Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 78


__ADS_3

Le Rosey


"Mia!" Panggil Angga saat Mia pergi meninggalkan kelas tanpa suara.


Saat itu jam pelajaran telah berakhir, waktunya para siswa kembali ke asrama masing-masing. Dengan langkah lebar Angga mengejar gadis itu, hingga ia berhasil menggapai pergelangan tangan Mia. Angga menariknya hingga tubuh Mia berbalik menghadap pria itu.


Namun saat mulut Angga ingin angkat suara panggilan siswi lain membuyarkan semuanya. Cekalan yang merenggang menjadi kesempatan Mia untuk melepaskan diri.


"Sir, we have something to ask!" (Pak Guru, ada yang ingin kami tanyakan)


Segerombolan siswi berjalan mendekat. Membuat Angga bingung harus bagaimana, Ia tidak bisa jika mengabaikan siswi yang lain. Karena peraturan di sekolah adalah harus selalu ramah pada setiap murid.


"Take care of your fans!" (Urus sana para penggemar mu) Ucap Mia ketus.


Gadis itu perpaling lalu pergi meninggalkan Angga yang dikerumuni oleh siswi lain. Angga mendesah lelah, ternyata tidak mudah untuk mendekati Mia. Ditambah kini ia mempunyai masalah dengan para siswi yang selalu mengekorinya kemana pun.


Entah mengapa Mia sangat kesal, moodnya sudah hancur sejak istirahat tadi akibat Angga mengganggu makan siangnya. Sebelum ia bisa menikmati coklat Belgian special buatan Louis, Angga membawanya menuju kelas.


"Ahhhhhh... coklat ku." Ucapnya lirih. Ia memandang sedih kearah kantin sekolah yang terlihat sepi. "Harus menunggu besok baru bisa makan coklat buatan Louis." Gumamnya.


Mia berjalan menyusuri taman menuju asramanya, gadis itu menendang kerikil karena kesal, tanpa ia sadari batu itu mengenai seseorang.


"Ouch!"


Gadis itu terhenyak saat tau siapa yang terkena kerikilnya. "I'm sorry, Samantha! I didn't mean to," (Aku minta maaf, Samantha! Aku tidak sengaja)


Gadis pirang itu tersenyum. "It's Okay, Mia." (Tidak apa-apa, Mia)


Mia menganggukkan kepala tidak enak, ia meringis sesaat sambil merutuki tingkah kekanakannya itu. Samantha terusik dengan wajah muram Mia hingga akhirnya ia bertanya.


"Looks like you are angry." (Sepertinya kau sedang kesal) Ucap Samantha.


"Ah, me? Nope!" (Ah? Aku? Tidak kok!) Jawab Mia kikuk.


"Really?" (Benarkah?) Samantha ragu dengan jawaban Mia.


"Of cours." (Tentu saja) Ujar Mia mantap.


"In that case, good," (Bagus lah kalau begitu) Samantha lega mendengar penuturan Mia. Mereka pun berjalan beriringan sambil bercengkrama.

__ADS_1


"Mia, what do you think about our new teacher?" (Bagaimana menurutmu dengan guru baru kita?)


Mendapat pertanyaan tentang Om gantengnya, membuat ia tersedak salivanya sendiri. Matanya liar mencari objek agar Samantha tidak melihat kegugupannya. Sambil tersenyum masam Mia pura-pura biasa saja.


"You mean?" (Maksud mu?)


"Isn't he a very handsome man, his face is unique. Looks like he's Asian like you," (Bukankah ia pria yang sangat tampan, wajahnya unik. Sepertinya ia orang asia seperti mu)


Haruskah ia bilang jika mereka saling mengenal? Tapi untuk apa? Bukankah mereka sudah tidak ada hubungan lagi? Bahkan mereka memang belum pernah mempunyai hubungan khusus selama ini. Rasa gengsi Mia membuatnya berfikir untuk tidak meberitahukan pada Samantha tentang mereka yang saling mengenal satu sama lain.


"Maybe." (Mungkin) Jawab Mia asal.


"You don't like him?" (Kau tidak menyukainya?) Samantha menoleh pada Mia, membuat gadis gendut itu salah tingkah.


"Hm, not my type," (Bukan tipeku) Mia mengedikan bahu acuh.


Apa seh yang sedang aku lakukan? Batin Mia.


"Too bad, even I thought Sir Angga was very charming. I think to like him," (Sayang sekali, padahal aku pikir Pak Angga sangat menawan. Aku sepertinya menyukainya) Mata Samantha terlihat berbinar saat membicarakan Angga.


Mendengar pernyataan Samantha membuatnya tersentak, seperti ada sebuah busur panah mengenai tepat pada jantungnya.


