Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 51


__ADS_3

"Enak aja gue di bilang ibu ke-2. Tua amat gue." Gumam Laras sambil tersenyum.


Laras segera menghubungi ponsel Mia, namun nomor yang di tuju tidak aktif membuat rasa khawatir Laras membucah. Apa lagi barusan ia memimpikan hal buruk tentang sahabatnya itu.


[Nomor yang anda tuju tidak aktif-]


Tombol merah segera ditekan olehnya. Sudah yang ke-5 kali pesan suara itu terdengar. Laras menggigiti kuku jari gusar, dia sungguh takut hal buruk menimpa Mia.


Drrtt... Drrtt... Drrttt...


Ponsel Laras bergetar, hal tersebut hampir membuatnya melempar ponsel karena kaget. Nomor tidak di kenal menghubunginya. Dengan ragu iya menggeser ikon hijau dilayar.


[Ha-halo?]


[Laras, ini Mommy Maya. Kamu dimana? Apa Mia sama kamu? Mia pergi gak pamit, handphone-nya juga gak aktif.]


Suara di ponsel terdengar samar saat pikirannya berputar tidak menentu. Ucapan Mommy Maya membuat hatinya ngilu karena keberadaan Mia yang tidak diketahui.


🌷🌷🌷

__ADS_1


Kediaman Raisa Reena Wijaya


"Guys, lo pada pulang ya! Satria mau kesini." Raisa menyusir teman-temannya halus.


"Rencana lo buat Mia-"


"Mending lo pulang, gak usah ikut campur urusan gue!" Raisa mendekatkan wajah ke temannya dan berbisik. "Klo sampe gagal, lo yang jadi penggantinya!"


Sang teman pun terdiam dengan gelengan kepala pelan menandakan ia tidak mau sampai itu terjadi. Raisa tersenyum dengan tepukan bahu pada temannya itu.


"Ok, leave me please!" Ucapnya lembut.


"Gue belom liat orangnya, lo langsung suruh gue kesini!" Gerutu Satria. Ia berjalan menuju sofa dan merebahkan diri disana.


Raisa tersenyum menggoda. "Gak penting juga, temen lo kan udah ada buat gantiin lo." Ia menghampiri Satria kemudian duduk di pangkuannya. Raisa menggambar pola abstrak pada dada Satria.


"Ya penasaran aja sama orang yang bikin lo sampe merasa takut gini." Satria berbisik di lengkungan leher Raisa, tangan kekarnya mengelus lembut paha mulus kemudian naik perlahan untuk menyingkap dressnya.


Mata Raisa terpejam menikmati sentuhan pria di depannya. "Takut? Gak tuh!" Ucapnya asal sambil melingkarkan tangan pada leher Satria. Nafasnya tertahan saat jari-jari mengelus lembut inti tubuhnya.

__ADS_1


"Lo takut gue tergoda, makanya nyuruh gue kesini. Lo goda gue!" Lengkungan membentuk seringai terpatri di wajah tampan Satria. Ia memasukkan 2 jari pada inti gadis itu hingga membuatnya memekik karena gerakan melingkar. Tangan satunya bermain di puncak payudara Raisa dengan menekan ibu jari pada put*ng memberikan rasa geli dan nikmat secara bersamaan.


"Gue... Gak.. gitu! Oh..." Racau Raisa. Dia sudah tidak bisa merespon setiap kata Satria. Perutnya serasa ada kupu-kupu yang menggelitik, Satria memang pandai memberikan kepuasan dalam urusan ranjang.


Gerakan jari satria semakin cepat dan tidak beraturan membuat Raisa mendapatkan pelepasan pertamanya. Gurat merah di wajah Raisa membuatnya semakin cantik, terlalu sayang jika dilewatkan.


"Loe cewek munafik." Ucap Satria pelan.


"And I don't care!" Raisa menatap dengan senyum sinis, Ia berdiri kemudian melepas semua pakaian di depannya.


Satria terkekeh, ia pun melakukan hal yang sama. Kini mereka sama-sama nak*d.


Raisa merangkul kembali leher Satria sambil menatapnya. "Yang gue mau sekarang adalah lo di dalem gue. Berhenti ngomong yang gak penting!"


Mereka pun berciuman, ciuman penuh gairah dan panas. Raisa melingkarkan kakinya pada pinggang Satria sebelum kemudian ia membawanya ke kamar tanpa melepas tautan tersebut.


Please rate, vote dan likenya yach!!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2