
🎶 Baru ku sadari, cintaku bertepuk sebelah tangan...
🎶 Kau buat remuk... Seluruh hati ku...
Suara lagu Dewa 19 menggema ke seluruh ruangan mini market. Membuat Mia memejamkan mata kesal saat akan mengambil coklat.
Ya Ampun... Lagunya bisa gak jangan yang itu?! Bikin bad mood aja.
Mia menghampiri salah satu karyawan mini market yang mengenakan kaos berwarna merah dengan paduan biru dan kuning. (Ind*maret aja bilang ya, ribet banget).
"Mas!"
Pria itu menoleh dan tersenyum ramah. "Ada apa mbak?"
Mia merengut mendengar dirinya dibilang mbak, memangnya dia keliatan tua banget apa? Padahal masih pake seragam lho. (Ya kali kamu mau di panggil sayang, panggilan mbak itu panggilan umum buat orang yang baru kenal, Mia.)
"Lagunya bisa diganti gak?"
"Kenapa emangnya?"
"Saya lagi patah hati," Mia mengucapkan itu sambil berlalu menuju kasir dengan banyak coklat di tangannya.
"Lain kali puter lagu dangdut aja mas!" Mia masih mengoceh saat di kasir. Pegawai itu tersenyum geli.
Boleh juga sarannya! Pikir orang itu.
Tidak lama lagu lain terdengar.
__ADS_1
🎶 Aku tak sing ngalah
Trimo mundur timbang loro ati
Tak oyako wong kowe wis lali
Ora bakal bali
Paribasan awak urip kari balung
Lilo tak lakoni
Jebule janjimu jebule sumpahmu
Ra biso digugu 🎶
Mia mengatupkan bibirnya rapat, memang lagu dangdut yang di putar. Tapi tetap sama, lagu patah hati. Mia tau dari liriknya, trimo mundur timbang loro ati. Ah... Benar-benar keadaan Mia saat ini. Lebih baik mundur dari pada sakit hati.
Sepulang dari Cafe*** Mia tidak langsung pulang, dia mampir ke mini market terdekat. Coklat adalah obat untuk luka hatinya saat ini pikirnya.
Berjalan di sepanjang taman untuk mencari tempat duduk. Sebelum itu Mia sudah berpesan lewat WA bahwa ia pulang telat pada Mommy-nya.
Mia membuka bungkus coklat dan memakannya, menikmati sambil terpejam dan menghembuskan nafas perlahan. Kunyahan awal yang terburu-buru kini menjadi teratur. Tidak lama butiran bening jatuh membasahi pipinya. Sesak yang sejak tadi ditahan kini menyeruak kembali.
Mia terisak untuk pertama kalinya ia menangis karena seorang pria, bahkan kasusnya dengan Farel tidak membuatnya menitikkan air mata. Tapi kini ia sangat lemah, lemah karena cinta yang tak terbalas. Cinta sendiri...
Cukup lama Mia menikmati perih hatinya sambil menangis hingga sesuatu terasa menyelimuti tubuh. Mia menoleh ke samping, terdapat jaket hitam terpasang di bahunya.
__ADS_1
"Tumben masih keluyuran malem-malem, gak takut di razia hansip lo?"
Mia mendongakkan wajahnya melihat siapa yang berbicara.
"Farel?"
Tampak pria muda itu berdiri menjulang tinggi di mata Mia karena dia saat ini sedang duduk. Mata basahnya mengerjap memastikan kembali bahwa ia tidak salah lihat.
Farel melihat bekas air mata di manik dan pipi Mia, hatinya mendadak ngilu. Apa yang bisa membuat seorang Mia menangis? Menangisi apa atau siapa? Pikiran Farel berkecamuk.
"Lo nangis?"
Mia terhenyak dengan pertanyaan Farel. "Ah, apa? Ng-nggak kok. Mata gue kelilipan," Mia memalingkan wajahnya sambil mengusap mata dan pipi dengan cepat.
"Gue tau lo bohong!"
"Kalau pun iya, bukan urusan lo,"
Mata Farel menajam, perkataan Mia membuatnya merasakan lagi nyeri di dada.
"Gue tau, maaf udah banyak salah sama lo." Farel menundukkan kepala.
Mia jadi tidak enak sendiri dengan kata-katanya yang sedikit kasar. Apalagi melihat Farel yang tidak pernah lagi membullynya.
"Lo udah gue maafin, jadi gak perlu minta maaf terus. Maaf juga gue ngomong kasar tadi,"
Farel memandang Mia dengan binar bahagia. "Beneran lo udah maafin gue?"
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!