
2 pria muda di hadapan mereka hanya bisa diam menahan perih di dada melihat gadis gendut itu menangis. Gadis itu menangisi pria lain dan itu membuat hati ke duanya memanas.
Farel menengok ke Haris seolah meminta penjelasan siapa itu Om sialan yang disebutkan Laras. Haris masih setia dalam kebisuannya. (bukan Haris banget!).
“Hati gue udah gak berbentuk pas tau dia mau nikah…” Bisik Mia membuat Laras tersentak. Diam-diam Laras mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
Brengs*k!
Suara Mia masih bisa terdengar oleh Haris dan Farel. Haris harus pergi dari sana, sebelum tindakan nekatnya untuk ikut memeluk Mia terjadi. Ia memberi sinyal pada Farel untuk mengikutinya, dan melambaikan tangan pada Laras sebelum pergi.
“Jaga dia.” Gerakan mulut Haris tanpa suara pada Laras. Laras menganggukkan kepala tanda mengerti.
🌷🌷🌷
Mereka berdua akhirnya keluar dari Café, saat cukup jauh Farel menghentikan langkah dan bertanya. “Siapa Om sialan itu?”
“Cinta pertama Mia,” Haris menghela nafas Lelah.
“Hah?”
__ADS_1
“Jangan jadi bolot deh,” Ucap Haris malas. Respon Farel membuatnya jengkel sendiri.
Farel menggelengkan kepala sambil tersenyum miris. “Yang bener aja lo! Cinta pertamanya Om-om?”
Tatapan tajam Haris menghunus Farel, dia menertawakan Mia dan Haris tidak suka. “****, loe pikir lucu? Mia suka dia dari 8 tahun yang lalu. Dari dia SD, dan gue sama sekali gak tau itu sebelum Laras cerita semua!” Haris berteriak.
“Loe bisa banyangin gak perasaan dia? Loe bisa jadi dia? 8 tahun nunggu taunya yang di tunggu gak inget sama dia. Dan sekarang loe ketawain dia?” Mata Haris memerah, Farel terkesiap mendengar setiap kata dari Haris yang begitu peduli pada Mia.
Dia merutuki diri yang sempat seperti mengejek. Tapi sungguh dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya merasa terhina karena kalah pesona dengan Om-om. Itu saja.
“Gue gak ketawain Mia, Har!” Farel menjambak rambutnya “Gue cuma… ngerasa kalah, sama Om sialan itu.”
“Damn it, Har! Kenapa seh lo selalu mikir jelek ke gue?” Farel ikut berteriak. Jika bukan diluar mungkin mereka sudah diseret oleh Pak Satpam.
“Gak tau? Susah percaya sama orang yang suka mainin perasaan!” Haris memilih pergi setelah meluapkan emosinya. Meluapkan kekecewaan pada diri sendiri yang tidak bisa menjadi penenang untuk Mia, dan mengeluarkan semua pada Farel.
Sejak Farel bertaruh mendapatkan Mia untuk menjadi pacarnya, sejak itu juga Haris memutuskan untuk menghindar dan tidak dekat lagi pada Farel. Rasa simpati dan kepercayaannya luntur akibat Farel menyakiti Mia. Hingga kini Haris hanya menganggap teman biasa pada Farel, padahal dulu mereka sahabat. Seperti Mia dengan Laras.
“Fu*k, fu*k, fu*k!” Farel mengumpat habis-habisan sambil menghentakkan kaki dan mengepalkan tangan. Farel menatap sedih punggung Haris yang perlahan menjauh, ia menyesali perbuatannya sekarang.
__ADS_1
Saat jatuh tidak ada satu pun teman geng motornya yang hadir, membuatnya kembali teringat saat Haris yang merawatnya di rumah sakit sesuai kecelakaan bertanding balap liar. Orang tuanya sibuk mencari uang yang di klaim untuk masa depannya. Berkali-kali Haris melarang Farel bergaul dengan geng motor nya. Tapi tidak diindahkannya.
🌷🌷🌷
Kediaman Sastroadji
Hani menyambut kedatangan Angga dengan hangat, ia tidak ingin terus menghindar. “Sudah pulang?”
“Ya, hm… kita harus bicara,” Angga to the point.
Senyuman miris terukir di wajah Hani, Angga seolah ingin cepat lepas darinya dan itu cukup meruntuhkan harga diri Hani. “Ok, kita bisa bicara,”
“Not here, kita bicara saat makan malam. Bersiaplah!” Angga berucap dengan nada selembut mungkin membuat Hani menjadi lebih baik.
“Baik, aku ingin makan steak!” Hani bernegosiasi, Angga mengangguk setuju.
Please rate, vote dan likenya yach!!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1