
Mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang. Di dalamnya terdapat Bara, Yanti dan Pak Tarjo di kursi belakang. Mereka semua hendak pergi menuju kediaman Angga. Namun, ada yang lain dari Pak Tarjo, pria paruh baya itu tidak berceloteh seperti biasanya, mungkin karena perutnya yang tiba-tiba mulas.
Bara berkali-kali melirik Pak Tarjo dari kaca, mengamati calon mertuanya yang duduk manis. Yanti menyadari sikap Bara yang selalu melirik ke kaca.
"Ada apa, Mas?" panggil Yanti membuyarkan perhatian Bara pada kaca mobil.
"Ah, tidak apa-apa," ucap Bara. Ia kembali fokus pada kemudinya.
Saat sampai di sebuah pertigaan, jalanan lumayan padat hingga membuat laju kendaraan melambat. Pak Tarjo terlihat mulai gelisah, pria paruh baya itu berulang-ulang mengatur duduknya hingga membuat Yanti menegur Bapaknya itu.
"Bapak kenapa seh? Duduknya gelisah gitu. Diem, jangan goyang-goyang!" pinta Yanti gemas.
Yang diancam pun memilih diam, namun tiba-tiba wajahnya pucat pasi karena menahan sesuatu. Sudah tidak tertahankan akhirnya bom atom meledak.
Duuttt...!
Suara dari bokong Pak Tarjo terdengar nyaring disertai aroma busuk yang menyengat, Yanti memekik sedangkan Bara tidak sadarkan diri akibat menghirup gas beracun dari Pak Tarjo.
"Bapak, jorok banget seh. Kentut di dalem mobil!" Teriak Yanti sambil mengibas-ibas tangannya berusaha menghalau gas beracun yang berusaha menyusup ke indera penciumannya. Sedangkan sang pelaku hanya nyengir kuda tanpa merasa bersalah.
Mata gadis itu membulat saat melihat Bara yang terdiam tidak bergeming. Untung saja saat itu macet, jadi tidak membuat mobil belakang membunyikan klakson.
"Mas, bangun Mas!" Yanti menepuk-nepuk pipi Bara. Pak tarjo terlihat panik, dengan segera ia meminta Yanti membuka kaca mobil.
"Buka kaca mobilnya Yanti!" seru Pak Tarjo khawatir.
Yanti bergegas membuka kaca mobil lebar-lebar dan mengibas udara agar udara masuk menggantikan gas beracun Pak Tarjo. "Gara-gara Bapak neh Mas Bara sampe pingsan! Mana lagi ditengah jalan," keluh Yanti sambil terus menggoyang tubuh Bara agar sadar dari pingsannya.
Berbekal minyak kayu putih yang selalu gadis itu bawa, Yanti mengusapkan minyak itu ke bawah hidung Bara. Tanpa sengaja, ia mengusapnya terlalu banyak hingga membuat Bara tersentak karena rasa perih di hidungnya.
"Akkhhh... perih!" Bara mengaduh dengan hidung merah.
"Aduh, maaf Mas... kebanyakan ya minyak kayu putihnya?" Sesal Yanti.
Bara hanya bisa meringis menahan perih, sungguh pagi yang luar biasa untuknya. Ia pun memilih menepikan mobil, keluar dari mobil sementara menunggu udara segar kembali mengisi mobilnya.
"Nak Bara, maaf ya! Semalam Bapak kebanyakan makan rujak."
Pria paruh baya itu tersenyum malu-malu, Yanti yang melihat itu gemas ingin menjitak Bapaknya jika tidak takut dosa. Bara hanya bisa menghela nafas lelah.
๐ถ Ku ingin marah melampiaskan
Tapi ku hanyalah sendiri di sini
Ingin ku tunjukkan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku kecewa... ๐ถ
__ADS_1
Lagu itu terdengar indah seolah mewakili perasaan Bara yang tertahan oleh Pak Tarjo. Mereka terdiam sampai badut simpang 5 itu melewati mereka.
Hening sejenak hingga Yanti merasa kikuk karena Bara yang tidak berkata sepatah kata pun.
"Mas... maafin Bapak ya," ucap gadis itu lirih.
Bukannya menjawab, Bara malah mengajak mereka untuk sarapan. Ia baru sadar jika tidak melihat Yanti dan Pak Tarjo makan tadi dirumahnya, karena saat sampai di sana Pak Tarjo baru saja mandi.
"Kita cari makan dulu, ayo!" ajak Bara, ia menggandeng tangan Yanti.
Sekesal apapun ia, tidak dipungkiri jika hatinya sudah terpaut pada Yanti. Anaknya Pak Tarjo, orang yang selalu membuat pusing kepala.
