Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 95


__ADS_3

"Nak Bara! Pagi-pagi sekali kemari, mau ketemu Yanti ya?" cerocos Pak Tarjo menghampiri Bara. Ia baru saja pulang dari warung untuk membeli berondong manis.


"Pagi Pak," ucap Bara sopan. Oh, sekarang mau tidak mau Bara harus bersikap baik pada calon mertuanya itu.


Apa ini karmaku karena selalu merutuki Pak Tarjo dalam hati, dan sekarang aku di rumahnya untuk melamar putrinya. Batin Bara berkecamuk.


Ia tersenyum getir menerima keadaannya kini.


"Ayo masuk Nak, jangan formal begitu. Seperti bukan dirimu saja," ejek Pak Tarjo semakin membuat Bara merengut menahan mulas di perut. Ingin kesal tapi tidak bisa.


Bara menurut mengikuti Pak Tarjo dari belakang. "Tunggu ya Nak, Saya buat kopi dulu. Kita minum bareng sambil makan brondong manis, manis sekali seperti saya."


Kepala Bara nyut-nyutan mendengar Pak Tarjo memuji diri sendiri manis. Hanya senyum terpaksa yang bisa Bara berikan untuk menanggapi Pak Tarjo.


Senandung terdengar samar dari bibir Pak Tarjo, ia melangkah ke kamar Yanti. "Yanti, ada Mas Bara neh. Temenin tuh di depan. Bapak mau bikin kopi," titah Pak Tarjo kemudian ia pergi ke dapur.


Bagaimana bisa Yanti keluar dan menemui Bara, rasa malunya sudah membengkak sekedar untuk menunjukkan muka. Ia mendengus kesal, memilih ke luar kamar lalu menyusul Bapaknya di dapur.


"Aku lagi gak enak badan Pak. Bapak aja ya yang temenin Mas Bara," kelit Yanti. Semoga Bapaknya percaya dengan alasannya tidak bisa menemui Bara.


Bukannya menjawab, Pak Tarjo malah menyodorkan nampan berisi kopi dan sepiring brondong jagung. "Gak sampe operasi kan? Kamu masih bisa ke dapur buat bikin alasan ke Bapak, udah sana samperin Mas Bara!"


"Aku beneran gak enak badan Pak!" jelas Yanti sedikit memelas.


Pak Tarjo menyodorkan brodong jagung manis untuknya. "Makan!" Dengan pelan Yanti mengunyah brondong itu. "Enak?"


Yanti mengangguk. "Nah, udah enakkan jadinya. Sana ke depan! gak pake alasan lagi," ujar Pak Tarjo berhasil membuat Yanti bungkam.


Ia lupa jika Bapaknya sangat ahli bermain kata, dengan malas Yanti membawa nampan itu menuju ruang tamu. Gadis itu menundukkan kepala, belum selesai malunya tentang cukuran kaki sekarang bertambah karena ia kepergok joged di halaman rumah.


Aku bener-bener gak sanggup ketemu dia, batin Yantin menjerit.


Sampai di ruang tamu, ternyata Bara sedang ditemani Bu Ani. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Nah, itu Yanti. Sini! Nak Bara ada perlu sama kamu," ucap Bu Ani menyambut Yanti.


Beliau mengambil nampan di tangan Yanti kemudian menghidangkan jamuan di hadapan Bara. Bu Ani menarik Yanti yang masih diam terpaku sambil menunduk untuk duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa Yanti? Nunduk terus," bisik Bu Ani. Ia jadi tidak enak karena Yanti terus diam tidak bersuara. Yanti yang menunduk masih tidak bergeming, kepalanya seperti tertimba bongkahan batu. Berat!


Tidak lama, Pak Tarjo pun datang menyusul ke ruang tamu. Beliau duduk di samping Yanti bersebrangan dengan Bara. Melihat semua anggota keluarga yang telah berkumpul, Bara pun menyampaikan maksud dan tujuannya datang ke rumah Pak tarjo.


"Hm... begini saya kesini-"


"Saya tau, Nak Bara mau melamar Yanti kan? Maharnya sudah saya terima kemarin," ujar Pak Tarjo sok tau. Saat itu juga Bu Ani mencubit perut Pak Tarjo.


"Bapak gak sopan! Nak Bara belum selesai ngomong udah di potong aja," ucap Bu Ani kesal. Pak Tarjo meringis ngilu.


"Eh, iya. Maaf ya Nak Bara!"


"Tidak apa-apa Pak, lagi pula yang kemarin saya kirim bukan mahar. Saya hanya menepati janji saya pada Bapak waktu di Swiss," jelas Bara. Yanti sempat terhenyak, namun masih tetap menunduk.


Loh? Bukannya kemarin Mas Bara meminta aku menikah dengannya. Apa aku salah dengar?


