Sesampai di kamar Maya terlihat mencari sesuatu, tatapannya jatuh pada ponselnya diatas nakas tempat tidur. Segera ia mengambilnya, jari Maya dengan lincah menari di layar ponsel tersebut sedangkan Jack mengintip dari belakang Maya. Ada rasa penasaran siapa yang hendak Maya hubungi.
Namun matanya langsung terbuka lebar saat melihat nama yang tertera pada layar ponsel sang istri ‘Angga’.
“Mommy menyimpan nomor pria itu?!” Jack setengah berteriak dengan raut wajah masam. Bagaimana bisa istrinya menyimpan nomor pria yang sempat menyukainya? Atau jangan-jangan masih?
“Stsss…” Maya menutup mulut Jack dengan telunjuknya. ia mengerlingkan matanya sambil menempelkan ponsel ke telinga. “I’m Your, remember?”
Jack diam seketika, apa daya jika Maya sudah berkata seperti itu. Pria budak cinta itu hanya menganggukkan kepala menurut seperti kucing manis.
__ADS_1
Maya menantikan panggilan yang tersambung dengan rasa gugup, bukan karena grogi pada Angga. Tapi rasa khawatir pada keadaan Mia putrinya. Ia mengusap jejak airmata pada pipinya sambil berjalan mondar mandir, hatinya semakin tidak karuan saat panggilan tidak kunjung di jawab. Beberapa detik kemudian telepon pun terangkat, binar bahagia pun terpatri di wajah cantiknya.
[Halo?] Ucap seseorang diseberang sana.
[Halo… Angga.]
[Maya?]
[Ya, ini aku! Mia… aku tau Mia bersamamu.]
[…]
[Angga, kau mendengarku?]
[Ya… aku mendengar. Maya aku-]
[Bagaimana keadaan anakku?]
[She’s fine.]
[Terima kasih sudah menyelamatkannya!]
[*I*t’s Okay! Aku melakukan itu karena harus. Apakah… kau akan melarangku bersamanya? Maya?]
[“… Kau Tidak menjawab pertanyaanku.]
[Sebaiknya kita bicara langsung.]
[Baik… besok aku antar. Maaf aku masih ingin bersamanya.]
[…]
[Maya?]
[Ok, jaga dia!]
Telepon pun terputus, Jack memandang sang istri dengan tatapan tajam mengintimidasi. Melihat wanitanya bertelepon dengan pria lain membuat hatinya panas. Dari percakapannya terlihat mesra bagi Jack (gak gitu Daddy Jack). Maya melihat Jack, wajahnya merah karena kesal. “Kenapa?”
“Apanya yang kenapa?” ketus Jack.
“Daddy kenapa?”
“Masih tanya, kamu berbicara dengan pria lain. Kamu selingkuh di depan aku!” ucap Jack lebay membuat Maya memutar bola mata malas. Jika tidak cinta sudah Maya buang ke Antartika.
__ADS_1
“Oh my God, aku telpon tanya Mia ya! Apa ada kata-kata aku yang terdengar menggodanya?”
Jack mengatupkan bibirnya rapat, memang tidak ada kata-kata yang memancing adanya perselingkuhan. Sepertinya ia terlalu banyak nonton sinetron ikan terbang, yang isinya hanya kisah perselingkuhan.
“Kenapa diam?” Maya mendekap kedua tangganya di bawah dada. Karena posisi Jack duduk dan Maya yang berdiri jadi terlihat Maya lebih tinggi. Jack mendongakan kepala memandang sang istri yang semakin cantik bila sedang marah, matanya malah tertuju pada gundukan kembar Maya.
Maya mengikuti arah pandangan Jack langsung membulatkan mata, ya ampun suaminya ini benar-benar tidak tau tempat dan situasi.
“Dasar mesum, udah nuduh aku selingkuh matanya gak tau tempat!” Maya memukul pundak Jack dengan kekuatan penuh membuat Jack meringis karena serangan tiba-tiba.
“Mommy!” Jack mencoba menghindar dari pukulan Maya yang membabi buta. Maya berhenti memukul dengan nafas memburu menahan emosinya.
“Mommy? Tadi udah panggil ‘aku’ ‘kamu’ ya. Gak ada Mommy-Mommy lagi!” Maya menghentakkan kaki meninggalkan Jack yang melongo.
Mati aku, bakal tidur di luar kalo begini.
“Sayang! Maya, tunggu!” Jack mengejar Maya yang sudah diambang pintu. “Maaf sayang, aku hanya cemburu,” tangan Jack melingkari pinggang Maya, mendekapnya dari belakang.
Maya berusaha melepaskan diri namun Jack tidak bergeming. Ia semakin mengeratkan pelukannya. “Cemburu tidak beralasan?!”
“Iya maaf,”
“Daddy nyebelin!”
“Iya aku tau, maaf ya…!”
“Jangan diulangi lagi, aku cuma tanya keadaan anak aku. Gak lebih!”
“Iya, maaf. Maaf … maaf.” Jack berkata lirih, ia merutuki kecemburuannya yang tidak beralasan. Harusnya ia bisa mengesampingkan perasaan dan lebih mementingkan keadaan Mia.
Kadang cinta membuat yang tua menjadi seperti anak kecil begitupun sebaliknya membuat anak kecil menjadi dewasa sebelum waktunya. Semua karena cinta.
🌷🌷🌷
Apartement Erlangga Saputra.
Gadis gendut itu sedang asik mengunyah cemilan sambil menonton serial Dorama kesukaannya. Itazura na Kiss salah satu film lawas yang tidak pernah bosan ia tonton. Kisah seorang gadis bodoh yang tergila-gila pada pria popular dan pintar di sekolah membuatnya bertekad untuk menjadi pintar juga.
Sekuat tenaga mengejar sang pria bahkan seringkali mempermalukan diri sendiri karena pribadinya terlampau polos, kisah classic drama percintaan yang dipenuhi bumbu komedi dan airmata. Membuat Mia enggan beranjak dari layar televisi barang sebentar.
Angga hanya mengulas senyum melihat tingkah gadisnya itu, ia memperhatikan Mia dari pantry tanpa ada niat untuk mendekat. Mia sadar diperhatikan langsung menatap Angga penuh tanya.
“Ada apa Om? Kenapa diam disitu? Sini nonton bareng aku!" Mia melambaikan tangan mengundang Angga untuk mendekatinya.
__ADS_1
Tawaran menggiurkan itu langsung disambut riang oleh Pria itu.