
Kediaman Satroadji
Nyonya Anggun histeris kala melihat anaknya sampai ke rumah dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Ya ampun Angga! apa yang terjadi?" Raut khawatir tersirat di wajah wanita paruh baya itu.
Bara mengatupkan bibir rapat, seolah takut salah bicara. Ia membaringkan Tuannya ke ranjang dengan bantuan 1 orang bodyguard. Setelah selesai, Nyonya Anggun langsung membombardir Bara dengan pertanyaan.
"Ada apa dengan anakku? Bagaimana bisa pingsan? Siapa yang membuatnya sampai begitu? Dimana kamu saat semua itu terjadi?!" Dengan sekali tarikan nafas semua pertanyaan meluncur mulus dari bibir Nyonya Anggun membuat Bara tidak berkedip.
Bara bingung sendiri harus menjawab apa. Haruskah ia jujur jika semua ulah Mia, gadis pujaan Tuannya?
"Hm... Itu..." Bara ragu-ragu.
"Itu apa?!" Nada tidak sabar terdengar dari Nyonya Anggun.
"Tuan..." Suara pria itu menggantung.
"Ya Tuhan, Bara! Jika kamu tidak mengatakan yang sebenarnya saat ini juga, kamu saya pecat!" Nyonya Anggun benar-benar geram dengan Bara yang terlihat enggan memberitahu yang sebenarnya.
Ancaman telak akhirnya dikeluarkan membuat wajah Bara pucat pasi. Bola matanya membulat sempurna.
"Jangan Nyonya," Bara menggeleng tidak terima. "saya akan bilang yang sebenarnya, asal Nyonya tidak pecat saya!" Pria itu memohon dengan wajah memelas.
Tentu saja semua itu hanya gertakan, Nyonya Anggun tidak mungkin memecat Bara yang sudah seperti keluarganya sendiri. Ia terpaksa melakukan itu untuk mendesak Bara yang begitu setia menyimpan rahasia Tuannya dengan rapi.
"Cepat katakan, apa yang sebenarnya terjadi?!" Titah Nyonya Anggun.
Bara akhirnya menceritakan semua peristiwa yang terjadi. Setelah mendengar semua cerita Bara, Nyonya Anggun mengurut pelipis nya merasakan pening karena tingkah Angga yang keras kepala.
"Apa seh yang dilihat dari bocah itu?" Nyonya Anggun masih tidak habis fikir dengan isi kepala anaknya.
Setelah lama merenung wanita paruh baya itu memandang Bara dengan tatapan aneh. Bara yang di tatap seperti itu mendadak salah tingkah. Nyonya Anggun beranjak dari duduknya dan mendekati Bara kemudian berbisik. "Kamu harus bantu saya, membuat Angga melupakan gadis itu!"
Bara membelalakkan mata, ia menggelengkan kepala pelan. "Sepertinya tidak akan bisa Nyonya, Tuan sangat mencintai Nona Mia. Saya tau itu!"
"Lalu apa yang harus saya lakukan? Beritahu saya! Gadis itu sudah menarik diri, tidak mau berhubungan lagi dengan Angga. Kamu pikir saya harus membiarkan Anak saya mengemis cinta terus menerus?" Nyonya Anggun geram, sungguh ia tidak mau itu sampai terjadi. Merendahkan diri mengejar orang yang tidak menginginkannya.
"Aku bukan mengemis Ma, aku hanya memperjuangkan cintaku," Suara Angga memecah atensi ke-2 orang tersebut hingga menoleh padanya.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah sadar?" Sudut mata Nyonya Anggun terlihat basah, senang karena anaknya telah siuman.
Angga menahan sakit ditengkuknya akibat pukulan Mia, senyuman tipis terulas di bibirnya.
Kamu benar-benar penuh kejutan, sayang.
Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, ia terkapar tidak sadarkan diri oleh seorang gadis. Mia semakin dalam menancapkan panah cinta pada Angga hingga sulit untuk terlepas. Angga semakin kagum pada pribadi Mia yang tidak hanya sabar tapi juga kuat.
Nyonya Anggun melihat Angga yang mengurut tengkuknya sendiri. "Apa masih sakit? Mama panggil dokter ya!" Tawarnya.
Angga menggelengkan kepala. "Gak usah Ma, masih ada urusan yang harus aku selesaikan."
"Jangan bilang kamu mau mendatanginya lagi!"
"Ma-"
"Mama gak ijinin kamu samperin dia lagi!
"Ma, Please..." Suaranya lirih.