"Saya tidak melamar Yanti kemarin, tapi saya melamar Yanti sepulang dari Toko Buku, dan sekarang saya ingin langsung membicarakannya dengan Bapak dan Ibu," jelas Bara.


Raut wajah Pak Tarjo berubah kembali sumringah. "Wah, Nak Bara pinter bikin saya baper." Pria tua itu terkekeh.


Yanti menghela nafas lega, ternyata yang disampaikan Bara kemarin benar. Sudut bibirnya mengembang tipis, merasa tersanjung karena dengan berani Bara langsung menghadap orang tuanya.


Pikirannya menerawang ke mana-mana, sesaat kemudian ia baru menyadari apa yang ia kenakan. Celana 3/4, terlihat bulu kaki yang mengintip di sana. Matanya membulat sempurna, ia mendongak langsung. Manik Yanti bertabrakan dengan Bara yang memandangnya heran.


Yanti segera menarik daster Bu ani untuk menutupi kakinya, Bu Ani memekik kaget saat Yanti mengajaknya untuk segera berdiri. "Yanti, kamu kenapa?"


"Udah, Ibu ikut aku!" Yanti membawa Bu Ani ke kamarnya sambil berjalan mundur. Pak Tarjo sampai bingung di buatnya, tidak menyangka anak gadis yang terlihat cerdas itu akan bertingkah konyol.


Pria tua itu tersenyum kikuk pada Bara yang mengulum senyum menahan tawa. "Maaf ya Nak, semenjak kemarin Nak Bara mengirim peralatan mandi Yanti bersikap aneh."

__ADS_1


"Aneh?"


"Iya, waktu itu dia pegang cukuran. Abis itu ngurung di kamar deh, emang bulu kaki Yanti lumayan banyak. Turunan Ibunya," seloroh Pak Tarjo. Ia membeberkan hal yang memalukan di depan calon menantunya, tanpa tau bagaimana ekpresi Yanti jika tau Pak Tarjo membicarakan bulu kakinya.


Bara hanya bisa menutup mulutnya untuk tertawa, ia baru mengerti mengapa Yanti bertingkah seperti itu. Gadis itu berusaha menutupi kakinya, ada-ada saja. Sungguh keluarga yang unik, terlebih Pak Tarjo. Pria tua dengan segudang kejutan yang sanggup membuat Bara pusing dan tertawa di waktu yang bersamaan.


Yanti kembali dengan mengenakan celana jeans se-mata kaki. Bara mau tidak mau jadi mengarahkan pandangan pada kaki jenjang gadis itu. Bu Ani meminta maaf atas kelakuan Yanti, sedangkan yang bersangkutan masih tidak mau bersuara.


Bara berusaha menetralkan diri agar tidak tersenyum, mengusir pikiran yang mengarah pada bulu kaki. Bara mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jasnya.


"Ekhem! Begini, saya memang berniat untuk meminang Yanti. Namun, tidak dalam waktu dekat. Karena itu saya ingin mengikat Yanti dengan pertunangan, jika Bapak dan Ibu berkenan." Bara membuka kotak itu, Yanti menahan nafas melihat cincin indah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


"Kalau boleh tau, apa alasan Nak Bara untuk menunda?" tanya Pak Tarjo penasaran.


"Saya ingin menunggu Tuan Angga pulang terlebih dahulu," jawab Bara.


"Ya Ampun, benar juga. Tuan Angga kan masih di Swiss, tidak sopan jika kita melangkahinya!" ucap Pak Tarjo membenarkan.


Bara senang akan pengertian Pak Tarjo padanya. Ia mengalihkan perhatian pada Yanti yang sejak tadi diam. "Bagaimana dengan Yanti sendiri, apa bersedia?"


Yanti terhenyak ketika ditanya langsung oleh Bara, ia menoleh pada Ibu dan Bapaknya yang tersenyum kemudian kembali melihat Bara. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. Bara mengambil cincin itu dan meraih tangan Yanti di atas meja. Menyematkan lingkaran emas itu di jari manis gadis yang sama-sama manis.


Suasana bahagia terpancar dari keluarga tersebut. Bara menyampaikan jika orang tuanya akan berkunjung 2 minggu lagi, karena mereka tinggal di luar Jawa. Bara pun pamit untuk undur diri, Yanti mengantar pria itu hingga halaman rumah.


"Hati-hati di jalan, Mas."


Bara tersenyum, ia mendekatkan wajahnya ke pelipis Yanti. Gadis itu terperanjat sesaat.


"Tidak perlu dicukur! Karena saya suka yang berbulu," bisik Bara kemudian berbalik meninggalkan Yanti. Wajah gadis itu merah padam, ia tau ulah siapa sampai Bara tau masalah cukur-mencukur.


"BAPAAAAKKK!!!!" teriak Yanti.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!!


Tobat aku klo punya Bapak macam Pak Tarjo, 🤣🤣🤣


__ADS_2