Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 74


__ADS_3

Apartement Jack Adinata


Klik


Suara pintu apartemen terbuka memecah atensi Maya yang sedang membaca buku di sofa. Wanita itu menoleh ke arah suara, senyumnya mengembang saat melihat bocah kecil berlari dengan wajah riang menghampirinya.


"Mommy!"


"Hai, Cristhoper!"


Bocah itu memeluk erat Maya seolah lama tidak bertemu. Maya mengusap lembut punggung Cristhoper, manik hitamnya menangkap sosok pria yang berjalan mendekati. Kecupan lembut pun mendarat mulus di kening wanita itu, membuat Maya tersipu malu.


"Sayang, aku merindukanmu," Bisik Jack. Maya sampai menahan nafas ketika wajah suaminya begitu dekat. Cristhoper yang melihat itu malah mengerucutkan bibirnya kesal, ia merasa diabaikan.


"Ah, Daddy! Mommy sekarang milikku, hush... hush... stay away!" Usir Cristhoper pada sang Daddy.


Jack mendengus melihat tingkah Cristhoper yang mulai kumat. Ia memilih pergi mencari keberadaan puteri kesayangannya, Mia. Sambil melepas jasnya ia mengedarkan pandangan.


"Dimana Mia?"


"Tadi seh ada di taman, coba Daddy cek sendiri." Sahut Maya yang masih memeluk Cristhoper.


Pria itu melangkahkan kaki menuju taman, terlihat dari kejauhan gadis gendut itu sedang asik mengutak-atik laptopnya. Dengan perlahan Jack menutup mata Mia dari belakang, sontak gadis itu terkejut. Ia memegang tangan yang menutup matanya, hening beberapa lama kemudian ia tersenyum.


"Daddy." Kekehnya terdengar lucu. Jack pun melepas tangannya yang menutupi mata sang puteri, Mia menoleh dengan senyuman menawan.


"Hai! Sedang sibuk apa?" Tanya Jack sambil mendaratkan bokong di samping Mia.


"Sedang isi biodata untuk sekolah baru, aku dapat Email dari sana untuk melengkapi."


"Jadi, kamu suka sama sekolahnya?"


Mia tidak menjawab, ia malah memeluk Jack dan mengecup pipi sang Daddy.


"Thank's Dad, meski terlalu berlebihan." Gadis itu menggedikan bahu.


Jack merangkul Mia. "Tidak ada yang berlebihan jika itu untukmu."


Mereka tertawa bersama, selang beberapa menit kemudian Maya dan Cristhoper pun bergabung untuk bercengkarama di taman. Saat Maya pergi ke dapur untuk mengambil beberapa kudapan, Mia teringat sesuatu.


"Daddy beli perusahaan coklat ya?" Tanya Mia.

__ADS_1


Jack yang sedang memangku Cristhoper mengangguk dengan senyum simpul. "Sebelum tempo hari Daddy menawarkan padamu, Daddy sudah beli perusahaan itu. Daddy beli itu dengan murah, karena perusahaannya hampir collapse." Jelas Jack. Jack membeli perusahaan itu dari rekan kerja yang terlilit banyak hutang.


"Apa memang dari awal rasa coklatnya pahit Daddy?" Tangannya mengusap-usap kepala Cristhoper, bocah itu menikmati usapan Mia hingga memejamkan mata.


"Bahkan Daddy belum pernah mencobanya, selama ini yang memegang orang kepercayaan Daddy. Tidak ada yang dirubah sejak pertama perusahaan itu dibeli. Daddy hanya meneruskan yang ada dengan menambah modal di sana." Ujar Jack.


"Masalah keuntungan?"


"Ada, meski sangat tipis."


Gadis itu hanya mangut-mangut membuat Jack terpancing melihat respon sang puteri. "Kenapa? Kamu sepertinya tertarik."


"Hm, ya lumayan. Aku cuma penasaran kenapa rasa coklatnya pahit, apa karena itu coklatnya tidak laku?"


"Kalau begitu kau bisa melihatnya nanti." Melihat Mia yang memperlihatkan ketertarikan pada perusahaan coklat miliknya membuat Jack senang. Mia bisa ikut mengelolanya jika gadis itu mau, pikir Jack.


"Ya, aku pasti akan datang! Aku akan buat ChocoMia laris manis," Selorohnya membuat Jack gemas. Pria itu mengacak-acak rambut Mia hingga gadis itu memekik karena rambutnya berantakan.


"Daddy!" Jack tergelak melihat ekspresi cemberut Mia.


"Lagi ngomongin apaan seh? Seru banget," Sang Mommy akhirnya datang dengan beberapa kudapan dan minuman di atas nampan. Wanita itu menarik kursi hingga duduk bersebrangan Jack dan Mia.


"Aku cuma bilang ingin melihatnya Dad, bukan mengelolanya." Sangkal Mia.