Mia meremas baju di depan dadanya menahan gemuruh aneh dalam hatinya. Kenapa rasanya tidak nyaman, sesak. Matanya mendadak memanas, harusnya tidak begini. Dia sendiri yang memantapkan hati jika membenci pria itu? Lalu kenapa ia merasakan sakit saat wanita lain menyukainya?


🌷🌷🌷


Angga menenggak segelas air putih hingga tandas. Menyeka sisa air di bibirnya dengan punggung tangan sambil memandang kearah asrama putri bersebrangan dengan kamarnya saat ini. Semua guru memiliki kamar khusus sama seperti asrama para siswa.


Hari ini ia gagal untuk mendekati gadisnya, banyak penghalang ternyata. Pertama koki sekolah yang sialannya lumayan tampan, dia salah satu pria pujaan para siswa. Selain ramah, ia sangat pandai memikat lewat masakannya. Rahang pria dewasa itu mengetat saat ingat bagaimana interaksi koki itu pada Mia.


Kau memang tidak mudah sayang, selalu ada kumbang yang mengelilingi mu.


Kemudian Angga harus menghadapi para siswi yang selalu mengejarnya dimana pun, mereka seolah tau keberadaannya. Angga menyugar kasar rambutnya, tampaknya ia harus berfikir keras mengatur strategi untuk meluluhkan kembali hati Mia.


Hari ini semua berjalan cukup baik, Angga memilih mengistirahatkan tubuhnya agar besok ia mempunyai cukup energy untuk mengejar gadis gendut yang kian hari terlihat semakin manis. Senyuman tipis mengiringi pria itu menyusuri dunia mimpi.


🌷🌷🌷


Hotel Swiss

__ADS_1


Pak Tarjo sedang menonton TV, ia mengutak-atik remote hingga membuat suara yang mengganggu konsentrasi Bara.


[Ctak, Ctak, Ctak]


Pak Tarjo bosan, seharian di dalam kamar hotel. Padahal ia sedari tadi merengek mengajak Bara untuk jalan-jalan sejenak, pria tua itu pikir rugi bila jauh-jauh ke negeri orang hanya untuk menonton TV di dalam kamar hotel. Bara menolak karena ia memiliki banyak pekerjaan yang belum terselesaikan, sudah 2 jam Bara berkutat dengan laptopnya.


"Nak Bara, saya pergi sendiri saja deh! Bosan Nak, masa kesini cuma buat lihat TV yang isinya Kingkong." Keluh Pak Tarjo.


Kebetulan saat itu sedang Launcing Premier Film Kingkong terbaru. Iklannya mengisi setiap channel TV disana. Bibir Bara berkedut menahan senyum mendengar keluhan Pak Tarjo, ia pun akhirnya menutup Laptop sambil menghela nafas panjang.


"Baik, kita makan malam di luar!"


Pak Tarjo bersorak riang. "Hore, kita malmingan neh Nak?"


Bara hanya menggelengkan kepala, mana ada malam mingguan di sini. Ada-ada saja!


"Jangan lupa mantelnya Pak, di sini malam hari sangat dingin melebihi di Jakarta," Peringat Bara.


"Nak Bara ini lucu, malam di Jakarta itu sama kaya di depan kompor. Panas!" Seloroh Pak Tarjo. Bara memilih diam sambil meringis dalam hati karena salah memberikan perbandingan.


Harusnya aku bilang di Puncak, Bodoh!


Namun sebelum keluar kamar Pak Tarjo tersenyum manis pada Bara hingga membuat pria itu merinding ngeri. Ada apa dengan pria tua itu?


"Makasih loh Nak sudah perhatian sama saya." Pak Tarjo cengengesan. "Pulang nanti langsung lamar anak saya ya! Soalnya Yanti sudah di incer sama anak Pak Lurah." Tambahnya membuat Bara membulatkan mata.


Percaya diri sekali Pak Tarjo ini, siapa juga yang mau lamar anaknya? Tapi kalau di lamar duluan sama anak Pak Lurah bagaimana?


Bara galau sendiri, bukannya dia tidak suka dengan anak Pak Tarjo? Tapi mengapa ada rasa tidak rela saat mendengar anaknya Pak Tarjo ada yang menyukai? Ada apa dengannya? Apa karena terus ditawari anaknya Pak Tarjo membuatnya jadi kepikiran?


Semua pertanyaan itu berputar-putar bak bianglala di pasar malam, membuatnya pusing tujuh keliling. Sedangkan Pak Tarjo riang gembira menikmati pemandangan malam di Swiss yang begitu menakjubkan.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Nah loh, Bara jadi pusing. Gimana kelanjutan Mia yang juga galau karena Samantha suka si Om ganteng? Ikutin terus ya kisahnya... see you


__ADS_1


__ADS_2