
Mia sampai dikelas dengan wajah ditekuk. Sungguh padahal dia berharap hari ini menjadi hari paling menyenangkan karena memimpikan Om gantengnya.
"Miaaaa!" Laras berseru melihat Mia yang hendak duduk di kursinya.
"Kata anak-anak tadi lo ribut di Perpus sama Raisa KW?"
Bibir Mia berkedut menahan tawa. Sahabatnya ini memang paling bisa merubah suasana muram menjadi cerah.
"Raisa KW?"
"Iya lah KW, bukan Raisa yang bininya Hamish Daud." Laras mengusap-usap tangannya sendiri. "Merinding gue klo bayangin tuh orang, dia tuh mirip kunti di pohon jambu deket rumah gue."
Mia tergelak sudah tidak sanggup menahan tawanya. "Kok kunti seh?"
"Kan kuntilanak susah diusirnya, suka gelayutan di pohon kaya doi yang suka gelayutan di badan Farel." Celoteh Laras polos.
"Bisa aje lo Juminten." Haris ikut nimbrung kaya emak-emak yang beli sayur.
"Nama gue bukan Juminten, Bambank! Nama gue Larasati Kusuma Maha Putra."
Haris bedecak mendengar nama temannya itu. "Nama apa kereta api? Panjang bener."
__ADS_1
"Eeehh... jangan salah lo, gue ini keturunan darah biru!"
"Ck, Darah biru. Yang gw tau adanya darah rendah sama darah tinggi." Laras mendelik mendengar Haris meragukan status kebangsawanan nya.
"Ada juga noh darah ijo kaya ulet bulu di pohon jambu deket rumah lo."
"Udah ya guys, gue bisa kencing di celana dengerin lo ngomongin masalah darah." Mia membekap mulutnya takut tertawa terbahak-bahak.
"Yuk ke toilet, gue anterin!" Haris mendekati Mia memperlihatkan wajah khawatir.
Laras menoyor kepala Haris dan menarik tubuhnya ke belakang. "Modus lo, awas Raden Larasati mau duduk."
Mia kembali tertawa sambil memegang perutnya. Haris senang melihat Mia yang tertawa lepas. Ia tau perihal Raisa yang membuat masalah dengan Mia, Haris berusaha mengalihkan hal itu agar Mia tidak memikirkannya.
Gue cuma mau lihat lo yang selalu ceria, jangan pernah sedih. Karena gue ga akan sanggup lihatnya. Batin Haris.
🌷🌷🌷
Farel melihat interaksi mereka bertiga, timbul rasa iri pada Haris yang bisa dekat dengan Mia. Semua karena salahnya sendiri, bermain api dengan mempermainkan perasaan orang lain.
Kini ia menyesal, karena terbutakan dengan egonya. Jika sejak awal ia meminta maaf mungkin keadaannya tidak akan seperti ini. Mungkin Mia bisa memaafkannya dan mereka bisa kembali berteman.
__ADS_1
Karena sejujurnya, saat pendekatan kemarin Farel merasa nyaman dan cocok dengan Mia. Terlepas dari keadaan fisik Mia yang jauh dari kriteria gadis idamannya.
Masalah idaman, sebenarnya seperti apa tipenya Farel sendiri tidak tau. Yang ia tau sejak dulu bahwa gadis idaman itu yang berparas cantik dan bertubuh langsing. Masalah kepribadian no.3. Tapi kini tidak begitu, ia baru merasakan perbedaan karakter Raisa yang berbanding terbalik dengan Mia.
Raisa yang manja dan cengeng, arogan serta angkuh sedangkan Mia mandiri, cerdas, tangguh dan kuat. Ya, kuat karena Mia bisa bela diri. Jangan lupa sifat ramahnya pada semua orang, pemaaf... Entah Farel dimaafkan atau tidak. Kini Farel sadar betapa sempurna Mia dibalik kekurangan fisiknya.
Apakah bisa itu dikatakan kekurangan? Mengingat betapa nyaman dan lembut pelukan Mia membuat jantung Farel berdebar. Bahkan wangi tubuh Mia masih terasa di hidungnya. Rasa yang tidak pernah ia rasakan pada Raisa.
Lagi-lagi begini... Hanya mengingat pelukan itu, jantung gue berdebar ga karuan.
Farel menatap Mia dari jendela. Menatap dengan lembut.
Masa sih, gw jatuh cinta sama lo?
Tanpa Farel ketahui, Raisa menatapnya dengan mata memerah di seberang sana. Amarah menguasai dirinya, ia benci pada Mia yang seolah mau merebut Farel kekasihnya.
"Ga akan gue biarin lo ngerusak semua kebahagiaan gue." ucap Raisa berapi-api sambil mengepalkan tangannya.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih haik lagi, Enjoy!
__ADS_1