Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 89


__ADS_3

Dengan kepiawaian dalam merayu dan membujuk, akhirnya Bara luluh juga. Ia kini sedang berada di teras rumah Pak Tarjo. Bapak tua itu memasuki rumah dengan agak tergesa menuju dapur.


"Bu, tolong bikinin kopi lagi!" ucap Pak Tarjo sembari mencari cemilan di kitchen set sederhana miliknya.


Nafasnya tertahan ketika melihat toples khong guan yang berisi rengginang. "Aduh, klo begini Bapak bisa dijerat pasal penipuan."


"Maksudnya?" Bu Ani menoleh heran.


"Ya, ini kan toples khong guan, kenapa isi rengginang? Kebiasaan banget seh isi rengginang di sini, bikin PHP orang tau!" sungut Pak Tarjo.


"Kita emang gak punya toples lain, Pak!" Bu Ani ikut menggerutu, dengan asal ia menaruh kopi dan sedikit gula ke dalam gelas.


Pak Tarjo yang melihat hal itu langsung berkacak pinggang. "Eh, jangan asal bikinnya Bu. Yang enak! Itu buat calon mantu."


Mendengar kata calon mantu dari sang suami, Bu Ani pun tau siapa orang yang di maksud. "Ada Nak Bara, Pak?"


"Iya, Bara kesini untuk kasih Bapak kerjaan," Pak Tarjo mengulas senyum senang.


"Hah? Serius Pak? Jadi tukang kebun di rumahnya ya?"


Cubitan maut pun mendarat di pipi Bu Ani, Pak Tarjo gemas dengan istri yang sangat dicintainya itu. "Yang bener aja lah Bu, masa calon mertua di suruh jadi tukang kebun di rumahnya?"


"Loh, terus jadi apa?" Wanita itu mengaduk kopi lama sekali. "Dibilang jangan mimpi Pak, berharap menggapai bulan."


"Eits, jangan salah. Bulan di sini tuh Yanti, anak kita!"


"Terserah Bapak deh," ucap Bu Ani asal, ia sudah malas untuk berdebat.


"Bapak kerja di kantor Nak Bara, jadi Sekretarisnya," Perkataan Pak Tarjo berhasil membuat istrinya tersedak kopi yang sedang ia cicipi.


"Uhuk, uhuk, uhuk," Bu Ani terbatuk-batuk, wanita itu sampai mengusap dada.


"Hati-hati, Bu! Jadi keselek kan," Raut wajah Pak Tarjo khawatir.


Bu Ani melepaskan diri dari usapan tangan suami di punggungnya. "Bapak jangan bercanda!"


"Apanya?"


"Itu, jadi Seker... Sekertatis."


"Sekretaris, Bu." Pak Tarjo terkekeh geli mendengar ucapan istrinya.


"Iya, pokoknya itu. Beneran Pak?" kembali, Bu Ani memastikan. Pak Tarjo mengangguk sebagai respon dari pertanyaan sang istri.


Wajah wanita itu berbinar, sungguh tidak menyangka suaminya yang sudah menginjak hampir 60th itu akan mendapat pekerjaan yang layak. Selama bertahun-tahun Pak Tarjo bekerja sebagai ojek, sering masuk angin karena mencari penumpang hingga larut malam. Tanpa terasa Bu Ani menitikkan air mata haru.


"Ibu mau ke depan, mau bilang makasih banyak sama calon mantu Bapak." seru Bu Ani sambil membawa nampan menuju teras rumah.


Oh, akhirnya. Sang istri ikut merestui keputusan Pak Tarjo menjadikan Bara calon mantu.


Bara sedang termenung kala Bu Ani menghampiri, wanita itu mengulas senyum tulus. "Jangan melamun, Nak. Bahaya, nanti kesambet!" ucap Bu Ani.

__ADS_1


Pria itu terkesiap mendapati Bu Ani sudah duduk di sampingnya. "Eh, iya Bu." Bara mengusap tengkuk sambil menyembunyikan rona di wajahnya.


"Nak Bara, saya mau bilang terima kasih karena sudah memberikan pekerjaan pada suami saya," ujar Bu Ani.


"Sama-sama Bu," ucap Bara sopan.


Tidak lama tampak Yanti keluar dari kamarnya dengan pakaian casual, Bu Ani tau dari suara pintu kamar yang tertutup. Ia segera bangkit dan pamit pada Bara untuk masuk ke dalam rumah.


"Mau kemana, Yanti?"


"Mau beli buku Bu, buat referensi tugas akhirku," Yanti berucap sambil merangkul tas selempang dan berjalan untuk berkaca di dekat pintu rumah tanpa ia tahu ada Bara yang melihatnya.


Pria itu diam saja, entah apa yang ada di pikirannya namun, maniknya tidak henti mengikuti setiap pergerakan Yanti. Hingga akhirnya Yanti menoleh ke samping tempat Bara sedang duduk. Tanpa kata, gadis itu segera masuk ke dalam rumah dengan wajah pucat.


"Ibu! Kok gak bilang ada Mas Bara?"


Bu Ani terkekeh melihat wajah tegang anak gadisnya. "Makanya klo ngaca jangan sambil jalan, pasti tadi Nak Bara liat waktu kamu ngupil."


Ya tuhan, Yanti langsung tidak bersuara. Mukanya merah padam menahan malu, ia menatap tajam pada Ibunya yang masih tergelak.


"Ketawa aja terus, Yanti berangkat dulu!" ketus Yanti. Ia hendak beranjak pergi dari rumah namun Bu Ani segera menahan gadis itu.


