Cintaku Berat Di Timbangan

Cintaku Berat Di Timbangan
CBT 97


__ADS_3

"Did you see us playing truant?" (Kau melihat kami membolos?) tanya Mia pada Samantha, saat ini mereka sedang berjalan menuju kamar asrama.


"Yes, and the great thing is that you don't have any problems. It seems that Mr. Angga arranged it very perfectly," (Ya, dan hebatnya kalian tidak mendapatkan masalah. Sepertinya Pak Angga mengaturnya dengan sangat sempurna) ucap Samantha antusias.


"I know, it was him who called you at that time. Om Ganteng," (Aku tau, yang menelponmu saat itu pasti dia. Om ganteng) aksen bicara Samantha membuat Mia tertawa. Bisa reader bayangin lha orang Paris tulen ngucapin Bahasa Indonesia.


"Stop it, you don't fit in saying that. Amused!" (Hentikan, kau tidak cocok mengucapkan itu. Geli!) Mia menoyor pundak Samantha.


Gadis pirang itu mengulum senyum, ia menatap langit-langit lorong sambil berfikir.


"Why?" (Kenapa?)


"I'm remembering something," (Aku sedang mengingat sesuatu) tiba-tiba matanya membulat. "Ah ... I remember, I read your message. Hm, if I'm not mistaken. 'What are you doing, honey?' What does that mean, Mia?" (Ah... aku ingat, aku sempat membaca pesanmu. Hm, kalau tidak salah. 'Sedang apa sayang?' Apa artinya itu, Mia?)


Yang ditanya malah menundukkan kepala, Mia malu, bagaimana bisa ia menerjemahkan kata-kata itu. Mia memilih berjalan mendahului Samantha tanpa menjawab.


"Hey, why are you leaving? Mia, tell me what that means? Miaaaaaa!" (Hei, kenapa pergi? Mia, beritahu aku apa artinya? Miaaaaaa!) Samantha mengejar Mia yang berjalan lebih dulu.


🌷🌷🌷


Ceklek


Suara pintu terbuka terdengar, sesosok pria memasuki ruangan dengan wajah lesu. Menghempas tubuh ke ranjang tanpa mengganti pakaian, ia memejamkan mata meresapi rasa lelah yang menjalar di tubuhnya. Menghela nafas dalam, berharap beban hidupnya berkurang.


Masih segar diingatan apa yang Maya ucapkan sebagai syarat untuknya mendapatkan restu. Maya meminta dirinya untuk menjadi relawan di negara Palestina, tentu saja Angga bersedia menjadi relawan di mana pun itu. Namun yang memberatkannya adalah harus meninggalkan Mia selama 1 tahun, itu bukan waktu sebentar.


Komunikasi di sana pasti sulit karena keadaan negara yang tidak baik. Konflik yang berkepanjangan membuat negara itu terisolasi, Apakah Mia masih mau menunggunya?


Angga terhenyak sesaat, mengingat Mia yang belum ia hubungi seharian ini. Merogoh ponsel di saku jaketnya, dan mengecek panggilan. Oh, ia lupa mengisi daya dari semalam. Pantas saja ia tidak mendapatkan pesan atau pun panggilan. Dengan lemas ia melempar ponsel ke ranjang, sebaiknya ia langsung mendatangi gadis itu.


Berbicara empat mata adalah langkah yang lebih baik, pria itu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Angga ingin tampil segar di hadapan kekasihnya, tentu saja agar Mia tida bisa menolak semua permintaannya. Seringai menghiasi wajah tampannya, sepertinya ia memiliki hobi baru yaitu menggoda Mia.


Selang 30 menit ia sudah tampil segar dengan kaos polo dan celana training. Meniti diri sesaat pada cermin, senyumnya mengembang sambil bergumam. "I'm coming sweety,"


Pria itu pun pergi menuju asrama putri, statusnya sebagai guru membuatnya bebas untuk pergi ke mana pun di area sekolah. Lain halnya bila siswa pria biasa yang pergi ke asrama putri pasti langsung diberi sanksi. Angga benar-benar menyalah gunakan statusnya, sungguh tidak patut dicontoh.


Lorong itu terlihat lengang, kebetulan sekali kamar Mia berada di paling pojok ruangan. Letak strategis karena CCTV tidak dapat menjangkau sudut itu. Angga mengetuk pintu perlahan, beberapa detik kemudian pintu terbuka. Yang empunya kamar tersentak kaget saat tau siapa yang ada di depan kamarnya. Untungnya orang yang membuka pintu adalah Mia, Samantha sedang di kamar mandi.


"Om..." ucap Mia lirih. Gadis itu melongok keluar kamar dan mengedarka pandangan ke segala arah.

__ADS_1


"Tenang, tidak ada orang," ujar Angga santai. Pria itu menggapai tangan Mia lalu menariknya. "Ikut aku!"


"Tapi Om, aku..." Mia menahan tarikan Angga, ia menunduk karena saat ini sedang memakai piyama bergambar doraemon. Bibir Angga berkedut menahan senyum, ia mendekatkan bibirnya ke telinga Mia.


