
Kediaman Sastroadji
Pukul 11.00 rombongan Bara baru sampai di kediaman Sastroadji, Yanti melongo melihat kemewahan rumah yang sangat besar dan mewah itu. Hampir saja air liur menetes dari mulutnya jika tidak ditegur oleh Bapaknya.
"Yanti, jangan ngiler. Malu-maluin Bapak aja," Pak Tarjo menyikut Yanti.
Mata Yanti mendelik tajam. "Yang malu-maluin tuh siapa? Bukan Yanti lho yang buang gas beracun di mobil," sarkas Yanti skakmat membuat Pak Tarjo mengatupkan mulutnya rapat.
Yanti menyeringai dan langsung berjalan mengikuti Bara yang sudah masuk ke dalam rumah lebih dulu. Pria paruh baya itu hanya bisa menahan kesal dalam hati, sambil merutuki Yanti agar jadi orang kaya.
Biasanya Do'a yang langsung terkabul itu do'a ketika kita sedang marah, makanya Pak Tarjo mengumpat Yanti dengan do'a-do'a yang baik.
Sambutan hangat diberikan oleh Angga saat mereka memasuki ruang tamu.
"Bara, apa kabar?" ucap Angga sambil merangkul Bara. Ia rindu asistennya itu, 1 tahun tidak bertemu membuatnya mengerti seberapa berarti Bara di hidupnya.
Bara tersenyum senang, ia pun membalas rangkulan sang Tuan dengan penuh suka cita. "Kabar saya baik Tuan."
Setelah melepas rindu, ia beralih pada Pak Tarjo dan seorang gadis di sampingnya.
"Bapak, apa kabar? Lama tidak bertemu, ini siapa?"
"Kabar saya baik Tuan Angga, ini anak saya Yanti. Yanti, ini Tuan Angga."
"Oh, ini calon istrimu. Bara?"
Bara mengangguk. "Iya Tuan, dia calon istri saya."
"Salam kenal Tuan, saya Yanti." Yanti memperkenalkan diri, Angga mengangguk menanggapinya.
"Kebetulan sekali aku butuh banyak orang untuk mengatur pernikahanku minggu ini. Kalian bisa aku andalkan," ucap Angga.
"Tuan Angga sudah ketemu sama pacarnya?" sahut Pak Tarjo.
"Tentu saja, saya sudah melamarnya 2 hari yang lalu. Saya tidak mau kalah dengan Bara yang sudah curi start dari tahun lalu," seloroh Angga membuat mereka semua tersenyum.
__ADS_1
Berkali-kali Pak Tarjo mengucap syukur karena akhirnya Angga dapat bertemu dengan Mia. Juga kini mengarah ke jenjang yang lebih serius.
"Kami akan membantu Tuan, semoga semua berjalan dengan lancar." Do'a Pak Tarjo dan diamini oleh Angga.
Angga tidak pernah mengira, pertemuannya dengan Pak Tarjo di pinggir jalan waktu itu membawa dampak baik. Terlebih untuk Bara yang 1 tahun lebih tua darinya, jomblo abadi itu kini mempunyai calon istri. Angga mengulum senyum mengingat itu semua.
🌷🌷🌷
Di dalam pesawat tampak Cristhoper memakai headset. Ia sedang mendengarkan lagu dangdut koplo peninggalan Kakek Jo dan beberapa lagu lain recommend dari istri bodyguardnya. Mia yang melihat bocah itu mangut-mangut sambil menepuk-nepuk lengan kursi jadi penasaran.
Dengan iseng ia mengambil sebelah headset dan memasangkan pada telinganya. Mata Mia membulat sempurna saat tau apa yang sedang didengarkan sang adik.
"Ya ampun Crist, kamu suka dangdut?" pekik Mia setengah tersenyum geli.
"Iya, enak! Bisa goyang-goyang, Mommy aja suka tuh," tunjuk Crist pada sang Mommy yang juga memakai headseat di telinganya.
Mia mengikuti arah telunjuk Cristhoper, ia hanya menggelengkan kepala. Ternyata selama di asrama banyak hal yang ia lewatkan. Mia memilih duduk di samping sang adik, dan ikut mendengar lagu dangdut koplonya Pak Tarjo.