"Sadar Angga! Dia udah bikin kamu pingsan, klo kamu gak bangun lagi gimana?" Nyonya Angga memekik, hampir saja jantungnya terhenti jika Angga tidak kunjung siuman.
Angga menggenggam tangan sang Mama. "Tapi, aku tidak bisa berhenti disini... Aku harus mengejarnya. Karena dia belahan jiwaku Ma. Aku mencintainya sampai ke sumsum tulang, jika tidak ada dia maka aku akan mati." Angga mencurahkan isi hati, menyampaikan sebesar apa pengaruh Mia dalam hidupnya.
Wanita paruh baya itu terhenyak, baru kali ini Angga mengutarakan apa yang ia rasa. Baru kali ini Angga terbuka padanya. Nyonya Anggun tidak kuasa menahan lagi jika sudah seperti ini. Mana mungkin ia membiarkan anaknya mati karena kehilangan cinta.
"Jangan sampai mati, Mama gak mau kamu tinggalin Mama!" Tubuh wanita itu bergetar. Angga dengan lembut memeluk wanita pertama dalam hidupnya, wanita yang ia paling sayangi setelah Mia tentunya.
"Aku tidak akan mati Ma, asal Mama merestui pilihanku." Sikap pemaksa Angga yang tidak pernah hilang dan mendarah daging membuat Nyonya Angga mendelik seketika.
"Jadi, kamu akan mati jika kehilangan Mia? Dan tidak akan mati jika kehilangan Mama?!" Wanita paruh baya itu merajuk namun masih dalam pelukan anaknya.
"Jangan berikan pilihan yang jelas aku tidak bisa lakukan Ma! Memangnya Mama gak mau punya cucu? Aku bukan Sangkuriang yang menikahi Ibunya sendiri."
Mata Nyonya Angga melebar mendengar perkataan Angga. Ia melepas pelukan dan memukul bahu anaknya gemas. "Gila kamu! Klo Papa dengar, bisa habis kamu."
Kekehan mengalun indah dari bibir pria tampan itu. "Jadi?"
Melihat senyuman anak semata wayangnya membuat hatinya melunak. Itu adalah salah satu tujuan hidup semua orang tua.
__ADS_1
"Jika memang kebahagiaanmu adalah dia, maka kejar lah. Disini Mama hanya berdo'a agar Tuhan selalu menyertaimu."
Tidak ada kebahagiaan melebihi mendapat restu dari orang tua untuk kita bersama orang yang dikasihi. Angga sangat bahagia, akhirnya sang Mama mendukung pilihan hidupnya. Merestui dirinya untuk bersama belahan jiwa.
"Terima kasih, Ma." Angga memeluk sang Mama dengan erat, meluapkan rasa syukur dan bahagianya. Nyonya Anggun membalas pelukan dengan hangat ditemani air mata yang membasahi pipi.
Semoga kamu bisa menggapai kebahagiaan mu, nak!
🌷🌷🌷
Kediaman Jack Adinata
Keesokan harinya Mia memutuskan pergi ke Swiss lebih dulu ditemani Maya, Jack dan Cristhoper akan menyusul karena masih harus mengurus beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan.
Semua pelayan dan bodyguard merasa sedih dengan kepergian keluarga Jack yang begitu mendadak, dan yang paling merasa terpukul adalah Mba Darmi. Beliau sudah menganggap Mia seperti anaknya sendiri.
Mengingat Mba Darmi yang sudah bekerja pada Jack sejak pasangan suami istri itu memulai rumah tangga. Wanita yang sudah menginjak usia 55th itu menangis terisak membuat Mia tidak kuasa menahan kesedihan. Gadis itu memeluk Mba Darmi erat.
"Aku pergi tidak lama kok Mba, selesai High School aku pasti langsung pulang,"
"Beneran Non?" Seolah mendengar berita bahagia, Mba Darmi tersenyum cerah.
Mia menganggukkan kepala. "Iya, aku hanya sedang butuh waktu untuk menenangkan diri." Jelas Mia.
"Apa pun itu, asalkan yang terbaik untuk Nona, pasti Mba dukung!"
"Makasih Mba." Mia tersenyum manis sebelum melepas pelukan.
Mia pun pamit pada semua penghuni kediaman Jack, tangis haru mengiringi kepergiannya. Jack mengantar Mia dan Maya memasuki mobil.
"Kalian duluan, besok Daddy menyusul. Ok!"
"Iya Daddy." Sahut Mia.
Jack mengacak rambut Mia lalu mengecup pipi Maya. "Hati-hati dijalan!"
Mia dan Maya melambaikan tangan sebelum Pak Hasan membawa mereka ke bandara.
Please rate, vote dan Like nya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!