"Itu lucu, aku suka," ucapan Angga membuat wajah gadis itu merah merona. Dengan pasrah Mia mengikuti Angga yang membawanya ke sebuah taman cukup jauh dari asrama.


Angga menuntun Mia menuju kursi taman, mereka duduk di sana ditemani lampu temaram. Angga merangkul Mia, mendekapnya mesra. Ia menaruh kepala Mia menyender di dada bidangnya, mengecupi puncak kepala dan menghirup wangi shampo pada rambut Mia. Sikap Angga membuat Mia bingung.


"Ada apa?"


"Cuma kangen,"


"Kangen, tapi gak ada kabar seharian. Om kemana aja?"


"Menemui orang tuamu, meminta restu," Mia mendongak dengan matanya yang membulat, gadis itu tidak percaya dengan apa yang Angga sampaikan.


"Om... ke rumahku?" Angga tersenyum simpul. Mia menegakkan duduknya dan menatap Angga serius. "Lalu... bagaimana? Mommy? Mommy bilang apa?"


Angga menarik kembali Mia dalam rangkulannya. Menaruh kepala Mia seperti tadi. "Dengarkan aku," Mia memilih diam menuruti Angga yang meyuruhnya untuk mendengarkan.


"Aku meminta restu untuk menikahimu menjadikan kamu istriku. Namun karena kamu masih pelajar, aku bermaksud untuk bertunangan dulu,"


"Mommy mu bilang akan merestui kita jika aku menjadi relawan di Palestina selama 1 tahun,"


"Apa? Ke Palestina? 1 tahun?"


"Kau tidak rela?"


"Om terima?"


"Aku ingin membuktikan pada Mommy mu bahwa aku benar-benar serius dengan hubungan kita,"


Mia menunduk, ia tidak rela bila harus di tinggal pergi oleh Angga. Apalagi 1 tahun, selama itu, apakah Angga dapat menjaga hatinya?


"Mia... aku tau kelalaianku di masa lalu, aku belajar memperbaiki diri dari itu semua. Sedangkan aku tidak akan meragukan mu. Karena aku tau kesetiaanmu selama 8 tahun menungguku," Angga menggenggam tangan Mia lalu mengecupnya. "Tolong tunggu aku, berikan aku kesempatan bahwa aku bisa memperjuangkanmu. Berikan kepercayaan bahwa aku bisa menjaga hatiku,"


Gadis itu menatap nanar pada sang kekasih, seolah Angga mengetahui isi hati Mia yang meragukan dirinya. Bulir kristal itu meluncur bebas membasahi pipi chabi Mia, sanggupkah ia untuk menunggu lagi?


"Mia..."

__ADS_1


"Pergilah, aku akan menunggumu Om,"


🌷🌷🌷


"Hmmpph..." desah tertahan lolos dari bibir Mia. Kini mereka berada di kamar Angga. Selepas Mia mengatakan bersedia menunggu, Angga langsung mengajak gadis itu ke kamarnya.


Angga menyerang Mia saat mereka baru memasuki kamar. Pria itu menekannya pada tembok tanpa melepas pangutan bibir yang begitu menggebu. Bagai kehausan Angga menghisap lidah Mia, mengexplore rongga mulutnya. Mia meremas kaos Angga menahan genyar aneh bagai sengatan listrik pada tubuhnya.


Bibir panas itu kini menjelajahi leher Mia hingga ke tulang selangka.


"Aahh... Om..." Mia mendongak sambil memejamkan mata, seperti ada kupu-kupu yang menggelitik di perutnya.


"Sebut namaku!"


"Angga," ucap Mia lirih memancing adrenalin Angga semakin memuncak. Angga menuntun Mia ke ranjang dan merebahkan gadis itu.


Rona merah pada wajah Mia membuat gadis itu semakin menggoda, Ia mengusap lembut pipi dan bibir Mia. "Kamu cantik,"


Kembali Angga menautkan bibir mereka, kali ini ia lakukan dengan sangat lembut bahkan membuat Mia ikut terhanyut. Lama lum*tan panas itu terjadi sampai akhirnya Angga melepasnya.


"Jika aku memintanya apa kau akan memberikannya, Mia?" terlihat kabut gairah di mata Angga membuat Mia menelan saliva dengan kasar.


Hening sesaat dengan mereka yang saling berpandangan, Mia menatap Angga dalam lalu mengangguk pelan. Angga tidak menyangka Mia akan menyetujui permintaannya, hatinya menghangat. Pria itu mengecup kening Mia lalu menarik selimut, ia memeluk Mia dari belakang. Gadis itu melongo, menoleh pada Angga yang memejamkan mata.


"Om... kok berhenti?"


"Berhenti apa?"


"Bukannya tadi mau itu..."


"Itu apa?"


"Ya itu... yang Om minta," ucap Mia gemas. Ia menahan malu karena tidak bisa menyebut kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan intim.


Seulas senyum terukir, Angga mengeratkan pelukan dan membalik Mia kembali membelakanginya. "Tidurlah, sudah malam," ucapnya lembut. Angga akan menjaga gadis itu hingga saatnya tiba. Saat di mana Mia menjadi miliknya seutuhnya.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Semangat ya Om ganteng, nanti Mia tak jagain kok. Hehehehe


__ADS_2