Maya terkekeh melihat interaksi Ayah dan Anak itu, Matanya teralih pada sosok Cristhoper yang terlihat tertidur di pangkuan Jack. "Pindahkan dia Dad! Kasihan Cristhoper, pasti kecapekan lama di Pesawat."


Pria itu mengangguk lalu beranjak dari duduk menuju kamar Cristhoper. Maya kembali menatap Mia yang asik mengunyah biscuit coklat.


"Kenapa?" Kunyahannya terhenti kala Mia merasa diperhatikan oleh sang Mommy.


"Nggak apa-apa, Mommy harap kamu betah di sini." Maya tersenyum manis, tangannya mengusap pipi Mia lembut. Gadis itu tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


🌷🌷🌷


Hotel


"Nak Bara..." Panggil Pak Tarjo.


Pria itu sedang asik menyesap wine di balkon hotel, suara panggilan Pak Tarjo memecah semuanya. Alisnya menyatu dan menukik seperti lintasan mobil yang tajam. Ia mendengus menahan kesal sambil menghentak langkahnya ke arah Pak Tarjo.


"Ada apa lagi, Pak?" Nadanya naik satu oktaf dari biasanya membuat Pak Tarjo yang tadi memanggil menciut. Ia malah diam setelah ditanya.

__ADS_1


"Bapak, ada apa?" Bara berkacak pinggang sebelah tangannya. "Saya ke sini, malah diam."


"Hm... itu."


"Itu apa?"


"Menyalakan airnya yang mana ya? Saya bingung banyak tombol di dalam." Pak Tarjo berkata dengan pelan.


Tanpa kata Bara memasuki kamar mandi dan menyalakan air keran, shower dan air bathtub. Bara pikir biar Pak Tarjo memilih sendiri agar tidak bertanya lagi. Ia pun hendak meninggalkan kamar mandi, namun langkahnya terhenti kala Pak Tarjo mengucap kata yang membuatnya makin pening.


"Nak, handuk di dalam banyak. Boleh di bawa pulang gak?"


Bara menoleh dengan tatapan tajam. "Bapak sekarang masuk, dan mandi. Semua yang ada di dalam tidak ada yang boleh diambil, termasuk pasta gigi! Karena saat pulang nanti akan saya kirim berdus-dus semua itu ke rumah bapak tanpa harus mengambil dari sini!" Ucap Bara panjang lebar menahan geram membuat Pak Tarjo menganga.


Pria itu akan mengirim peralatan mandi ber dus-dus kerumahnya? Apa itu mahar untuk anak perawannya? Pak Tarjo malah tersenyum jenaka.


"Tidak perlu berdus-dus Nak Bara, 1 saja saya ikhlas jika memang itu untuk mahar anak saya nanti." Pria tua itu melenggang pergi sambil bersiul meninggalkan Bara yang kehabisan kata.


Niat menyindir malah ia yang kena batunya, Pak Tarjo malah membahas masalah mahar.


Yang benar saja, masa mahar dariku peralatan mandi? Aku bisa memberikan lebih dari itu! Memangnya siapa yang mau melamar anaknya? Tapi, bukan berarti aku tidak mau menikahinya. Eh, apaan seh? Pak Tarjo sudah benar-benar merusak otakku!


Bara menjambak rambutnya frustasi sambil menatap pintu kamar mandi. Hidupnya menjadi jungkir balik semenjak bertemu dengan pria tua yang selalu berceloteh menanyakan apapun di sekelilingnya.


Dengan langkah lunglai ia memasuki kamar, sudah tidak berselera lagi untuk menikmati wine. Ia memilih untuk mengistirahatkan tubuh dan otaknya yang lelah menghadapi Pak Tarjo.


Aku harap aku bermimpi indah. Pria itu bergumam hingga tidak beberapa lama dengkuran halus terdengar.


Beberapa menit kemudian Pak Tarjo keluar dari kamar mandi, Pria tua itu telah tampak segar dan bersih di banding sebelum-sebelumnya. Apa pengaruh sabun yang dikenakan? Wangi sabunnya enak sekali.


Sempat terfikir untuk membawa 1 ke rumah, tapi mengingat perkataan Bara membuatnya mengurungkan niat. Pria itu berbinar bila mengingat Bara yang akan membawakan peralatan mandi untuknya.


Baik sekali kamu Nak, pasti akan menjadi suami yang baik untuk anak saya. Batin Pak Tarjo sambil melihat Bara yang tertidur pulas.


Entah mengapa Pak Tarjo seolah menginginkan Bara yang selalu ketus itu menjadi menantunya. Pria tua itu pun ikut bergabung dengan Bara tidur di ranjang yang sama. Tanpa diketahui Pak Tarjo bahwa ada 1 kamar lagi untuk dirinya tidur.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Bagaimana ya ekspresi Bara yang bangun nanti melihat Pak Tarjo tidur bersamanya. Author seneng bikin bang Bara naik tensi. 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2