"Tunggu dulu!"


"Apa lagi seh, Bu?"


"Kamu pergi sendiri?"


Bukannya menjawab Ibu Ani malah keluar rumah sambil menggandeng Yanti. Gadis itu hanya mengikuti sang Ibu dengan heran.


"Nak Bara, tolong antarkan anak saya ya! Dia mau ke toko buku," pinta Bu Ani.


Sontak saja mata Yanti membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Ia hendak melontarkan protes, Ibu nya dengan seenaknya meminta tolong pada orang yang belum cukup di kenal.


"Ib-" ucapan Yanti terpotong kala melihat Bara yang bangkit dari kursinya.


Ia melewati 2 wanita beda generasi itu dan terhenti di depan teras, Bara mengulas senyum kecil. "Ayo, saya antar."


Ibu Ani dan Yanti seolah terhipnotis dengan senyum menawan yang jarang sekali terlihat di wajah datar Bara. Bahkan mereka berdua mengira Bara tidak bisa tersenyum sama sekali. Bu Yanti yang sudah sadar akan keterpesonaannya menepuk Yanti yang masih terdiam terkesima.


"Eh, bengong, naksir ya?" Bu Ani tersenyum geli, untung tidak ada air liur yang menetes dari anaknya. Masalahnya mulut Yanti menganga cukup lama.


Yanti menatap sebal pada Bu Ani. Ibunya ini tidak lah beda dengan Bapaknya, pemaksa.


"Sudah sana pergi." Bu ani mendorong Yanti mendekati Bara.


"Tapi Bu," Yanti masih enggan. Ia berusaha menolak.


"Kasian tuh Nak Bara nunggu lama, lumayan juga kamu gak mesti panas-panasan." Bu Yanti mengerlingkan matanya penuh arti.


Yanti menoleh pada Bara yang masih setia menunggunya di depan teras. Dengan pasrah akhirnya ia mau pergi diantar pria itu. Bu Yanti melambai-lambaikan tangan bahagia melepas kepergian Yanti dan Bara. Siluet ke 2 insan dari belakang itu terlihat serasi di mata Bu Ani.

__ADS_1


Ya Tuhan, jodohkan lah mereka. Apabila tidak berjodoh, tolong dipertimbangkan. Batin Bu Ani.


Dalam berdo'a pun, sifat pemaksanya tidak kunjung hilang.


🌷🌷🌷


Le Rosey


Angga benar-benar memanfaatkan posisinya sebagai guru agar bisa dekat dengan Mia. Seperti saat ini, meminta gadis itu untuk membawa buku dari kelas ke ruangannya. Padahal, ia bisa saja membawa buku itu sendiri. (Modus)


"Ditaruh di mana bukunya Om?" Gadis itu menutup mulutnya, ia sering lupa merubah panggilan pada Angga.


Dengan takut-takut ia melihat ke arah Angga yang sudah menutup pintu ruangannya, terlihat pria itu menguncinya dari dalam.


"Kenapa dikunci, Pak?" tanya Mia sedikit gusar.


"Agar tidak ada yang mengganggu," ucap Angga sambil tersenyum menggoda.


Mia harus menahan nafas dan degupan jantungnya bila berada dekat dengan Angga, bahkan senyuman pria itu dapat membuat jantung gadis itu melompat keluar.


Angga mendekati Mia, mengambil buku yang masih setia dipegang oleh gadis itu kemudian kembali menatapnya dengan dalam. Mia hanya bisa membisu tanpa bersuara, mulai kikuk dengan keadaan gadis itu akhirnya malah menunduk.


Bisa lemah jantung aku lama-lama.


"Kenapa menunduk? Lihat aku, Mia."


Gadis itu masih tidak bergeming, terlihat rona merah menghiasi pipinya. Angga mengulum senyum, ia memegang tangan Mia dan menuntunnya ke arah sofa. Mia sempat terhenyak sesaat dengan gandengan tangan Angga yang tiba-tiba.


Didudukkannya Mia di sofa, kemudian Angga duduk pula di sampingnya. Mia membulatkan mata saat Angga menaruh kepalanya di pangkuan gadis itu. Angga merebahkan diri mencari posisi yang nyaman agar bisa memandang gadisnya dari bawah. Pria itu memejamkan mata.


Terlihat gurat lelah di wajah Angga, menarik jari Mia untuk mengusapnya. "Capek ya Om?" Mia mengelus rambut pria itu. Angga tersenyum kecil serasa dimanja.


"Iya, capek ngejar kamu," ucapnya jahil.


Mia menarik tangannya dengan wajah sedih. Ia tidak menyangka telah membuat Om gantengnya kelelahan.


"Kok berhenti?" Angga membuka mata, ia ingin dielus lagi. Nyaman sekali rasanya.


"Maaf, udah bikin Om capek."


Angga mengusap pipi chabi Mia, ia menatap manik abu-abu yang begitu digilainya. "Gak apa-apa."


Tangan Angga menjalar ke tengkuk gadis itu kemudian menariknya. "Karena aku mencintamu, Mia..." ucap Angga sebelum mendaratkan ciuman lembut di bibir merah pucat milik gadis itu.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Maaf... aku ketiduran lagi. Paling gak tahan klo udah nempel sama bantal. 🙏🙏🙏


Bang Bara udah mulai PDKT neh, Om angga bikin author baper... ngarepin deh di gituin... uhuk... 🙈🙈🙈

__ADS_1



__ADS_2