Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 55


__ADS_3

Mempercayai seseorang yang menurut kita baik bukanlah kesalahan, yang salah itu jika orang yang di percayai ternyata tidak benar-benar baik. Mia berusaha mempercayai Raisa meski awalnya ia ragu.


Tapi manusia bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi atau bisa menentukan siapa yang baik karena ia tahu setiap isi hati manusia.


Mia memilih untuk percaya, percaya pada orang yang selalu membulynya. Percaya pada orang yang selalu memandang rendah padanya. Karena setiap manusia pasti ada sisi kebaikan di dalam dirinya. Mungkin tidak untuk Raisa, karena kini ia tega menjebak Mia.


Mia tidak membayangkan seperti apa hati Raisa sampai tega berbuat seperti ini padanya. Apa Mia akan diam saja? Apa Mia akan terus memaafkan mereka meski tidak tau akhir dari kemurahan hatinya?


Mungkin Mia sudah sampai di batas toleransinya. Mungkin ia sudah sampai di batas lelahnya. Hingga timbul dalam hatinya untuk membalas semua perbuatan Raisa.


Tapi lagi-lagi sisi baik selalu menang, ia hanya menyerahkan semua pada yang Maha Kuasa. Ia lah sebaik-baiknya pembalas atas semua perbuatan makhluk ciptaannya.


Untuk saat ini Mia hanya ingin mensyukuri, Tuhan yang selalu baik padanya. Memberikan jalan saat ia sudah diambang batas kemampuannya, menjadikan semua nikmat tidak terkira.


Tuhan memberikan jalan pada mereka yang meyakininya.


Kini ia ada dalam dekapan pria yang menyelamatkannya, mewakili Tuhan untuk melindunginya dari kedengkian manusia lain. Haruskah ia meminta lebih?


"Bara, siapkan mobil! Biarkan Jack yang akan membereskan sisanya. Aku yakin ia akan sampai tidak lama lagi." Angga bersiap untuk menggendong Mia yang terlihat berat.


Aku harus menarik nafas sedalam mungkin!


"Daddy akan kesini? Kenapa tidak di tunggu saja?" Suaranya lucu seperti orang mabuk.


"Tidak, karena aku akan menculikmu." Tampak seringai di wajah tampan Angga.

__ADS_1


Mia bergidik ngeri sambil meremas selimut yang membungkus tubuh setengah telanjangnya.


Mia melihat Angga yang akan membungkuk mengangkat dirinya.


"Tunggu, Om yakin? Aku berat loh." Ucap Mia sedikit terkikik geli.


"Cinta ku lebih berat dari pada timbangan mu, sayang!" Angga segera mengangkat Mia dengan sekali tarikan nafas. Mia memekik lalu melingkarkan tangannya pada leher pria itu.


Sudut bibir Angga terangkat membuat lengkungan indah. Ia mendekatkan kepala pada telinga Mia dan berbisik. "I love you."


Mata Mia membulat sempurna dengan rona merah di pipinya. Jantungnya hampir melompat mendengar kata cinta dari Om ganteng pujaannya.


Ini pasti mimpi!


Dengan langkah lebar Angga membawa Mia keluar dari Hotel, meninggalkan Doni dan Andrew yang tidak sadarkan diri. Angga tidak mau menunggu lama disana, ia hanya ingin membawa Mia bersamanya tanpa harus bersitegang dengan Jack. Pria itu, akan jadi mertuanya jika ia menikahi Mia.


🌷🌷🌷


Hotel ***


Farel sampai disana bersamaan dengan Haris dan Laras.


"Farel!" Panggil Laras.


Pria itu menoleh pada Laras. "Kalian baru sampai?"

__ADS_1


"Loe tau dari mana Mia disini?" Laras segera memberondong pertanyaan.


"Nanti aja ya, sekarang yang paling penting temuin Mia dulu!"


Mereka pun langsung menuju kamar nomor 108, tempat Mia di jebak. Saat hampir sampai mereka dikejutkan dengan sosok pria yang tidak sadarkan diri di depan pintu kamar. Farel mendekat dan membelalakkan mata saat tau siapa orang itu. 'Andrew'


Segera Farel merangsek masuk ke kamar yang tidak tertutup itu. Pintunya terbuka lebar, terdapat pria yang tampak duduk terkulai lemas. Lagi-lagi dikejutkan dengan kenyataan ia mengenal dua orang tersebut.


Matanya menelisik ruangan mencari keberadaan Mia, hatinya terbakar saat melihat baju yang berserakan di lantai.


Apakah itu baju Mia? Ya Tuhan apa yang sebenarnya terjadi?


Farel menarik kasar rambut pria itu hingga meringis.


"MANA DIA? MANA MIA?!!!" teriak Farel.


Laras dan Haris mengikutinya dari belakang. Laras mendekati pakaian yang berserakan dan mengambilnya dengan tangan bergetar.


"I-Ini baju Mia..." Ucapnya lirih. Matanya merah disusul air mata yang mengalir setelahnya.


Laras mendorong Farel dan menarik Doni untuk berdiri dengan menarik kerah bajunya.


"Bilang... Dimana Mia, LOE APAIN DIA?!" Laras histeris.


Doni seolah tuli karena berkali-kali diteriaki di dekat telinganya. Ia mengerjapkan mata dan melihat Laras dengan tampilan kacau.

__ADS_1


"Dia gak apa-apa, dia di bawa pria dewasa... Dia manggilnya Om." Ucap Doni pelan karena masih lemas.


"Anj*r... Keduluan sama si Om!" Haris memukul pintu kesal.


__ADS_2