Pak Tarjo masih diam di tempatnya hingga Bara menoleh dan mengajaknya untuk ikut bersamanya. Wajah pria paruh baya itu langsung sumringah.
๐ท๐ท๐ท
Bern, Swiss
Peluh keringat terlihat menghiasi kening Mia, ia baru selesai mengepak semua barang-barangnya. Mia lebih suka membereskan semua sendiri dibanding di lakukan oleh orang lain. Lebih enak dan tertata menurutnya, dan banyak barang pribadi yang tidak pantas jika di sentuh oleh orang lain.
Tok, tok, tok
Ketukan pintu kamar membuyarkan atensinya pada koper yang ia rapikan.
"Kakak, sudah siap belum? Kita berangkat sebentar lagi," seru Cristhoper.
Mia membuka pintu sambil menggeret kopernya. "Ok, kakak sudah siap. Ayo!"
"Biar bodyguard yang bawa kak! Berat," protes bocah itu. Mia terkekeh melihat Cristhoper yang melarangnya membawa koper.
"Duh, care banget seh... adiknya siapa ya?" Mia mencubit pipi Crist gemas.
"Aduhh... sakit kakak," bocah itu mengaduh dan menghindar. Ia mengerucutkan bibirnya sambil mengusap pipi yang dicubit.
"Gak kenceng kok, sini kakak cium biar sakitnya hilang." Tawar Mia.
Bocah itu malah merentangkan tangannya lebar. "Peluk aja, gak usah cium."
Gadis itu tergelak, ia langsung memeluk Cristhoper dan menggendongnya. Berjalan menuju ruang tamu menghampiri orang tuanya yang sudah siap untuk berangkat.
"Sudah siap?" tanya Maya.
Gadis itu mengangguk. "Tapi koperku masih di kamar," jelasnya.
"Nanti bodyguard yang akan membawanya, kamu langsung ke mobil," sahut Jack.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya meninggalkan apartement Jack, meski tidak lama namun banyak hal yang terjadi di negera ini. Mia tersenyum ke arah apartement sebelum memasuki mobil.
Suara notifikasi terdengar, Mia merogoh ponselnya dan melihat pesan dari Om ganteng.
[Sudah berangkat? Kenapa lama sekali?๐คจ]
[Aku sedang otw ke bandara, Om]
[Oh... sudah di jalan, hati-hati ya. Kasih tau kalo sudah sampai Jakarta, biar aku jemput!]
[Gak usah, Om! Kita pake jet Daddy.]
[Pokoknya aku jemput, kamu gak tau ya kalo aku kangen? ๐ข๐ข Kamu gak kangen? Kamu ketemu cowok di sana?๐ฑ๐ฑ๐ฑ]
[Mulai ngelantur deh, aku sampe besok lho Om]
[Aku tunggu! Pokoknya kabarin, Ok!๐]
[Iya, aku kabarin kalo udah sampai]
[Good girl, miss u... muach! ๐๐๐]
Mia tidak mampu menahan senyum geli, Om ganteng benar-benar berbeda sekarang. Bahkan pria itu menyematkan emotikon yang membuat Mia tersipu malu.
Dasar Om ganteng, bikin kangen aja.
Menyenderkan kepala, sambil memejamkan mata. Mengingat semua memori yang terjadi selama ini, senyum itu terukir indah. Mia bersyukur kini cintanya terbalas... tidak... cinta mereka akan menyatu, sebentar lagi.
๐ท๐ท๐ท
Nyonya Anggun sudah rapi dengan pakaiannya, hari ini ia ingin mendatangi beberapa WO yang disarankan para teman arisannya. Wajahnya yang sudah tidak muda itu tampak berbinar, terpancar kebahagiaan di sana. Mungkin effect kabar baik yang di bawa Angga untuknya.
Langkahnya terhenti pada Angga yang terlihat gelisah di sofa, puteranya itu memandangi ponsel tidak seperti biasanya. Seperti sedang menunggu panggilan seseorang.
"Angga, kamu lagi ngapain?" tanya Nyonya Anggun mengangetkan pria itu.
"Ah... Mama, aku lagi WastApp Mia," jawab Angga.
"Duh, yang lagi kasmaran... sabar donk. Minggu besok kan kalian udah resmi jadi suami istri." Terang Nyonya Anggun.
Mendengar itu membuat Angga malu, ia memalingkan muka dan mengusap tengkuknya. Baru kali ini Nyonya Anggun melihat Angga seperti ini, pancaran orang yang sedang jatuh cinta terlihat jelas. Nyonya Anggun paham dan baru menyadari jika Mia memang yang terbaik untuk anaknya.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Hm... gak sabar ini aku pengen cepet2 mereka nikaaahhh... haaaaahhhhhh...