Sedangkan Jack sedang asik menonton siaran ulang chanel tv lokal. Lambang ikan terbang itu entah mengapa menjadi chanel kegemarannya semenjak sering menungu jadwal meeting di kantor. Saat itu ia iseng menonton opera sabun yang menyayat hati, ratapan suami sayang istri judulnya. Tidak heran jika sikapnya menjadi penuh drama, pengaruh acara itu terbawa hingga ke dunia nyata. Sepertinya Maya harus mencabut antena di kantor, tidak... mungkin lebih baik jika ia berlangganan tv kabel yang menayangkan acara anak-anak saja. (Ada-ada aja kelakuan Daddy ini, 🙈)
🌷🌷🌷
12 jam berlalu, kini keluarga Jack Adinata telah sampai Jakarta. Namun gadis itu tidak langsung menghubungi sang pacar, Mia lebih memilih memberi kejutan dengan kedatangannya langsung ke rumah Angga. Namun, saat ingin berangkat kesana Jack menahannya.
"Kalian akan menikah minggu ini, tidak perlu ketemu dulu," larang Jack.
"Tapi, Daddy..."
"Nanti Daddy kabarin dia, kalian ketemunya saat prosesi acara saja." Pungkas Jack.
Mia merengut, ia tidak bisa membantah jika itu sudah keputusan sang Daddy. Dengan berat hati Mia menurut dan memilih memberikan pesan lewat WhatsApp.
[Om, aku udah sampai rumah. Maaf ngabarinnya telat, hp ku lowbath.]
[Sayang kenapa baru bilang?]
__ADS_1
Selang beberapa detik panggilan video call masuk ke ponsel Mia, saat ingin menjawabnya Jack mengambil ponsel itu. Kini wajah Jack lah yang terpampang jelas di layar hingga mengagetkan Angga yang melihatnya.
"Jack, aku ingin melihat calon istriku!"
"Nanti saja, saat acara!"
"Jangan begitu donk Jack, aku kangen neh sama Mia."
"Tahan kangennya sampe hari minggu, dia harus istirahat. Ok!"
Jack menutup panggilan sepihak membuat Angga mengumpat pada sang calon mertua. "Jack, jangan ditutup. Ah, shit!"
Angga kembali menghubungi Mia namun ponselnya tidak aktif, ah... dasar Jack posesif. Pria itu uring-uringan sambil mondar-mandir, rasa kesalnya berkumpul di kepala hingga rasanya ingin pecah.
"Kalo bukan calon mertua, udah aku santet online kamu Jack!" gerutunya.
"Angga, kamu kok ngomong begitu?" tegur Nyonya Anggun pada anaknya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri melihat keadaan. "Kalo sampe di dengar calon mertuamu itu, bisa dicabut restunya. Kamu mau?"
"Ng-nggak lha Ma, maafin Angga." Angga menghempas tubuh pada sofa, menghela nafas lelah.
"Semangat donk! Sabar sedikit ya sayang," Nyonya Anggun mengusap kepala sang putera. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak pernah melakukan kontak fisik sedekat ini. Mereka banyak bersitegang belakangan karena dirinya yang memaksa Angga untuk menerima Hani.
Angga menaruh kepalanya di pangkuan sang Mama, rasanya nyaman sekali seperti saat ia memeluk gadisnya. Hanya ketenangan yang ia dapat pada kedua wanita itu.
"Aku sayang Mama..." ucapnya lirih hingga membuat Nyonya Anggun menitikkan air mata haru.
"Mama juga sayang sekali sama kamu, berbahagialah puteraku. Awal kehidupan barumu akan dimulai, jadilah suami dan ayah yang bertanggung jawab nanti. Lebih bersabarlah karena istrimu masih muda. Jangan jadikan ego sebagai tumpuan ketika mengambil keputusan. Mama rasa kamu mengerti itu semua," Nyonya Anggun memberi petuah yang diangguki Angga.
"Iya Ma, tegur aku jika aku salah. Karena aku manusia biasa yang tidak lepas dari khilaf," ucapnya sambil memejamkan mata.
Angga menikmati kebersamaannya dengan sang Mama hingga ia tertidur pulas. Nyonya Anggun tersenyum melihat puteranya yang sebentar lagi menikah.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1